Contoh Resume CSR - KEMENSOS (Program Desaku Menanti )

CONTOH RESUME CSR
KEMENSOS (PROGRAM DESAKU MENANTI)

Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia melalui Ditjen Rehabilitasi Sosial, tepatnya Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTSKPO), melakukan upaya yang berkesinambungan guna mengentaskan gelandangan dan pengemis (Gepeng). Salah satu upaya tersebut adalah dengan memberdayakan eks gepeng melalui program Desaku Menanti.

Program “Desaku Menanti” adalah program rehabilitasi sosial gelandangan dan pengemis yang dilakukan terpadu berbasis desa dengan menekankan pengembalian mereka ke daerah asal atau re-migrasi. Program ini sangat bermanfaat bagi eks Gepeng, karena bisa meningkatkan kesejahteraan mereka dengan bantuan berupa rumah layak huni. Selain itu ada bantuan penguatan ekonomi produktif bagi peningkatan kesejahteraan.

Di Malang, program desaku menanti dimulai pada bulan November 2016, dimana Kemensos telah memberikan bantuan untuk pembangunan 40 rumah atau 20 kapel untuk 40 Kepala Keluarga (KK) bagi warga eks gepeng. Selain bantuan rumah, ditambah juga dengan sejumlah perlengkapan rumah serta dana untuk pengembangan ekonomi kreatif dengan total sebesar Rp 1,8 miliar. Bantuan stimulan ini diharapkan dapat berkelanjutan.

Program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang, khususnya Dinas Sosial agar eks gepeng bisa mendapatkan kehidupan layak sesuai dengan UUD 1945 pasal 27 ayat 2 UUD 1945, setiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, dan mengusahakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Karena itulah, selain diberikan rumah layak, mereka juga diberikan Vocational Training serta program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) atau kelompok usaha bersama yang diharapkan agar mereka memiliki sumber income sendiri. 

Usaha ekonomi produktif yang digeluti warga desaku menanti diantaranya adalah usaha membuat topeng, dari mulai gantungan kunci sampai untuk hiasan dinding. Selain itu ada spot selfie untuk pengunjung, juga disediakan kios-kios jajanan dan monumen topeng sebagai simbol desa wisata. Karena itu desaku menanti, saat ini dikenal juga dengan wisata topengnya. Wisata topeng ini sendiri diresmikan pada tanggal 14 Februari 2017.

Menurut Fuddin yang bernama lengkap Vasvahis Sofhal Sarifuddin, Pekerja Sosial Dinsos Kota Malang, yang membina warga di desaku menanti ini, merubah mental gepeng agar mau berusaha adalah tugas yang cukup berat. Bagaimana merubah mental mereka agar mau berusaha, tidak hanya hidup dengan meminta. Selain Fudin, Ada 6 (enam) orang pendamping lainnya yang bertugas menata mental, menata ekonomi, dan menata spiritual.

Bina diri dan manajemen keuangan yang lebih intens dilakukan oleh pendamping, karena selain merubah mental untuk tidak selalu mengharapkan belas kasihan orang, mereka juga perlu dilatih bagaimana mengelola keuangan yang mereka peroleh dari hasil usaha. Setiap ada pelatihan di Dinsos mereka diikutkan, hal ini guna memberdayakan mereka agar tidak kembali hidup dijalan.

Saat ini Malang sedang ramai kampung wisata, karena itu di desaku menanti ini dikembangkan juga dengan membuat kampung wisata Topeng. Wisata lain di Malang selain wisata Topeng adalah wisata Pujon Kidul, Wisata kampung warna-warni Jodipan, wisata Oro-Oro Ombo, wisata Kampung Kungkuk, dan lainnya. Karena itu dengan hadirnya kampung wisata Topeng diharapkan dapat menghidupkan juga ekonomi warga sekitar. Diantaranya dengan memberdayakan kaum pria dalam mengelola parkir dan toilet umum.

Konsep pemberdayaan di desa wisata topeng salah satunya adalah menjual bahan topeng ke pengunjung, lalu di cat sendiri oleh pengunjung. Sehingga menjadikan kampung ini juga sebagai kampung edukasi. Kedepannya untuk pemasaran akan dibuatkan galeri khusus, agar pengunjung bisa langsung melihat produk-produk yang dihasilkan desa wisata ini. Saat ini, pengunjung di hari libur bisa mencapai 200 orang, untuk pendapatan sendiri belum di hitung seluruhnya karena kampung topengnya baru terbentuk.

Untuk pengerjaan topeng yang berbahan fiber dilakukan oleh 5 (lima) orang dewasa, karena berbahan kimia, anak-anak hanya mengecat saja. Bahan catnya memakai cat mobil karena paling menempel di bahan topeng (fiber). Harga topengnya dijual paling murah 15 ribu, dan paling mahal 35 ribu. Nantinya akan dikembangkan topeng dari bahan kayu untuk memperkaya bahan yang digunakan, dan tidak tergantung pada satu bahan saja.  
 

 CSR - KEMENSOS (Program Desaku Menanti )


Baca Juga :
 

Selain topeng, warga desaku menanti juga menjual makanan yang berbahan singkong, karena Dusun Barang, Tlogowaru, Kota Malang, sebagai lokasi wisata topeng, mempunyai banyak sumber daya alam pohon singkong. Ibu-ibu di lokasi ini mengolah bahan singkong menjadi getuk, lapis, kripik, cenil, bubur dan lainnya untuk di jual di kampung topeng.

Pemda setempat melalui Dinas Sosial terus berupaya mengembangkan desa wisata ini, ada kerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Kota Malang untuk mempercepat publikasi kampung wisata ini. Komunitas yang bermitra diantaranya, Malang Struddle, Amazing Malang, Lingkar Malang dan lain-lain. Selain itu ada program CSR yang ikut membantu, yaitu dari Ikatan Akuntan Indonesia, BNI, dan BRI.

Kampung topeng ini memiliki luas tanah 5000 meter mengikuti ketentuan dari Kemensos, bahwa untuk program Desaku Menanti, minimal tanah yang disediakan oleh pemerintah daerah adalah 4800 meter. Pembangunan rumah dan fasilitas lainnya melalui swadaya warga kampung, karena tidak boleh di proyekkan, agar terbangun kerjasama dan gotong royong antar warga yang akan menempati kampung ini.

Harapannya, semoga kedepan kampung wisata topeng ini terus berkembang, baik dari sisi ekonomi maupun mental warganya. Karena memandirikan eks gelandangan dan pengemis adalah tujuan didirikannya desaku menanti (kampung topeng) - Fauzi Setyaditama


" Contoh Resume CSR - KEMENSOS (Program Desaku Menanti ) "