[ Contoh ] Analisis Dampak Media Sosial Terhadap kasus SARA di Indonesia - Dunia Public Relations

Terbaru

Monday, November 5, 2018

[ Contoh ] Analisis Dampak Media Sosial Terhadap kasus SARA di Indonesia

[ CONTOH ] ANALISIS DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP

Berikut ini adalah sebuah Analisis tentang Dampak Media Sosial Terhadap Kasus SARA di Indonesia yang dikirim oleh Nabiilah Syafira Aziz. Semoga dapat menjadi refrensi teman - teman semua dalam mengerjakan tugas kuliah terutama mata kuliah Komunikasi Antar Budaya



KASUS I : Pelaporan Ahok atas Tuduhan Penistaan Agama

A. Latar Belakang Masalah

Masalah ini bermula saat Ahok melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada Selasa (27/9/2016). Saat berpidato di hadapan warga, Ahok menyatakan tidak memaksa untuk memilih dirinya pada pilkada 2017. Pernyataan itu disertai kutipan surat Al Maidah ayat 51 yang menuai reaksi publik. Pada Kamis (6/10/2016), video Ahok yang menyebut surat Al Maidah ayat 51 itu viral di media sosial lewat jejaring facebook milik Buni Yani. Video ini lantas memicu kemarahan sebagian besar umat Islam.

Pada 7 Oktober 2016, Ahok dilaporkan oleh Habib Novel Chaidir Hasan yang berprofesi sebagai alim ulama, sebagaimana laporan polisi nomor LP/1010/X/2016 Bareskrim. Ahok dilaporkan karena diduga melakukan tindak pidana penghinaan agama. Setelah menjadi sorotan, pada Senin (10/10/16), Ahok meminta maaf atas pernyataanya tersebut. Ahok menyatakan tidak bermaksud menyinggung umat Islam. Nyatanya pernyataan Ahok terkait dugaan penistaan agama masih memantik reaksi, demonstrasi pun pecah di depan balai kota DKI Jakarta pada Jumat (14/10/16).

Ahok pun mendatangi Bareskrim Mabes Polri pada Senin (24/10/16) untuk memberikan klarifikasi terkait pernyataannya di Kepulauan Seribu. Namun kekecewaannya publik atas atas dugaan penistaan agama tersebut nyatanya tidak terbendung lagi. Lalu pada Jumat (4/11/16), massa dari berbagai daerah memadati sejumlah titik di jantung ibukota termasuk di kawasan ring 1 Istana Negara.

B. Analisa Masalah

1. Penyebab Ahok dilaporkan atas tuduhan penistaan agama 
Ahok di laporkan atas tuduhan penistaan agama karena tersebarnya video dirinya di media sosial. Pada video tersebut Ia sedang melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu. Di video tersebut Ahok berpidato di hadapan warga, dan dalam pidatonya disertai kutipan surat Al Maidah ayat 51 yang menuai reaksi publik khususnya kaum muslimin.

Inilah letak kesalahan Ahok saat itu ia berpidato ia membawa bawa agama. Bahasan soal sara, agama, dan lain sebagainya merupakan bahasan yang sensitif dan seharusnya di hindari. Karena ia adalah tokoh publik yang setiap ucapannya akan menjadi konsumsi publik.

2. Dampak dari media sosial terhadap kasus Ahok
Bebasnya menulis apa saja di media sosial seringkali di­artikan oleh sebagian pihak sebagai sarana berekspresi ‘tanpa batasan’. Terlebih, se­makin kemari, semakin masif peredaran berita bohong (hoax). Masyarakat tentu, menjadi objek paling mudah menjadi korban penggiringan opini dengan mempergunakan be­rita hoax.

Dalam kasus Ahok ini, media sosial menjadi penyebab tersadarnya masyarakat akan perkataannya yang menyangkut agama ini. Sebelum videonya tersebar di media sosial masyarakat tidak menyadari perkataan Ahok yang menyinggung agama, bahkan yang berada di lokasi pun tak menyadari. Video yang di unggah di media sosial tersebut menimbulkan berbagai opini di kalangan publik. Ada yang pro dan kontra. Terlebih lagi dengan kata kata yang memprovokasi. Publik yang pro dan kontra terhadap berita Ahok pun menjadi salih berselisih dan beradu kata.

3. Sikap masyarakat yang seharusnya terhadap berita di media sosial

Sebagai pengguna media sosial masyarakat perlu cermat, masyarakat harus berfikir ulang terlebih dahulu sebelum menyebarkan sebuah berita. Apakah berita tersebut benar atau hanya hoax belaka? Dan apakah berita tersebut akan meimbulkan kerugian bagi kita atau orang lain. Dalam menyebarkan berita pun masyarakat perlu perhatikan kata kata yang digunakan sehingga tidak menimbulkan provokasi. Karena masya­rakat kita yang majemuk, sa­ngat mudah membuat bara api gesekan sosial.

Begitu pun sebaliknya, masyarakat jangan mudah percaya pada berita di media sosial. Perlu di selidiki terlebih dahulu apakah berita itu benar atau tidak saat mendapat berita.

Baca : Paper Analisis Konflik Budaya - Krisis Identitas di Sri Lanka

KASUS II : Dugaan Penistaan Agama dalam Kasus Tanjung Balai

A. Latar Belakang Masalah

Masalah ini diawali dari adanya permintaan seorang warga Tionghoa, M (41), warga Jalan Karya Tanjung Balai yang menegur nazir masjid Al Makhsum yang berada di Jalan Karya dengan maksud supaya mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid, dimana menurut nazir bahwa hal tersebut telah diungkapkan beberapa kali.

Selanjutnya, pada Jumat (29/7/16), dilakukan mediasi di Polsek Tanjung Balai Selatan. Setibanya di Polsek itu, lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, Camat, Kepling dan Tokoh Masyarakat Setempat. Pada saat bersamaan, massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin kelompok elemen mahasiswa dan melakukan orasi. Selanjutnya, massa yang diimbau sempat membubarkan diri.

Pada pukul 22.30 WIB, massa kembali berkumpul karena diduga telah mendapat informasi melalui media sosial yang diposting oleh salah seorang warga. Massa sudah semakin banyak dan semakin emosi, selanjutnya bergerak ke Vihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Upaya pembakaran dihadang personel Polres Tanjung Balai, namun terjadi pelemparan menggunakan batu sehingga Vihara mengalami kerusakan.

Massa kemudian bergerak ke jalan lain yang terdapat sejumlah Vihara dan Kelenteng. Massa kemudian melakukan pembakaran dan pengrusakan, termasuk sejumlah mobil dan kendaraan yang berada di lokasi tersebut.

B. Analisa Masalah

1. Penyebab warga mengamuk dan merusak rumah Melianda serta tempat ibadah non muslim 
Kerusuhan dipicu ketika warga etnis Tionghoa bernama Melianda yang yang menegur nazir masjid Al Makhsum yang berada di Jalan Karya dengan maksud supaya mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid karena dinilai mengganggu aktifitas di rumahnya. Perkataan tersebut membuat warga geram dan berbondong-bondong mendatangi rumah Melianda dan parat kepolisian datang untuk meredakan situasi yang sudah tidak kondusif.

Kurangnya toleransi dalam peristiwa Tanjung Balai ini bisa dikatakan sebagai penyebab utama dari konflik antara kedua belah pihak yaitu seorag etnis Tionghoa yang pada saat ini mengkritik suara adzan di masjid yang menurutnya terlalu keras.

Hal ini juga sejalan dengan teori konflik Negosiasi Prinsip yaitu dimana konflik dimulai dari posisi-posisi yang tidak selaras. Dalam hal ini, perbedaan pandangan adalah terletak pada perempuan (Melianda) yang memandang salah satu ritual keagamaan umat islam yaitu adzan yang dianggap menggangu dan umat islam yang memandang protes yang dilayangkan oleh Melianda merupakan penistaan agama.

2. Dampak media sosial terhadap kasus di Balai Tanjung

Kemudahan dalam menggunakan media sosial kadang membuat penggunanya lupa akan batasan informasinya serta sulit memilah kebenaran dari setiap informasi yang beredar. Media sosial satu sisi bisa memberikan manfaat bagi penggunanya tapi disisi lain juga bisa menjerumuskan penggunanya ke pelanggaran hukum.

Dalam kasus dugaan penistaan agama di Tanjung Balai, dipicu karena adanya informasi yang dituliskan di media sosial yang mengatakan jika tindakan protes suara toa adzan merupakan bentuk penistaan agama dan terlebih beberapa warga menjadi provokator untuk mempengaruhi warga lainnya untuk mengamuk dan bertindak anarkis. Informasi yang belum jelas kebenarannya yang ada di media sosial langsung di lahap tanpa ditelusuri kebenarannya adalah pemicu timbulnya konflik utama dalam kasus tersebut.

4. Sikap masyarakat yang seharusnya terhadap berita di media sosial

Teknologi membuat segala hal bisa disampaikan dengan cepat ke berbagai pihak dimanapun mereka berada. Kecepatan penyebaran berita di media sosial memang tak bisa disepelekan. Bahayanya adalah ketika berita yang disampaikan belum pasti kebenarannya, tentunya hal tersebut bisa membuat kegaduhan ditengah masyarakat.

Untuk itu masyarakat di tuntut untuk lebih jeli untuk memilah berita atau situs pemberitaan dan mencari kebenaran lebih lanjut dari sebuah pemberitaan tersebut.

Sumber :
  1. tirto.id/kronologi-kasus-dugaan-penistaan-agama-b457
  2. m.erabaru.net/2016/08/02/amuk-massa-tanjungbalai-cekcok-tetangga-diprovokasi-netizen-tak-bijak/­

 Baca juga : Analisis Konflik & Pluralisme Kasus SARA Tanjung Balai

Penelusuran yang terkait dengan [ Contoh ] Analisis Dampak Media Sosial Terhadap kasus SARA di Indonesia

isu sara di indonesia
contoh isu sara di indonesia
konflik sara di indonesia 2017
isu sara adalah
contoh sara
pengertian isu sara
pengertian sara
jurnal tentang sara

 " [ Contoh ] Analisis Dampak Media Sosial Terhadap kasus SARA di Indonesia "

No comments:

Post a Comment