Makalah Perbedaan Komunikasi Budaya - Jawa-Kalimantan [ Komunikasi Antar Budaya ]

MAKALAH PERBEDAAN KOMUNIKASI BUDAYA
JAWA-KALIMANTAN [ KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA ]

High Context Vs Low Context (Konteks Tinggi dan Rendah): Dimensi penting terakhir dari komunikasi antar budaya adalah konteks. Edward T. Hall menggambarkan budaya konteks tinggi dan rendah yang cukup mendetil. Komunikasi atau pesan High Context (konteks tinggi) adalah suatu komunikasi di mana sebagian besar informasinya dalam konteks fisik atau ditanamkan dalam seseorang, sedangkan sangat sedikit informasi dalam bagian-bagian pesan yang “di­atur, eksplisit, dan disampai­kan”.

Teman yang sudah lama saling kenal sering menggunakan High Context atau pesan-pe­san implisit yang hampir tidak mungkin untuk dimengerti oleh orang luar. Situasi, se­nyuman, atau lirikan memberikan arti implisit yang tidak perlu diucapkan. Dalam situa­si atau budaya High Context, informasi merupakan gabungan dari lingkungan, konteks, situasi, dan dari petunjuk non-verbal yang memberikan arti pada pesan itu yang tidak bisa dida­patkan dalam ucapan verbal eksplisit.

Pesan Low Context (konteks rendah) hanyalah merupakan kebalikan dari pesan High Context, sebagian besar informasi disampaikan dalam bentuk kode eksplisit. Pesan-pesan Low Context harus diatur, dikomunikasikan dengan jelas, dan sangat spesifik. Tidak seperti hubungan pribadi, yang relatif termasuk sistem pesan High Context, institusi seperti pengadilan dan sistem formal seperti matematika atau bahasa komputer me­nun­tut sistem Low Context yang eksplisit karena tidak ada yang bisa diterima begitu saja.

Budaya konteks yang ditemukan di Timur, Cina, Jepang, dan Korea merupa­kan budaya-bu­daya berkonteks sangat tinggi. Bahasa merupakan sebagian dari sistem komunikasi yang paling eks­plisit, namun bahasa Cina merupakan sistem konteks tinggi yang implisit. Orang-orang dari Amerika sering mengeluh bahwa orang Jepang tidak pernah bicara langsung ke pokok permasalahan, mereka gagal dalam memahami bah­wa budaya High Context harus memberikan konteks dan latar dan membiarkan po­kok masalah itu berkembang.

Komunikasi jelas sangat berbeda dalam budaya High Context dan Low Context. Pertama, bentuk komunikasi eksplisit seperti kode-kode verbal lebih tampak dalam budaya Low Context seperti Amerika dan Eropa Utara. Orang-orang dari budaya Low Context sering dianggap terlalu cerewet, mengulang-ulang hal yang sudah jelas, dan berlebih-lebihan. Orang-orang dari bu­daya High Context mungkin dianggap tidak terus terang, tidak terbuka, dan misterius. Kedua, budaya High Context tidak menghargai komunikasi verbal seperti budaya Low Context. Orang-orang yang lebih banyak bicara dianggap lebih menarik oleh orang Amerika, tetapi orang yang ku­rang banyak bicara dianggap lebih menarik di Korea seperti suatu budaya berkonteks tinggi. Ketiga, budaya High Context lebih banyak menggunakan komunikasi non-verbal dari pada budaya-budaya Low Context. 

Budaya Low Context, dan khususnya kaum pria dalam budaya Low Context, tidak da­pat merasakan komunikasi non-verbal sebaik anggota budaya High Context. Komunikasi non-verbal memberikan konteks untuk semua komunikasi, tetapi orang-orang dari budaya High Context sangat dipengaruhi isyarat-isyarat kontekstual. Dengan demikian, ekspresi wajah, ketegangan, tindakan, kecepatan interaksi, tempat interaksi, dan pernak-pernik perilaku non-verbal lainnya dapat dirasakan dan mempunyai lebih banyak makna bagi orang-orang dari budaya konteks tinggi. Terakhir, orang-orang dari budaya High Context meng­harap­kan lebih banyak komunikasi non-verbal dibandingkan pelaku interaksi dari budaya Low Context. Orang-orang dari budaya High Context mengharapkan para komunikator untuk memahami perasaan yang tidak diungkapkan, isyarat-isyarat yang halus, dan isyarat-isyarat lingkungan yang tidak dihiraukan oleh orang-orang dari budaya Low Context.


PERBEDAAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

JAWA - KALIMANTAN

PEMBAHASAN

budaya, budaya jawa tengah, budaya jawa, makalah kebudayaan jawa, makalah komunikasi antar budaya, makalah kab

A. Dimensi Budaya Perilaku Masyarakat Jawa

Provinsi Jawa Tengah yang terletak di bagian tengah pulau Jawa beribukota di Semarang. Kalau melihat letak geografis wilayahnya, yang termasuk Kebudayaan daerah di provinsi ini adalah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ada anggapan kalau Jawa Tengah sebagai “jantung” dari kebudayaan Jawa dan menjadi kekayaan budaya Indonesia yang perlu di lestarikan dan di kembangkan. Penduduk mayoritas provinsi di Jawa Tengah adalah dari Suku Jawa. Provinsi Jawa Tengah sejak lama sudah dikenal sebagai pusat budaya Jawa, karena kota Surakarta dan Yogyakarta dulu merupakan pusat istana kerajaan di pulau Jawa, dan bahkan sekarang ini juga masih berdiri. Untuk wilayah kabupaten, Jawa Tengah ada kurang lebih 29 daerah kabupaten dan tentu saja masing-masing daerah juga memiliki seni dan budaya yang menarik walaupun semua bersumber dari budaya Jawa.

Orang Jawa cenderung berkarakteristik Polychronic yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Melakukan banyak hal bersamaan
  2. Sangat mudah terganggu dan mengganggu (menginterupsi)
  3. Menganggap komitmen waktu adalah hal yang harus dicapai, jika memungkinkan
  4. High-context dan sudah memiliki informasi
  5. Berkomitmen pada orang lain dan hubungan antar individu
  6. Sering dengan mudahnya mengganti rencana
  7. Lebih memperhatikan relasi-relasi dekat (keluarga, teman, dan rekan bisnis) daripada privasi
  8. Sering dan dengan mudah meminjam dan meminjami barang
  9. Menekankan pada hubungan antar individu
  10. Punya kecenderungan kuat untuk membangun hubungan seumur hidup
Apabila kategori Space Jauh Vs Space Dekat (berkaitan dengan “keakraban dan kebebasan mengungkapkan perasaan”) dihubungkan dengan dimensi budaya masyarakat Jawa, berarti masyarakat Jawa termasuk dalam kategori Space Jauh, dimana tindakan keakraban masyarakatnya merupakan tindakan yang secara simultan mengungkapkan kehangatan, kedekatan, dan kesiapan untuk berkomunikasi. Tindakan-tindakan itu lebih menandai pendekatan daripada penghindaran dan kedekatan daripada jarak. Orang Jawa pada dasarnya adalah orang yang ramah. Akan tetapi, Orang Jawa tidak begitu mudah mengekspresikan perasaan mereka dan sangat membatasi kontak fisik. Ketika bertemu dengan seseorang, orang Jawa hanya mengangguk secara sopan atau berjabat tangan. Contoh tindakan keakraban misalnya senyum­an, sentuhan, kontak mata, jarak yang de­kat, dan animasi suara.

Secara umum, masyarakat di Indonesia sangat erat hubungannya dengan high context yang sebenarnya dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya masyarakat Jawa yang dipengaruhi oleh budaya sopan santun dalam berbicara dan berusaha menjaga sikap dalam bergaul menjadi aspek penting dalam terciptanya high context (pesan disampaikan secara implicit).

High context dapat dijelaskan sebagai konteks berbicara atau penyampaian maksud dan tujuan yang disampaikan melalui pesan kepada seseorang atau sekelompok orang melalui serangkaian pemahaman tersendiri melalui proses internalisasi pesan. Pada dasarnya high context dapat diwujudkan dalam pola berbicara yang basa-basi, namun terdapat juga unsur ekplisit dan perilaku non-verbal dalam penyampaian maknanya. Sedangkan low context lebih menekankan pada makna implisit atau kebalikan dari high context.

Pada dasarnya high context memang terjadi dalam suatu masyarakat yang kolektif dimana terdapat aspek lingkungan sekitarnya yang mendorong terciptanya hal tersebut dan untuk low context terjadi dalam masyarakat yang cenderung individualistik. Namun hal tersebut tidaklah mutlak seperti itu, dapat juga ditemui low context dalam masyarakat yang heterogen dan kolektif seperti di Indonesia. Sebagai contoh dalam lembaga resmi seperti di pengadilan ketika hakim bertanya kepada terdakwa atau saksi yang harus dijawab dengan kata “ya” atau “tidak” ataupun dalam sebuah keluarga dimana tidak ada batasan pola perilaku komunikasi dan cenderung terus-terang-“blak-blakan”. Jadi dapat dikatakan bahwa pola komunikasi antar personal dapat diciptakan sesuai dengan yang diinginkan walaupun terdapat norma yang mengikat dan memberikan ciri khusus terhadap pola komunikasi tersebut.

Struktur Sosial dan Nilai Masyarakat Jawa
Salah satu negara yang terkenal keramahannya adalah Indonesia, khususnya suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai “jantung” budaya Jawa. Masyarakat Jawa sangat terkenal dengan tutur bahasanya yang lembut dan penuh sopan santun. Meskipun ada sebagian yang berasal dari Jawa Timur (dikenal sebagai “Jawa pesisir”) yang dipandang kurang memenuhi syarat sebagai “orang Jawa”, namun suku Jawa tetap merupakan suku yang terkenal dengan keramahannya karena biasanya yang dipandang orang Jawa adalah orang Jawa yang bertempat tinggal di bagian te­ngah Jawa (Jawa Te­ngah – Surakarta) dan Yogjakarta (dikenal sebagai “Jawa keratonan”).

Ada begitu banyak kesamaan dalam tata nilai masya­ra­kat, di antaranya selalu menempatkan orang lain sesuai dengan usianya, kedudukan sosial/strata sosialnya, atau dengan kata lain pola hubungan yang berlaku lebih cende­rung vertikal daripada horizontal. Tiap orang relatif lebih tinggi atau lebih rendah. Dalam keluarga pun semua dalam hubu­ng­an vertikal: kakak laki-laki terhadap adik laki-laki, kakak perempuan terhadap adik pe­rem­puan. Bahkan, anak kembar pun tidak sederajat, yang lahir lebih dulu adalah ka­kaknya, dan kedudukannya lebih tinggi daripada yang lahir kemudian. Di dalam kedua masyarakat tiap orang dianggap sebagai individu yang memiliki seluruh hubung­an ma­nusia mirip dengan hubungan keluarga. Hal itu dapat dicontohkan dengan memanggil orang yang lebih tua kakek, nenek, kakak, paman, atau bibi, dan mereka memanggil orang yang lebih muda adik.

Di samping itu, masyarakat Jawa sangat mementingkan kekeluargaan. Walaupun dalam keadaaan tidak mampu, mereka tidak dapat melupakan rasa bakti me­re­ka terhadap orang tua. Baik di saat orang tua hidup maupun ketika sudah meninggal. Begitu dekatnya hubungan ke­kerabatan sampai ada peribahasa Jawa yang menyatakan mangan ora mangan ngumpul yang berarti susah senang ditanggung bersama. Yang dipentingkan di sini adalah rasa kebersa­maan dalam menghadapi segala persoalan hidup.

Namun demikian, ada ketidak-kesamaan nilai-nilai yang sekarang dipandang tidak meng­­hargai harkat perempuan, yaitu hubungan keluarga pada masyarakat Jawa lebih berarti daripada hu­bungan suami istri. Dapat dikatakan bahwa suami lebih mendengar perkataan ibunya daripada istri­nya sendiri. Bahkan ada peribahasa yang khusus menyatakan hal tersebut adalah darah lebih kental daripada air. Jadi, untuk masyarakat Jawa, istri masih dianggap sebagai orang lain. Begitupun masyarakat Jawa menganggap istri hanya sebagai “kanca wingking” atau teman bela­kang.

Identifikasi Kelompok Budaya
Kategori masyarakat konteks budaya tinggi/high context adalah suatu golongan masyarakat yang memiliki suatu tingkat kompleksitas nilai dan budaya tinggi. Hal ini dapat dilihat dari rumitnya hubungan antar anggota di dalamnya sebab masing-masing anggota itu berlaku nilai budaya dan pranata yang menjadi ciri khas konteks masyarakat tersebut. Sebaliknya kategori masyarakat dengan konteks budaya rendah lebih memiliki kebebasan dalam berhubungan antar anggotanya. Nilai-nilai yang berlaku pada konteks budaya rendah/low context tidak serumit pada masyarakat konteks budaya tinggi/high context.

Bila melihat dari defiinisi kedua kelompok budaya tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa Pesisiran (Surabaya, Madura, Cirebon) cenderung tergolong dalam masyarakat dengan konteks budaya rendah/low context. Sikap ekspresif mereka dapat menjadi sebuah bukti yang kuat dalam hal ini. Sikap ekspresif menunjukkan adanya kebebasan dalam berpendapat antar anggotanya. Hal ini tidak dimiliki oleh masyarakat Jawa kratonan.

Pada masyarakat Jawa Kratonan, berlaku suatu pranata dalam hubungan antar anggotanya, misalnya adanya tingkatan bahasa dalam pergaulan dari “ngoko” (bahasa kasar) hingga “krama inggil” (bahasa halus) yang harus dapat diaplikasikan pada kehidupan dan interaksi dengan orang lain. Jawa kratonan juga sangat menjunjung tinggi tingkatan sosial. Seorang yang memiliki status sosial lebih tinggi harus lebih dihormati, dan sikap yang digunakan dalam berhubunganpun akan berbeda dengan bila berhubungan dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, oleh karena kompleksitas nilai yang dimiliki masyarakat Jawa kratonan, maka kelompok ini tergolong dalam masyarakat dengan konteks budaya tinggi/high context.

Perbedaan Nilai, Sikap dan Pranata Komunikasi

Masyarakat konteks budaya tinggi/high context dan masyarakat konteks budaya rendah/low context memiliki perbedaan-perbedaan nilai, sikap dan pranata komunikasi. Nilai yang dianut masyarakat berkonteks tinggi/high context masih sangat menjaga tradisi-tradisi mereka, dan perubahan yang terjadi sangat lamban, berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat berkonteks budaya rendah/low context. Mereka tidak terlalu menjaga budaya dan membuka diri pada modernisasi, sehingga perubahan yang terjadi sangat cepat. Contoh yang terjadi pada masyarakat Jawa kratonan sebagai masyarakat berkonteks budaya tinggi/high context adalah masih dijunjungnya budaya-budaya tradisi mereka dan mereka masih menjaga hampir seluruh peninggalan nenek moyang. Perubahan yang terjadi hanya mampu mengakibatkan perbauran budaya tanpa meninggalkan budaya asli mereka. Sementara pada masyarakat Jawa pesisiran, mereka membuka diri pada modernisasi. Sebagai bukti, masuknya agama Islam menghilangkan kebudayaan asli mereka. Perpaduan budaya yang terjadi lebih banyak unsur Islamnya daripada unsur tradisi nenek moyang mereka. Dalam hal sikap, masyarakat dengan konteks budaya tinggi/high context tidak begitu ekspresif, dan masyarakat dari golongan ini menjunjung sikap kolektifis, contohnya pada masyarakat Jawa kratonan, mereka masih bersikap “ewuh-pekiwuh” maksudnya mereka masih merasa sungkan untuk bersikap secara langsung atau mempunyai tenggang-rasa yang tinggi untuk menjaga perasaan orang lain, akibatnya sering tidak ada ketegasan antar masyarakatnya dan terkesan lembek. Masyarakat ini juga masih membudayakan kerjasama dan dialog antar masyarakat dalam setiap hubungan yang terjadi.

Sedangkan masyarakat berkonteks budaya rendah/low context jauh lebih terbuka dalam bersikap, spontan, ekspresif, dan lebih banyak melakukan aksi dan emosi daripada sekedar kata-kata. Contoh nyata dalam kehidupan masyarakat Jawa pesisiran adalah bahasa-bahasa yang mereka pakai. Seringkali terdengar kasar, tapi itu adalah ungkapan kejujuran mereka dalam bersikap, dan mengeluarkan perasaan mereka.

Pranata komunikasi antara kedua konteks budaya juga berbeda. Pada masyarakat berkonteks budaya tinggi/high context, ada tingkatan penghormatan dalam berkomunikasi untuk masing-masing anggota masyarakatnya, misalnya dalam budaya Jawa kratonan, ada peraturan adat untuk menggunakan bahasa jawa karma (kromo inggil) kepada orang yang lebih tua atau yang memiliki strata sosial lebih tinggi, dan menggunakan bahasa ngoko untuk orang yang lebih muda atau yang berstrata sosial lebih rendah. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat berkonteks budaya rendah/low context, mereka bebas untuk berbahasa dan menyampaikan pendapat tanpa harus melakukan “unggah-ungguh” (basa-basi/sopan-santun) yang rumit. Misalnya dalam masyarakat Jawa pesisiran, mereka bebas berkomunikasi kepada siapapun meskipun terdengar kurang sopan bagi masyarakat berkonteks budaya tinggi/high context.

Sebenarnya high context dan low context sulit dibedakan, hal ini dikarenakan adanya unsur pemahaman yang subjektif dimana terpengaruh oleh suatu unsur budaya yang memberi ciri serta kebiasaan yang mempengaruhi dalam pola komunikasi seseorang. Misalnya pada masyarakat Jawa sendiri yang harus berbelit-belit dalam penyampaian pesan atau maksud, dapat dikategorikan sebagai high context. Contohnya sebagai berikut: Salah satu nilai budaya yang nampak sekali ciri khasnya sebagai orang Jawa adalah kode-kode sapaan sangat diperlukan ketika berjumpa dengan orang lain untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial dan budaya antar anggota masyarakat. Orang Jawa bahkan mengukur sikap budaya perilakunya bahkan sopan santun dari bagaimana seseorang menyapa orang lain. Ucapan ”mampir rumiyin” (mampir dulu) barangkali diucapkan dengan makna yang sama sekali berbeda dengan ungkapan tersebut, karena sebenarnya orang tersebut hanya bermaksud untuk menyapa secara basa-basi mengemukakan maksudnya. Namun itu harus diucapkan untuk menunjukkan sikap keramahan orang Jawa yang harus dipelihara.

Bentuk perilaku non-verbal yang terdapat antara masyarakat Jawa antara lain:
  1. Orang Jawa menganggap kontak mata sebagai tantang­an dan tidak boleh dilakukan kepada orang yang dihormati atau lebih tua.
  2. Orang Jawa untuk menunjukkan sesuatu dengan sopan (menunjukkan sesuatu kepada orang yang lebih tua) menggunakan ibu jari, juga untuk mempersilahkan orang lain masuk ruangan
  3. Orang Jawa menunjukkan rasa hormat pada orang yang lebih tua dengan sedikit membungkukkan punggung ketika berjalan melewati orang yang lebih tua.

B. Dimensi Budaya Perilaku Masyarakat Kalimantan


budaya kalimantan, komunikasi antar budaya, makalah kab,makalah komunikasi antar budaya, makalah budaya kalimantan
 
Dimensi budaya orang Kalimantan cenderung pada karakteristik monochronick dan low contoct. Secara umum ciri-ciri Monochronic sebagai berikut:
  1. Melakukan satu hal dalam satu waktu
  2. Berkonsentrasi pada pekerjaan
  3. Memperhatikan komitmen waktu (deadline, jadwal) dengan sangat serius
  4. Low-context dan butuh informasi
  5. Berkomitmen pada pekerjaan
  6. Sangat teguh dalam rencana
  7. Tidak suka mengganggu orang lain; mengikuti aturan privasi dan pertimbangan
  8. Menunjukkan respek tinggi terhadap barang milik pribadi, jarang meminjam atau meminjami
  9. Menekankan pada ketetapan waktu
  10. Terbiasa pada hubungan jangka pendek
Budaya perilaku masyarakat Kalimantan bertipe low context cenderung kepada individualitas dan professionalitas, sehingga setiap orang akan sibuk fokus kepada tujuannya dan dalam dimensi berpikir, low context akan cenderung terkotak-kotak dalam memilah suatu masalah sehingga tidak ada ruang bagi masalah lain untuk mempengaruhi masalah yang lain. Adapun ciri-ciri budaya low context adalah:
  1. Decision making cepat, fokus, dan effisien, bahkan cenderung tidak memikirkan perasaan orang lain, karena penganut budaya ini terbiasa berkata apa adanya
  2. Problem solving juga fokus kepada subtansi dan focuss serta tidak keluar kemana-mana
  3. Negosiasi cepat asalkan ada bukti dan keterangan tertulis yang kuat
  4. Professional dan tidak mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan
  5. Atasan dengan bawahan terbuka dan tidak ada sapaan kehormatan seperti Mr/Mrs kepada atasan
Hal ini disebabkan karena Kalimantan Barat terletak pada koordinat 3º 20′ LS – 2º 30′ LU 107º 40′ – 114º 30′ BT dihuni oleh Penduduk Asli Dayak dan kaum pendatang lainnya dari Sumatra dan kaum urban dari Tiongkok dan daerah di Indonesia lainnya. Suku bangsa yang dominan besar yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%.

Dari berbagai suku ini tentunya masing-masing memiliki adat istiadat yang berbeda-beda sehingga masing-masing suku mempunyai cara pandang kehidupan yang berbeda pula dalam aspek sosial budaya. Dalam hal ini, sosial dapat berarti kemasyarakatan sedangkan budaya dapat berarti cara hidup yang dianut dalam masyarakat. Kalimantan Barat dapat dikatakan sebagai daerah yang memiliki masyarakat yang majemuk karena masyarakatnya yang multikultural.

Pada dasarnya suatu masyarakat dikatakan multikultural jika dalam masyarakat tersebut memiliki keanekaragaman dan perbedaan. Keragaman dan perbedaan yang dimaksud antara lain, keragaman struktur budaya yang berakar pada perbedaan standar nilai yang berbeda-beda, keragaman ras, suku, dan agama, keragaman ciri-ciri fisik seperti warna kulit, rambut, raut muka, postur tubuh, dan lain-lain, serta keragaman kelompok sosial dalam masyarakat. Sehingga masyarakat multikultural dapat dikatakan sebagai pola hidup dalam bermasyarakat yang menempati suatu wilayah yang terdiri atas orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan.

Pada hakikatnya masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur sosial dan budaya yang berbeda-beda. Dalam hal ini masyarakat multikultural tidak bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antar individu di masyarakat berusaha untuk toleransi dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap etnisitas sosial dan budayanya.

Namun kemajemukan masyarakat yang multikultural ini sangat mungkin terjadinya konflik vertikal dan horizontal yang dapat menghancurkan masyarakat tersebut. Konflik vertical dapat berarti hubungan interaksi antara suatu kelas sosial yang berbeda tingkatan akibat adanya pertentangan kepentingan ataupun kelompok sosial yang berbeda di satu pihak dengan satu kelompok di pihak lainnya. Sedangkan konflik horizontal berarti hubungan interaksi antar kelas sosial yang secara sengaja menciptakan konflik sebagai kamuflase atau cara untuk mendukung terwujudnya tujuan atau kondisi yang dikehendaki oleh beberapa pihak tertentu.

Kemajemukan masyarakat yang terjadi di Kalimantan Barat tanpa disertai rasa toleransi dan saling menghargai antar sesama masyarakat tentunya akan menimbulkan bahaya laten yang sewaktu – waktu dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat. Satu diantara berbagai potensi penyebab bahaya laten yang terjadi di Kalimantan Barat yaitu perbedaan sosial budaya dalam masyarakat. Berbedanya cara interaksi sosial, cara pemahaman atas suatu kebudayaan masyarakat yang di sebabkan berbeda-bedanya budaya dan tingkatan pendidikan dalam masyarakat yang menyebabkan masyarakat itu sendiri susah untuk saling memahami perbedaan itu sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Kalimantan Barat, maka kita harus melihat bagaimana kehidupan sosial dan budaya penduduk asli Kalimantan Barat, yaitu suku Dayak dan Melayu. Ada pepatah suku Dayak di Kalimantan Barat berbunyi “Tamu diberi makan, Melayu diberi beras”. Itu artinya masyarakat Dayak sangat menghargai perbedaan sehingga jika sesama Dayak yang bertamu diberi makanan yang sama dengannya, jika Melayu (identik Islam) yang bertamu akan diberi beras supaya masak sendiri dan nanti dimakan bersama. Ada juga pepatah suku Melayu di Kalimantan Barat berbunyi “Awak datang Kame’ sambot” yang artinya siapapun yang datang untuk bertamu ataupun menetap di daerah warga Melayu akan di sambut baik oleh seluruh warga. Mungkin pepatah ini dapat sedikit menggambarkan keramahan penduduk asli Kalimantan Barat dalam penyambutan mereka terhadap orang yang akan bertamu maupun menetap di daerah mereka. Namun, terkadang ada sebagian dari para penduduk pendatang sering menyalah-artikan keramah tamahan dari para penduduk asli.

Kondisi sosial budaya yang berbeda-beda ini memang sangat riskan akan timbulnya suatu konflik dalam masyarakat. Di daerah Kalimantan Barat sudah sering terjadi konflik vertikal maupun horizontal baik berskala besar ataupun berskala kecil. Maka pemerintah perlu mengutamakan kebijakan transmigrasi dengan pola Transmigrasi Sisipan, dari pada pola Transmigrasi Mengelompok. Karena Transmigrasi Sisipan terbukti lebih baik saat di terapkan di beberapa daerah, warga transmigrasi sisipan dapat lebih cepat berinteraksi dengan penduduk tujuan transmigrasi. Pola transmigrasi mengelompok dapat menyebabkan perasaan pengkhususan diri dari kelompok transmigran tersebut di karenakan mereka tinggal secara satu kelompok daerah asal sehingga pola hubungan sosial, budaya, dan bahasa yang digunakan masih membawa asal daerah mereka. Sehingga interaksi sosial antara warga transmigran dan penduduk asli dapat terhambat dan sering menyebabkan diskomunikasi yang akan menyebabkan konflik.

Selain permasalahan transmigrasi, keadilan sosial juga perlu lebih diutamakan. Karena masyarakat sering merasa iri terhadap pelayanan sosial lebih baik yang diberikan kepada kelompok tertentu. Diharapkan Pemerintah membangun pendidikan masyarakat Kalimantan Barat baik masyarakat asli maupun pendatang lebih ditingkatkan, agar masyarakat dapat saling memahami kebudayaan dan adat isitiadat masing-masing kelompok sehingga dapat memperlancar interaksi sosial agar dapat mencegah timbulnya benih-benih konflik dan membuat Bumi Khatulistiwa menjadi daerah yang aman dan tentram bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat.

Karakteristik monochronick, low contact dan butuh informasi pada dimensi budaya orang Kalimantan, juga bisa ditinjau dari perspektif kondisi geografis wilayah Kalimantan Barat yang terletak di daerah perbatasan antara perbatasan Malaysia dan Indonesia, mengakibatkan masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya lebih cepat mendapat informasi tentang Negara Malaysia daripada Indonesia. Sehingga dengan sendirinya terbangun pola pikir dan karakteristik budaya adat masyarakat perbatasan Kalimantan Barat jauh dari informasi tentang negaranya sendiri, sebagai contoh masyarakat Kalimantan lebih familiar lagu Malaysia daripada lagu dangdut (Indonesia). Hal ini bisa diartikan bahwa masyarakat perbatasan Kalimantan yang berkarakteristik monochronick dan low contoct pada akhirnya mengakibatkan mengalami krisis semangat nasionalisme.

Contoh lainnya, yang membuktikan bahwa masyarakat perbatasan Kalimantan Barat menganut karakteristik monochronick yang low contoct dan butuh informasi antara lain masih minim mengenal IT (Informasi Tekhnologi) misalnya masyarakat perbatasan lebih mudah memperoleh channel TV siaran Malaysia dibandingkan dengan memperoleh channel TV siaran Indonesia.

Demikian pula pada contoh dalam hal baris-berbaris, misalnya di Indonesia ada perintah ”jalan ditempat”, sedangkan di perbatasan Kalimantan Barat lebih mengenal dengan istilah ”hentak-hentak bumi” dengan cara jalan di tempat. Contah lain, jika di Indonesia kita lebih mengenal ”Rumah Sakit Bersalin”, tetapi di daerah perbatasan Kalimantan lebih dekat dengan istilah ”Rumah Sakit Korban laki-laki”.


PENUTUP

Unsur budaya dan ciri budaya sangat mempengaruhi pola komunikasi seseorang dimana seseorang dapat dikatakan cermin dari salah satu budaya. Dalam high context dan low context pada umumnya dapat dijumpai dalam masyarakat kolektif maupun individual, namun konteks yang diciptakan tersebut dapat berasal dari suatu interaksi khusus yang dibangun atas dasar pola perilaku individu terhadap individu lain. Budaya perilaku masyarakat Jawa Tengah dan Kalimantan yang bertipe high context tetap mempunyai unsur low context yang dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari. Fokus terpenting dalam komunikasi antar budaya adalah bagaimana cara seseorang mengidentifikasi penghalang/hambatan dan beradaptasi dengan budaya yang lain sehingga muncul sebuah komunikasi yang ideal didalamnya.

Searches related to Makalah Perbedaan Komunikasi Budaya

makalah komunikasi antar budaya pdf
makalah komunikasi antar budaya dalam kehidupan sehari-hari
makalah komunikasi antar budaya dalam bisnis
materi komunikasi antar budaya
makalah komunikasi antar budaya dalam organisasi
latar belakang komunikasi antar budaya
makala komunikasi antar budaya
makalah lintas budaya

" Makalah Perbedaan Komunikasi Budaya - Jawa-Kalimantan [ Komunikasi Antar Budaya ] "