Contoh Riset Public Relations - Peran Humas PDAM Depok Dalam Pelayanan - Dunia Public Relations

Terbaru

Thursday, March 29, 2018

Contoh Riset Public Relations - Peran Humas PDAM Depok Dalam Pelayanan

 CONTOH RISET PUBLIC RELATIONS
PERAN HUMAS PDAM DEPOK DALAM PELAYANAN

Riset Humas - Adalah salah satu cara penelitian yang dilakukan oleh praktisi Humas didalam suatu perusahaan terkait komunikasi perusahaan dengan publiknya baik itu internal maupun eksternal, Baca lebih lanjut tengan Pengertian riset Humas

Berikut ini adalah salah satu contoh hasil Riset humas yang telah digunakan untuk menuntaskan tugas mata kuliah Riset Humas, silahkan gunakan sebagai refrensi.

Jika ingin download contoh riset ini dalam file Microsoft Word bisa kamu ikuti link dibwah ini :
Download contoh hasil riset humas PDAM Tirta Asasta dalam memberikan Pelayanan


PERAN HUMAS DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN

KEPADA PELANGGAN DI PERUSAHAAN AIR MINUM (PDAM)

TIRTA ASASTA KOTA DEPOK



riset humas,rist public relations,contoh riset humas,riset di pdam,riset humas pdam,strtegi humas pdam depok



DI SUSUN OLEH :

Pancratia Matahari Poetri     41150072
Fauzi Setyaditama                41150082
Alvan Hidayat                       41150157
Tegar Trisna Bimbiana          41150097
Anindya Nur Alifa                41150198
Fadhil Ramadhan Wiriandi   41150108



PROGRAM STUDY PUBLIC RELATIONS (PR)
AKADEMI KOMUNIKASI (AKOM)
BINA SARANA INFORMATIKA (BSI)
DEPOK
2017 

KATA PENGANTAR   
Segala puji dan syukur dipanjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Tugas yang berjudul “ Peran Humas dalam Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok ” dapat disusun dan diselesaikan.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada:
  1. Ibu Muherni , selaku dosen mata kuliah Riset Humas
  2. Bapak M. Olik Abdul Holik. AK.,M.SI.,PFM Selaku Direktur Utama PDAM TIRTA ASASTA Kota Depok 
  3. Bapak Sudirman Selaku Manager Pemasaran PDAM TIRTA ASASTA Kota Depok. 
  4. Semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan selama penysunan tugas akhir ini.
Penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati untuk perbaikan lebih lanjut. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kalangan yang membutuhkan.

Depok, Juni 2017

Penulis      
Daftar isi :
Cover :........................................................................................................................   i
Kata Pengantar :.........................................................................................................   ii
Daftar isi :..................................................................................................................   iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang :...................................................................................................   1
1.2. Maksud dan Tujuan :............................................................................................   2
1.3. Sistematika Penulisan :.........................................................................................   3
BAB II
LANDASAN TEORI DAN PROSES KEGIATAN
2.1. Landasan Teori :...................................................................................................   4
   2.1.1 Umum :...........................................................................................................   4
   2.1.2. Studi Literature :............................................................................................   12
2.2. Tujnauan Perusahaan :.........................................................................................   19
2.3. Proses Kegiatan :.................................................................................................   20
   2.3.2. Perencanaan Kegiatan :..................................................................................   20
   2.3.3. Evaluasi :........................................................................................................   21
2.4. Kendala dan Pemecahan Masalah :......................................................................   21
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan :.........................................................................................................   24
3.2.1. Saran :.................................................................................................................   25
Daftar Pustakan :...........................................................................................................   26
Lembar asistensi :.........................................................................................................   27
Dokumentasi :...............................................................................................................   28
 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Kota Depok merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki peningkatan jumlah kepadatan penduduk. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah setempat membuat kebijakan untuk menunjang kegiatan masyarakat dalam usaha mengembangkan kota Depok dan sekitarnya yang dapat dilihat dari pembangunan pabrik, perumahan, perkantoran, serta prasarana dan saranan lainnya. Melihat kondisi ini, timbul permasalahan mengenai dampak yang diakibatkan dari adanya pembangunan daerah yaitu tercemarnya air di lingkungan masyarakat. Terjadinya pencemaran air ini dapat menggangu kegiatan masyarakat yang membutuhkan ketersediaan air bersih.

Kebutuhan akan air bersih semakin lama semakin meningkat tetapi persediaan sumber daya alam berupa air bersih dan sehat mulai berkurang di beberapa wilayah kota Depok. Air yang bersih dan sehat diperlukan untuk mendukung segala aktivitas manusia setiap harinya karena air memegang peranan penting sebagai kebutuhan keluarga, irigasi, rekreasi, dan industri. Hal ini yang membuat beberapa masyarakat berminat untuk menggunakan jasa penyedia air bersih, sehat, dan layak dikonsumsi yang dikelola oleh salah satu penyelenggara perusahaan pengelola air bersih dan sehat di wilayah kota Depok.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok yang beralamatkan di Jalan Legong Raya No. 1 Depok II Tengah merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa layanan air bersih dan sehat untuk masyarakat Depok.

Dalam rangka pelaksanaan tugas pelayanan yaitu mencukupi kebutuhan air minum masyarakat di kota Depok, PDAM TIRTA ASASTA mempunyai visi dan misi “Menjadi PDAM dengan kinerja terbaik, menghasilkan air sesuai standar kualitas air minum pada

tahun 2025” yaitu ingin meningkatkan pelayanan dan kepedulian terhadap pelanggan supaya lebih baik dari tahun ke tahun.

Bentuk pelayanan yang diberikan oleh PDAM TIRTA ASASTA kepada pelanggan air bersih dan sehat diantaranya reparasi pipa pelanggan yang bocor, menerima pengaduan pelanggan melalui layanan pengaduan dengan menghubungi nomor telepon yang tersedia, dan pelayanan pembayaran tarif rekening air yang dapat dilakukan di loket Kantor PDAM TIRTA ASASTA, dan Bank-bank yang ditunjuk. Dengan banyaknya pelanggan tersebut, PDAM TIRTA ASASTA dituntut untuk terus meningkatkan pelayanan yang baik dan berkualitas.

Memberikan pelayanan kepada pelanggan merupakan tugas sehari-hari bagian Humas di PDAM TIRTA ASASTA. Setiap hari humas mendapat kedatangan pelanggan baik yang datang langsung ke bagian humas maupun menerima pengaduan atau keluhan melalui telepon dari pelanggan. Tujuan mereka datang maupun telepon ke bagian humas mempunyai keperluan yang berbeda-beda seperti menyampaikan pengaduannya karena air tidak mengalir atau air yang tiba-tiba menjadi keruh, permintaan reparasi maupun permintaan formulir pasang baru bagi calon pelanggan.

Untuk mengetahui sejauh mana humas melaksanakan perannya dalam menangani pelayanan kepada pelanggan, penulis tertarik untuk meneliti permasalahan yang ada dengan judul “Peran Humas Dalam Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok”.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui:
  1. Sampai sejauh mana peran humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok
  2. Hambatan-hambatan yang muncul dari peran humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok

1.3 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI DAN PROSES KEGIATAN
2.1 Landasan Teori
   2.1.2. Studi Literature
2.2. Tinjauan Perusahaan
   2.3. Proses Kegiatan
2.3.1 Evaluasi

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2.1. SARAN

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PROSES KEGIATAN


2.1 Landasan Teori
 

   2.1.1 Umum
Hubungan masyarakat atau yang disingkat menjadi Humas merupakan terjemahan dari istilah Public Relations ke dalam bahasa Indonesia. Onong Uchjana Effendy (1989: 94) menyebutkan bahwa, public relations yang untuk mudahnya dapat disingkat menjadi purel atau PR mempunyai dua pengertian, yaitu:

  1. Pertama purel sebagai method of communication. Public relations dalam pengertian method of communication merupakan rangkaian atau sistem kegiatan (order or system of action), yakni kegiatan berkomunikasi secara khas.
  2. Kedua purel sebagai state of being. Public relations dalam pengertian state of being adalah perwujudan kegiatan berkomunikasi.

    Dalam pengertian sebagai metode komunikasi terdapat makna bahwa setiap pemimpin dari suatu organisasi bagaimanapun juga kecilnya dapat melaksanakan public relations, suatu kegiatan komunikasi yang khas yang mempunyai ciri-ciri dan meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
    • Komunikasi yang dilaksanankan berlangsung dua arah secara timbal balik.
    • Kegiatan yang dilakukan terdiri dari penyebaran informasi, pelaksanaan persuasi dan pengkajian opini publik.
    • Tujuan yang dicapai adalah tujuan organisasi itu sendiri.
    • Sasaran yang dituju adalah publik di dalam dan publik di luar organisasi.
    • Efek yang diharapkan adalah terjadinya hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik.
Hubungan fungsional antara public relations dengan organisasi ialah bahwa sebagai metode komunikasi, public relations mengefektifkan dan mengefisiensikan upaya pencapaian tujuan organisasi.

Apabila seorang manajer atau pemimpin organisasi melaksanakan kegiatan dengan ciri-ciri dan aspek-aspek sebagaimana dicantumkan di atas, berarti bahwa dia telah melaksanakan public relations yang sebenarnya demi kepemimpinan (leadership) dia sendiri.

Semakin besar sebuah organisasi, semakin rumit manajemennya, semakin luas ruang lingkup public relations yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin organisasi atau manajer. Jika demikian halnya, maka tugas pekerjaan yang luas dan rumit itu tidak mungkin dilaksanakan oleh top manajer sendiri. Karena ia dapat melembagakannya dalam bentuk biro, bagian atau seksi di dalam organisasinya dengan mengangkat seorang pejabat, lengkap dengan segala keperluannya untuk melaksanakan fungsi public relations tersebut.

Perwujudan kegiatan komunikasi yang dilembagakan dalam bentuk biro, bagian atau seksi sebagaimana disebutkan di atas, itulah public relations dalam pengertian state of being. Pejabat yang ditugaskan untuk memimpinnya dinamakan Public Relations Officer (PRO) yang lazim di Indonesia disebut Kepala Hubungan Masyarakat (Kahumas).

Konsep humas berkembang mengikuti perubahan dalam lingkungan dan masyarakat, bila pada mulanya hanya terjadi komunikasi dua arah kini konsep humas cenderung mengembangkan komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah dapat dilaksanakan dengan baik terutama pada masyarakat yang terbuka dengan kompetensi bebas dan dukungan khalayak secara suka reka. Komunikasi dua arah tersebut sangat efektif diterapkan dalam suatu organisasi, karena suatu ide tidak hanya muncul dari atasan tetapi dapat juga diterima dari bawahan sehinggan dapat terjalin suatu hubungan yang harmonis dalam organisasi.

Kegiatan humas menjadi bagian terpenting dalam sebuah organisasi, oleh karena itu humas juga menerapkan komunikasi dua arah. Menurut IG Ngurah Putra (1993: 4) diwujudkan secara:
  • Administratif yaitu humas administrator menjadi penanggung jawab, artinya hubungan kehumasan merupakan tanggung jawab para staf (pendukung) maupun fungsi garis (fungsi pokok) bertugas memberikan nasehat dan mengimplementasikan setiap kebijaksanaan yang akhirnya akan berpengaruh pada pandangan publik terhadap organisasi.
  • Fungsional yaitu mempekerjakan praktisi humas terlatih atau fungsional.
Penerapan konsep humas dalam berbagai organisasi secara garis besar terbagi menjadi dua seperti yang dikemukakan IG Ngurah Putra (1993: 5) yaitu:
  • Penekanan fungsi humas sebagai penyuplai informan suatu organisasi partai pada media massa, lebih menekankan fungsi bagian humas sebagai pencerita tentang organisasi kepada masyarakat.
  • Penekanan humas sebagai penasehat bagi organisasi yang diwakilinya dan ikut memasukkan dalam pemecahan berbagai persoalan yang dihadapi manajemen, lebih menekankan pada fungsi bagian humas sebagai pencari informasi (information seeking) yang digunakan untuk bahan masukan bagi manajemen dalam menjalankan suatu organisasi.
Institute of Public Relations (Linggar Anggoro M, 2005: 2) memberikan definisi tentang humas yaitu “humas adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya”.
Jadi humas adalah suatu rangkaian kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sebagai suatu program terpadu, dan semuanya itu berlangsung secara berkesinambungan dan teratur. Kegiatan humas sama sekali tidak dapat dilakukan secara sembarangan atau mendadak.

Scott M. Cutlip et al (2007:5) menyatakan tentang definisi dari public relations yaitu

Fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama, penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; public relations melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; public relations membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik; public relations membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan secara efektif, dan public relations dalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan public relations menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya.

Definisi lain mengenai public relations dikemukakan oleh Roberto Simoes (Bambang Herimanto dkk, 2007: 5) yaitu
  1. Public relations merupakan proses interaksi.
    Public relations menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak.
  2. Public relations adalah fungsi manajemen
    Public relations menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antara lembaga atau organisasi dengan publiknya, baik internal maupun eksternal.
  3. Public relations merupakan aktivitas di berbagai bidang ilmu (multidisiplin ilmu)
    Public relations menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan goodwill, kepercayaan, saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik.
  4. Public relations merupakan profesi profesional dalam bidangnya
    Public relations merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi secara tepat dan secara terus menerus.
  5. Public relations merupakan penggabungan berbagai ilmu
    Public relations merupakan penerapan kebijaksanaan dan pelaksanaannya melalui interpretasi yang peka atas berbagai peristiwa.

Sedangkan menurut J. C. Seidel (Muslimin, 2004: 2)
“Public relations adalah proses yang kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para pelanggannya, pegawainya dan publik umumnya; kedalam dengan mengadakan analisa dan perbaikan-perbaikan terhadap diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataanpernyataan”.

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik garis besarnya yaitu public relations adalah manajemen komunikasi yang dilakukan secara terencana dan bekesinambungan baik itu ke dalam maupun ke luar, antara organisasi dengan publiknya dalam rangka menciptakan saling pengertian, saling menghargai, saling mempercayai, menciptakan goodwill, memperoleh dukungan publik guna terbangunnya citra yang positif bagi suatu perusahaan melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial untuk mencapai keuntungan pada kedua belah pihak.

Menurut Rosady Ruslan (2005: 10) terdapat 4 (empat) peran utama humas yaitu:
  1. Sebagai communicator atau penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakili dengan publiknya.
  2. Membina relationship, yaitu berupaya membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya.
  3. Peranan back up management, yakni sebagai pendukung dalam fungsi manajemen organisasi atau perusahaan.
  4. Membentuk corporate image, artinya peranan public relations berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau lembaganya.
Lebih lanjut, Rosady Roslan (2005: 10-11) menjelaskan apabila dipaparkan secara rinci, tiga peran utama humas (communicator, relationship, dan back up management) tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pertama, bertindak sebagai communicator dalam kegiatan komunikasi pada organisasi perusahaan, prosesenya berlangsung dalam dua arah timbal balik (two way traffic reciprocal communication). Dalam hal ini, di satu pihak melakukan fungsi komunikasi merupakan bentuk penyampaian informasi, dilain pihak komunikasi berlangsung dalam bentuk penyampaian pesan dan menciptakan opini publik (public opinion).
     
  2. Kedua, membangun atau membina hubungan (relationship) yang positif dan baik dengan pihak publik sebagai target sasaran, yaitu publik internal dan eksternal, khususnya dalam menciptakan saling mempercayai (mutually understanding) dan saling memperoleh manfaat bersama (mutually symbiosis) antara lembaga/organisasi perusahaan dan publiknya.
     
  3. Ketiga, peranan back up management yaitu sebagai pendukung dalam fungsi manajemen organisasi atau perusahaan. Dalam ilmu manajemen menurut Currier dan Filley (Rosady Ruslan, 2005: 9), dikatakan bahwa istilah fungsi menunjukkan suatu tahap pekerjaan yang jelas dan dapat dibedakan, bahkan terpisah dari tahapan dengan pekerjaan lain. Hal tersebut sama halnya dengan fungsi public relations yang dijabarkan dalam subbab berikutnya. Sehingga fungsi public relations melekat pula dalam fungsi manajemen. 

    Untuk mencapai tujuan dari fungsi manajemen, menurut teori bahwa proses manajemen melalui tahapan yang terkenal yaitu POAC, adalah singkatan dari planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggiatan), dan controlling (pengawasan). Lalu diikuti unsur lain yang terlibat dalam proses melakukan komunikasi dua arah untuk menunjang kegiatan bagian (departemen) lainnya.
     
  4. Keempat, menciptakan citra perusahaan atau lembaga (corporate image) yang merupakan tujuan (goals) akhir dari suatu aktivitas program kerja PR campaign (kampanye PR), baik untuk keperluan publikasi maupun promosi. Peranan public relations mencakup bidang yang luas menyangkut hubungan dengan berbagai pihak dan tidak hanya sekedar berbentuk relations arti sempit, karena personal relations mempunyai peranan yang cukup besar dalam melakukan kampanye public relations.

Betrand R. Canfield (Onong Uchjana Effendy, 1989: 137) mengemukakan tiga fungsi humas sebagai berikut:
  1. Mengabdi kepada kepentingan umum.
  2. Memelihara komunikasi yang baik.
  3. Menitik-beratkan moral dan tingkah-laku yang baik.
Melihat ketiga fungsi humas tersebut dapat diketahui bahwa humas merupakan bagian yang melaksanakan pelayanan kepada semua pihak sehingga perlu menjaga keharmonisan komunikasi dengan moral dan tingkah laku yang baik di suatu organisasi atau perusahaan. Komunikasi yang dilaksanakan oleh humas merupakan komunikasi yang intens atau terus-menerus maka humas harus siap memberikan informasi maupun keterangan untuk siapa saja.

Menurut Edaward L. Bernay (Rosady Ruslan, 2012: 18) menyebutkan terdapat tiga fungsi utama humas, yaitu:
  1. Memberikan penerangan kepada masyarakat.
  2. Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung.
  3. Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.
Dari penjelasan fungsi humas tersebut terlihat bahwa humas memiliki fungsi sebagai pihak yang akan bertanggungjawab untuk meluruskan persepsi dan pendapat dari publik ke organisasi atau sebaliknya. Kegiatan ini dimaksud agar humas dapat menghindari kesalahpamahan antara kedua pihak.

Sedangkan menurut Cutlip dan Center (Rosady Ruslan, 2012: 19) fungsi public relations dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama (fungsi melekat pada manajemen lembaga/organisasi).
  2. Membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan publiknya yang merupakan khalayak sasaran.
  3. Mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan opini persepsi dan tanggapan masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya, atau sebaliknya.
  4. Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen demi tujuan dan manfaat bersama.
  5. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari badan/organisasi ke publiknya atau sebaliknya, demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.
Fungsi-fungsi humas yang disebutkan oleh Cutlip dan Center termasuk pula dalam peran humas dari pendapat Rosady Ruslan. Sehingga di dalam peran humas terdapat penjabaran fungsi-fungsi humas. Seperti sebelumnya disebutkan oleh Rosady Ruslan bahwa peran humas diantaranya memiliki tiga peran utama yaitu sebagai komunikator, membina relationship, dan sebagai back up management serta yang keempat adalah membentuk corporate image.

Frida Kusumastuti (2002: 20) menjelaskan bahwa tujuan humas adalah sebagai berikut:
  1. Terpelihara dan Terbentuknya Saling Pengertian (Aspek Kognisi)
    Tujuan humas pada akhirnya adalah membat publik dan organisasi/lembaga saling mengenal. Baik mengenal kebutuhan, kepentingan, harapan, maupun budaya masingmasing. Dengan demikian, aktivitas kehumasan harus menunjukkan adanya usaha komunikasi untuk mencapai saling kenal dan mengerti tersebut.
     
  2. Menjaga dan Membentuk Saling Percaya (Aspek Afeksi)
    Di sinilah humas menggunakan prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Dia mempersuasi publik untuk percaya kepada organisasi/lembaga, sebaliknya juga organisasi/lembaga untuk percaya kepada publiknya.
     
  3. Memelihara dan menciptakan Kerja Sama (Aspek Psikomotoris)
    Dalam contoh hubungan dengan pers (external public relations), aspek psikomotoris dapat dilihat dari usaha humas sebagai wakil organisasi/lembaga untuk senantiasa terbuka terhadap pers yang menginginkan fakta, tidak mempersulit kerja pers dalam mendapat informasi dan menghubungi sumber berita, bahkan bila mungkin humas memberi ide kepada pers (take media initiative).

Berdasarkan penjelasan tujuan humas di atas, dapat dilihat bahwa tujuan humas tersebut merupakan tujuan yang secara umum dimiliki oleh setiap organisasi atau di perusahaan. Tetapi setiap organisasi atau perusahaan dapat memiliki tujuan yang lain oleh humas yang ada di dalamnya tergantung bagaimana kedudukan humas itu sendiri

2.1.2. Studi Literature

Pengertian pelayanan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain seperti tamu atau pembeli. Menurut Kotler (1994), pelayanan adalah aktivitas atau hasil yang dapat ditawarkan oleh sebuah lembaga kepada pihak lain yang biasanya tidak kasat mata, dan hasilnya tidak dapat dimiliki oleh pihak lain tersebut. Hadipranata (1980) berpendapat bahwa, pelayanan adalah aktivitas tambahan di luar tugas pokok (job description) yang diberikan kepada konsumen-pelanggan, nasabah, dan sebagainya-serta dirasakan baik sebagai penghargaan maupun penghormatan.

Irving Smith Kogan (F. Rachmandi, 1992: 10) menjelaskan bahwa tugas dan kewajiban utama public relations adalah sebagai berikut:
  1. Menyampaikan pesan atau informasi dari perusahaan secara lisan, tertulis, atau visual kepada publiknya, sehingga masyarakat (publik) memperoleh pengertian yang benar dan tepat mengenai kondisi perusahaan, tujuan, dan kegiatan.
     
  2. Melakukan studi dan analisis atas reaksi serta tanggapan publik terhadap kebijakan dan langkah tindakan perusahaan termasuk segala macam pendapat publik yang mempengaruhi perusahaan; memberikan informasi kepada pejabat (eksekutif) tentang public acceptance atau non acceptance atas cara-cara dan pelayanan perusahaan kepada masyarakat.
     
  3. Menyampaikan fakta-fakta dan pendapat kepada para pelaksana tugas guna membantu mereka dalam memberikan pelayanan yang mengesankan dan memuaskan publik.
Tugas humas yang dijelaskan oleh Irving Smith Kogan tersebut merupakan tugas-tugas yang diterapkan oleh humas di perusahaan yang menawarkan produk barang atau jasa tertentu. Humas di perusahaan yang bergerak di bidang jasa memiliki tugas untuk memberikan pelayanan agar pelanggan tetap loyal terhadap produk yang ditawarkan karena pelanggan merupakan konsumen yang membeli produk secara berkala.

Frank Jefkins (2004: 84-86) menjelaskan terdapat beberapa jenis-jenis media humas sebagai media-media utama bagi kegiatan public relations, diantaranya:
  1. Media pres (press)
    Media ini terdiri dari berbagai macam koran yang beredar di masyarakat secara umum, baik yang berskala regional maupun nasional atau bahkan internasional; koran-koran gratis; majalah-majalah yang diterbitkan secara umum maupun hanya dalam jumlah terbatas untuk kalangan tertentu; buku-buku petunjuk khusus; buku-buku tahunan dan laporan-laporan tahunan dari berbagai lembaga yang sengaja dipublikasikan untuk umum.
     
  2. Audio-visual
    Media ini terdiri dari slide dan kaset video, atau biasa juga gulungan film-film dokumenter.
     
  3. Radio
    Kategori ini meliputi semua jenis radio, mulai dari yang berskala lokal, nasional hingga internasional, baik yang dipancarkan secara luas maupun yang dikemas secara khusus (jenis siarannya atau cakupan pendengarannya terbatas).
     
  4. Televisi
    Sama halnya dengan radio, televisi yang sering digolongkan sebagai humas tidak hanya televisi nasional atau regional tapi juga televisi internasional, termasuk pula sistem-sistem teletex seperti Prestel, Oracle,dan Ceefax, yakni perangkat yang memungkinkan pemakainya memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan melalui siaran televisi terbatas.
  5. Pameran (exhibition)
    Dalam melaksanakan suatu program atau kampanye humas, para praktisi humas juga sering memanfaatkan acara ekshibisi atau pameran. Misalnya adalah pameran perdagangan luar negeri, atau ekshibisi khusus untuk memperkenalkan produk baru, dan sebagainya.
     
  6. Bahan-bahan cetakan (printed material)
    Yakni berbagai macam bahan cetakan yang bersifat mendidik, informatif, dan menghibur yang disebarkan dalam berbagai bentuk guna mencapai tujuan humas.
  7. Penerbitan buku khusus (sponsored books)
    Isi buku ini bisa bermacam-macam, misalnya saja mengenai seluk-beluk organisasi, petunjuk lengkap mengenai penggunaan produk-produknya atau bisa juga keterangan tentang berbagai aspek yang berkenaan dengan produk atau organisasi itu sendiri.
     
  8. Surat langsung (direct mail)
    Media ini lazim pula digunakan sebagai alat penyampai pesan kehumasan. Surat humas seperti ini tidak hanya ditunjukkan kepada tokoh atau pribadi-pribadi tertentu saja, tapi juga kepada berbagai macam lembaga yang sekiranya relevan, atau untuk dipajang di tempat umum.
     
  9. Pesan-pesan lisan (spoken word)
    Penyampaian pesan humas tidak hanya dilakukan lewat media massa tapi juga bisa melalui komunikasi langsung atau tatap muka. Kegiatan seperti ini bisa dilangsungkan dalam berbagai kesempatan seperti dalam acara sarapan pagi bersama, di sela-sela pertemuan dinas, dalam pembicaraan telepon, atau dalam suatu seminar.
     
  10. Pemberian sponsor (sponsorship)
    Organisasi atau perusahaan bisa pula menjalankan kegiatan humasnya melalui penyediaan dana atau dukungan tertentu atas atas penyelenggaraan suatu acara seni, olahraga, ekspedisi, beasiswa universitas, sumbangan amal, dan sebagainya. Kegiatan penyediaan sponsor ini juga sering dilakukan dalam rangka melancarkan suatu iklan atau mendukung usaha-usaha pemasaran. Dalam setiap sponsor selalu terkandung elemen humas, karena di situ terdapat niat baik organisasi yang memberikannya.
     
  11. Jurnal organisasi (house journalis)
    Istilah ini memiliki bermacam-macam padanan, mulai dari “jurnal internal”, “buletin terbatas” sampai ke “koran perusahaan”. Namun semua istilah itu mengacu pada suatu bentuk terbitan dari sebuah perusahaan atau organisasi yang sengaja dibuat dalam rangka mengadakan komunikasi dengan khalayaknya. Ada dua macam jurnal, yakni

    • jurnal seratus persen bersifat internal, baik itu berupa paparan berita atau siaran berita (news letter), majalah atau koran terbatas yang hanya dibagikan kepada para pegawai, pimpinan, pemegang saham, anggota, atau para pelanggan;
    • jurnal eksternal, yakni suatu terbitan yang tidak hanya ditunjukkan kepada orang-orang dalam tapi bahkan lebih ditunjukkan kepada pihak-pihak luar mulai dari para distributor, konsumen, atau para pencipta pendapat umum. Jurnal eksternal yang sudah mapan sering dikutip oleh media massa sehingga fungsinya sebagai penyebar pesan humas menjadi lebih efektif.
  12. Ciri khas (house style) dan identitas perusahaan (corporate identity)
    Bentuknya bisa bermacam-macam, bergantung pada bentuk dan karakter organisasinya. Ciri khas organisasi atau identitas perusahaan ini sengaja diciptakan untuk mengingatkan khalayak atas keberadaan dari organisasi yang bersangkutan.
     
  13. Bentuk-bentuk media humas lainnya
    Masih banyak lagi bentuk-bentuk media humas. Seiring dengan evolusi waktu dan kemajuan teknologi, bisa dipastikan bahwa media tersebut akan semakin bervariasi di masa mendatang.
Suyetty dkk (2005: 54) menyebutkan bahwa “pelanggan yaitu orang atau instansi/lembaga yang membeli barang/jasa secara rutin atau berulang-ulang, karena barang/jasa yang dibeli mempunyai manfaat”.

Beberapa pengertian lain tentang pelanggan yang ditulis Suyetty dkk adalah sebagai berikut:
  • Pelanggan adalah pembeli atau pengguna barang/jasa kita secara lebih dari satu kali pembelian.
  • Pelanggan adalah seseorang atau lembaga yang menjalin hubungan baik dalam bidang usaha dengan pihak lain.
  • Pelanggan adalah rekan atau mitra yang telah sekian lama menjalin kerja sama usaha.
  • Pelanggan adalah bagian yang sangat penting dari lingkup bisnis atau usaha kita.
  • Pelanggan adalah orang-orang yang datang kepada kita (perusahaan atau petugas pelayanan) dengan maksud, tujuan, dan harapan tertentu untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara yang menyenangkan.
  • Pelanggan adalah raja atau tamu istimewa kita. Oleh karena itu, hubungan baik dan saling menghormati dengan pelanggan harus selalu kita bina, karena dari pelangganlah kelangsungan hidup usaha kita dapat terlaksana.
Menurut Suyetty dkk (2005: 83) kategori keluhan dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu:
  1. Keluhan mekanikal
    Keluhan mekanikal yaitu keluhan pelanggan yang berhubungan dengan tidak berfungsinya salah satu peralatan dari barang yang dibeli pelanggan.
     
  2. Keluhan akibat sikap petugas
    Biasanya keluhan tersebut disampaikan oleh pelanggan, karena sikap dari petugas pelayanan yang kurang baik atau negatif pada saat melayani pelanggan.
     
  3. Keluhan akibat pelayanan buruk
    Biasanya keluhan pelanggan karena hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan tersebut yang buruk.
     
  4. Keluhan aneh
    Keluhan yang aneh adalah keluhan pelanggan yang dimata petugas merupakan keluhan yang tidak wajar.
Masyarakat wilayah kota Depok memerlukan air bersih untuk mendukung aktivitas mereka sehari-hari, namun persedian air bersih mulai berkurang karena sumber dayanya yang terbatas. Untuk menjangkau kebutuhan air bersih tersebut, masyarakat sekitar wilayah kota Depok menggunakan jasa penyedia air bersih, sehat, dan layak konsumsi yang dikelola oleh penyelenggara perusahaan pengelola air bersih di kota Depok.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa pengelolan air bersih dan sehat. Keberadaan perusahaan ini telah lama memenuhi kebutuhan pelanggan atau konsumen yang membutuhkan ketersediaan air bersih dan sehat di beberapa wilayah kota Depok.

Untuk memenuhi segala pelayanan kebutuhan dan informasi kepada pelanggan, pihak PDAM TIRTA ASASTA mengerahkan Humas sebagai bagian yang mengatur alur informasi berbagai peraturan dari perusahaan kepada publik (masyarakat).

Humas adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.

Untuk memperoleh analisis data yang akurat, disusun beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
  1. Bagaimana peran humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan di PDAM TIRTA ASASTA Kota Depok ?
    • Peran humas sebagai komunikator
    • Peran humas dalam membina relationship (hubungan)
    • Peran humas sebagai back up management
     
  2. Apakah hambatan yang dialami humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan di PDAM TIRTA ASASTA Kota Depok ?
  3. Apakah upaya yang dilakukan humas di PDAM TIRTA ASASTA Kota Depok untuk mengatasi hambatan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan ?

2.2. Tinjauan Perusahaan

A. Sejarah
Berdasarkan Keputusan Walikota Kota Nomor : 001/002/Kpts/PDAM/Huk/2013 Lampiran : 1 (satu) berkas) tentanga Penetapan NAMA dan LAMBANG Perusahaan Daerah (PDAM) Kota Depok.

" TIRTA ASASTA " 
Tirta : " Air "

Asasta Berasal dari bahasa Sansekerta : " Sejahtera "

Maka yang dimaksud dengan Tirta Asasta adalah "Air Kesejahteraan", Hal ini menjadikan PDAM sebagai lembaga yang melalui air dapat mensejahterakan kepada rakyatnya, dengan memberi banyak manfaat dan keberkahan.

B. SIMBOL / LAMBANG

  1.  “Gelombang Air yang membentuk Daun” mempresentasikan air sebagai sumber kesejukan dan kehidupan yang tumbuh, ramah lingkungan dan alami, yang menjadikan kehidupan masyarakat terlengkapi, terayomi dan menjamin kesejahteraanya.
  2. “Warna Biru”, sebagai warna yang melambangkan kejernihan dan visi jauh ke depan. Pengertian ini dapat diterapkan pada landasan etos kerja yang bersih , jujur dan ikhlas.
  3. “Warna Biru”, sebagai warna yang melambangkan kejernihan dan visi jauh ke depan. Pengertian ini dapat diterapkan pada landasan etos kerja yang bersih , jujur dan ikhlas.


C. Visi Dan Misi
  • VISI
    Menjadi PDAM dengan kinerja terbaik, menghasilkan air sesuai standar kualitas air minum pada tahun 2025.
     
  • MISI
    - Mengutamakan pelayanan prima yang ramah, cepat dan transparan
    - Meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme SDM meliputi IPTEK dan IMTAQ
    - Meningkatkan kinerja keuangan melalui pengelolaan yang akuntabel dan transparan
    - Meningkatkan cakupan layanan

2.3. Proses Kegiatan
2.3.1 Perencanaan Kegiatan

Dalam perencanaan pelayanan PDAM TIRTA ASASTA di lakukan melalui kuisioner. Menurut Bapak Sudirman “ sekitar bnlan Maret yang lalu kami sudah melakukan kuisioner ke semua pelanggan dan kami berencana untuk masyarakat berpengahasilan rendah “ .

2.3.2. Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian ini dilaksanakan di Perusahaan Daerah Minum Air (PDAM) TIRTA ASASTA Kota Depok Jalan Legong Raya No. 1 Depok II Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2017.

2.3.3. Evaluasi

PDAM Tirta Asasta Depok berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Legong Raya No 1 Depok II Tengah. Seluruh kegiatan operasional yang bersifat non produksi dan pelayanan kepada pelanggan dilakukan di kantor pusat. Sedangkan untuk kegiatan produksi air minum dilaksanakan pada sumber-sumber air yang berada pada beberapa lokasi.

Jumlah Pegawai yang di serah terimakan jumlahnya sekitar 200 orang, sedangkan pegawai asli PDAM Tirta Asasta Depok berjumlah 50 orang. PDAM Tirta Asasta Depok tidak mengenal istilah pegawai tetap dan tidak tetap, istilah yang digunakan adalah pegawai, calon pegawai dan pegawai kontrak. Untuk Calon pegawai berjumlah 20 orang dan untuk pegawai kontrak sekitar 24 orang, sisanya pegawai tetap.

Menurut Bapak Sudirman, “ Struktur organisasi di komandani oleh 3 direksi, yatu direksi utama, direktur utmum dan direktur operasional. Selain tiga direksi PDAM ini juga di amati oleh dewan pengawas. Dewan pengawas terdiri dari tiga orang yang pertama ketuanya yang pertama yaitu yang sekarang menjabat sebagai Sekda Depok, kemudian yang kedua dari unur langgan, yang ketiga dari unsur profesional ”.

2.4. Kendala dan Pemecahan
  • Peran humas sebagai komunikasi
    “ Peran HUMAS disini maksudnya adalah pemasaran, Humas yang hubungannya dengan pelanggan dan non pelanggan, ini lebih fokus ke pemasarannya karena untuk pemasarannya sendiri yaitu Pak Sudirman dari satu lagi di komunikasi tujuannya untuk warga Depok menggunakan air bersih dari PDAM. Kegiatan yang memang kami lakukan seperti kegiatan promosi, sosialisasi, kemudian publikasi dan publisitas, biasanya disertai dengan diskusi dan tanya jawab ke masyarakat itu yang kami lakukan.

    Apabila terjadi adanya gangguan atau penghentian aliran, kami memberitahukan pelanggan melalui media ( forum pelanggan ), jadi kami akan selalu terhubung dengan pelanggan kami ”, menurut Bapak Sudirman.
     
  • Peran HUMAS dalam membina Relationship
    “ Sebagai forum pelanggan, dari segi bisnis kami bekerja sama dengan beberapa pengembang dan Developer, agar mereka menggunakan air dari PDAM ”, menurut Bapak Sudirman.
  • Peran HUMAS sebagi Backup Manajemen
    “ Kami sering memberikan informasi, informasi yang ada di perusahaan yang perlu di sampaikan kepada media akan diberikan dari bagian HUMAS. Kami sering melakuka survei dalam bentuk LDS, kuisoner dan dalam waktu dekat ini kami akan meklakukan survei MDL, yaitu masyarakat berpenghasilan rendah yang memang merupakan program pemerintah pusat dari kementerian BUPN.

    Seperti yang telah dijelaskan di atas kerja sama dengan Developer yang kami lakukan salah satunya dengan membuat MOU kerja sama dengan mereka, di dampingin oleh bagian hukum dalam hal penyajiannya, itu yang terkait dengan komunikasi realtion dan backup manajemen ”, menurut Bapak Sudirman. 

Hambatan HUMAS dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan

Menurut Bapak Sudirman, ada dua hambatan yang kami alami yaitu :
  • “ Hambatan yang ada di pemasaran yang signifikan adalah kualitas air tanah di daerah Depok itu rata – rata maih bagus, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemasaran untuk menarik masyarakat untuk menjadi pelanggan PDAM ”.
     
  • “ Image yang masih kurang bagus di masyarakat karna kan kita tahu sendiri pdam itu kadang kadang, pdam itu kan bumd, antara kabupaten yang daerah yg satu dengan daerah yg lainnya kadang tidak sama, kjadi kadang image dari luar daerah yang lain itu kebawa ke kita. Misalkan di Jakarta ada pengaliran bergilir, ini kita yg harus menjelaskan bagaimana image pdam menjadi lebih baik, karna itu hambatan kita seperti sering keruh, sering mati. 

    Itu makanya image yg kurang bagus, bagaimana kita menjadi lebuh bagus. Kemudian kita ada hambatan di bagian internal karna kita mempunyai di pemasaran dan hubungan langganan ini target pelanggan, jadi akselerasi dari pengadaan logistiknya, kemudian di pemasangannya, itu kan terkait dengan yg lain, jadi belum sepenuhnya sesuai dengan harapan kita. 

    Jadi kita mempunyai target, tapi akselerasi kurang, memang ini masalah hambatan internal pemasaran, jadi ini yg erlu di tingkatkan. Karna terkait dengan masalah masalah yg lain mas, kita menerima bahan baku namun yg melakukan pemasangannya tidak ”

BAB III

PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Hubungan masyarakat (humas) merupakan bagian yang terdapat di dalam struktur organisasi atau perusahaan. Humas diantaranya memiliki aspek dalam mewakili komunikasi antara perusahaan dengan publik, menyebarkan informasi, dan memiliki pencapaian tujuan atas perusahaan itu sendiri. Kedudukan humas di setiap perusahaan juga berbeda-beda. Kedudukan humas ada yang berada di top management, middle management, dan low management. Kedudukan humas yang berbeda tersebut akan berdampak pada peran, fungsi, dan tugas yang ada di dalamnya. Humas di PDAM Tirta Asasta Depok dilihat dari tingkatan struktur organisasinya terletak di low management, berkedudukan paling bawah (lower) di perusahaan.

Memperhatikan hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan-kesimpulan yang diajukan, dapat dikemukakan implikasi-implikasi yang timbul dari penelitian ini, yaitu informasi penelitian mengenai peran humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Peran humas tesebut terbagi menjadi tiga peran utama humas yaitu sebagai peran humas sebagai komunikator, membina relationship (hubungan), dan sebagai back up management. Selain itu dalam pelaksanaannya, humas mengalami beberapa hambatan yaitu dari petugas humas yang belum terampil, informasi yang diberikan petugas humas terbatas dan laporan pengaduan yang tertunda.

Mengetahui adanya hambatan dalam melaksanakan perannya, diharapkan humas di PDAM Tirta Asasta Depok dapat meningkatkan kualitas pelayanannya kepada pelanggan yang menggunakan jasa air bersih dan sehat dari perusahaan. Dengan demikian peran humas sebagai pihak yang berhadapan dan berurusan langsung dengan pengaduan dari pelanggan dapat memberikan pelayanan yang optimal.

3.2.2. SARAN

Setelah melaksanakan penelitian di humas PDAM Tirta Asasta Depok mengenai peran humas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan di PDAM Tirta Asasta Depok, saran yang dapat diberikan diantaranya adalah :

  1. Penyerahan laporan pengaduan pelanggan dapat ditangani lebih cepat apabila menggunakan sistem penyaluran data melalui komputer. Penyerahan laporan pengaduan dilakukan dengan cara menyalurkan data atau informasi menggunakan komputer (sistem komputer) yang dapat disambungkan langsung ke Bagian Langganan, Bagian Keuangan, Bagian Perencanaan Teknik atau Bagian Distribusi. Sehingga laporan pengaduan yang menggunakan sistem komputer tersebut dapat meminimalisir adanya laporan pengaduan pelanggan yang tertunda di humas.
     
  2. Akan lebih baik lagi jika ruang tunggu humas di PDAM Tirta Asasta Depok ditata dengan suasana menyenangkan agar pelanggan merasa tidak bosan atau jenuh ketika menunggu antrian pelanggan yang lain. Karena tidak jarang ditemui pelanggan yang datang ke humas dengan keadaan sedang emosi (marah). Ruang tunggu tersebut dapat ditambah dengan hiasan akuarium atau televisi (TV) dan air conditioning (AC).
     
  3. Pada ruang humas disediakan alat peraga untuk mencontohkan dan menjelaskan kepada calon pelanggan baru bagaimana alat-alat yang akan dipasang dari PDAM Tirta Asasta Depok.

DAFTAR PUSTAKA
  • Bambang Herimanti dkk. (2007). Public Relations Dalam Organisasi. Yogyakarta: Santusa.
  • Cutlip Scott M., et al. (2007). Effective Public Relations (terjemahan Tri Wibowo). Jakarta: Kencana.
  • Frank Jefkins (2004). Public Relations (terjemahan Haris Munandar). Jakarta: Erlangga
  • Frida Kusumastuti. (2002). Dasar-Dasar Humas. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Juhana Wijaya E. (2004). Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan. Bandung: Armico
  • Linggar Anggoro M. (2005). Teori dan Profesi Kehumasan. Jakarta: Bumi Aksara
  • Milles Matthew B dkk. (1992). Analisis Data Kualitatif (terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi). Jakarta: Universitas Indonesia .
  • Moleong Lexy J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
  • Muslimin. (2004). Hubungan Masyarakat dan Konsep Kepribadian. Malang: UMM
  • Onong Uchjana Effendy. (1989). Human Relations dan Public Relations Dalam Manajemen. Bandung: Mandar Maju.
  • Rosady Ruslan. (2005). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relation. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
  • Rosady Ruslan. (2012). Manajemen Public Relations Dan Media Komunikasi: Konsepsi Dan Aplikasi. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
  • Rachmadi F. (1992). Public Relations Antara Teori Dan Praktek. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Sugiyono. (1992). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
  • Suyetty dkk (2005). Bekerja Sama Dengan Kolega Dan Pelanggan. Jakarta: Yudhistira


LEMBAR ASISTENSI UNTUK PDAM






baca juga :


Penelusuran yang terkait dengan Contoh Riset Public Relations - Peran Humas PDAM Depok Dalam Pelayanan

peran humas dalam pelayanan prima
peran humas dalam membangun citra perusahaan
peran humas dalam pelayanan publik
strategi public relations dalam meningkatkan citra perusahaan
skripsi peran humas
skripsi peran humas dalam sosialisasi
skripsi ilmu komunikasi humas
skripsi humas kualitatif

" Contoh Riset Public Relations - Peran Humas PDAM Depok Dalam Pelayanan "

No comments:

Post a Comment