Sosiologi Komunikasi - Masyarakat dan Kebudayaan

SOSIOLOGI KOMUNIKASI
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN


Masyarakat dan Kebudayaan -
Menurut Selo Soemardjan, Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaa

Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan , dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Masyarakat merupakan hubungan sosial. Dan masyarakat selalu berubah.

Kebudayaan seperti dikemukakan oleh Edward B. Taylor adalah keseluruhan kompleks
keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. 

Atau secara sederhana bisa dikatakan kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat. (Horton dan Hunt,1991:58)
 

Fungsi Kebudayaan bagi masyarakat

“Kebudayaan" mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan "masyarakat".
"Masyarakat" memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya.

Kebutuhan-kebutuhan "masyarakat" tersebut sebagian besar dipenuhi oleh "kebudayaan" yang bersumber pada "masyarakat" itu sendiri

Hasil karya "masyarakat" melahirkan teknologi atau "kebudayaan" kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi "masyarakat" terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu:
  1. Alat-alat produktif.
  2. Senjata.
  3. Wadah.
  4. Makanan dan minuman.
  5. Pakaian dan perhiasan.
  6. Tempat berlindung dan perumahan.
  7. Alat-alat transport.

Karsa "masyarakat" mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan ke"masyarakat"an.
Karsa merupakan daya upaya manusia untuk melindungi diri terhadap kekuatan-kekuatan lain yang ada di dalam "masyarakat".

Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang buruk, manusia terpaksa melindungi diri dengan cara menciptakan kaidah-kaidah yang pada hakikatnya merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berlaku di dalam pergaulan hidup

"Kebudayaan" mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat menentukan sikapnya jika mereka berhubungan dengan orang lain. Setiap orang, bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri

Kebiasaan (habit) merupakan suatu perilaku pribadi yang berarti kebiasaan orang seorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain, walaupun mereka hidup dalam satu rumah. Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala bahwa seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya.

Gegar Budaya

Gegar budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke suatu daerah tertentu. Sebagaimana kebanyakan penyakit lainnya, gegar budaya juga mempunyai gejala-gejala dan pengobatan secara tersendiri.

Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambanglambang dalam pergaulan sosial.

Contoh Terjadinya Gegar Budaya

Ketika Adi lulus sekolah menengah atas (SMA), Adi memutuskan untuk melanjutkan studi ke Jawa Timur. Tujuan Adi datang ke daerah Pasuruan. Awalnya, ketika Adi datang di Pasuruan, Adi merasa asing, terutama dalam pengucapan bahasa yang mereka pakai sehari hari. Dari budaya yang Adi anut, Adi memiliki latar belakang budaya orang Jawa Tengah. Walaupun Adi memiliki latar belakang budaya Jawa Tengah, namun Adi telah lama dan menetap di Sumatera Selatan, sehingga adat kebudayaan Adi telah banyak mengikuti orang-orang asli Palembang.

Adi mampu berdialog dengan bahasa Jawa, namun bahasa yang dipakai Adi khas Jawa Tengah. Ketika sampai di daerah Pasuruan, ia merasa tidak nyaman, karena ia merasa bahwa ia merasa dikucilkan oleh rekan satu Kos-nya. Suatu ketika ada rekan satu kos Adi yang sakit, dengan dialog khas Jawa Tengah Adi bilang “nak enek konco seng sakit yo di tilik’i. (kalo ada teman yang sakit ya dijenguk)”. Berhubung yang diajak berdialog orang Jawa Timur mereka semua bingung. Yang mereka ketahui bahasa “menilik’i”(Jawa Tengah: menjenguk/melihat. Jawa Timur: mencicipi/mencoba rasa sesuatu).

Dari contoh kasus di atas, jelas bahwa dalam sebuah komunikasi antar budaya terjadi sebuah gangguan (noise). Sebenarnya apa yang hendak disampaikan benar, namun pada akhirnya bahasa yang diucapkan memiliki arti yang berbeda dari makna yang diharapkan. Hal ini tentu sangat dipengaruhi dengan adanya perbedaan antara kultur budaya pada suatu daerah tertentu.

Pada situasi yang demikian, Adi mengalami sebuah kejutan budaya. Kejutan budaya mengacu pada reaksi psikologis yang dialami seseorang karena berada di tengah suatu kultur yang sangat berbeda dengan kulturnya sendiri. Kejutan budaya ini sebenarnya normal.

Kebanyakan orang mengalami apabila memasuki kultur yang baru dan berbeda. Namun demikian, keadaan ini tidak menyenangkan dan menimbulkan fhistrasi. Sebagian dari kejutan ini timbul karena perasaan terasing menonjol dan berbeda dari yang lain. Bila kita kurang mengenal adat dan kebiasaan masyarakat baru ini, kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Kita akan cenderung melakukan kesalahan yang serius.

Menurut Dayakisni (2004:359), beberapa faktor yang menjadi pemicu gegar budaya adalah : 
  • Kehilangan cues atau tanda-tanda yang dikenalnya.
  • Putusnya komunikasi antarpribadi baik pada tingkat yang disadari maupun tak disadari yang mengarahkan pada ferustrasi dan kecemasan.
  • Krisis identitas, dengan pergi ke luar negeri seseorang akan kembali mengevaluasi gambaran tentang dirinya.

Pada tempat atau lingkungan baru, perilaku gegar budaya seseorang bisa dilihat sebagai berikut :
  1. Bagaimana minta tolong atau memberikan pujian kepada orang lain.
  2. Bagaimana menyampaikan atau menerima undangan makan malam.
  3. Seberapa dini atau terlambat datang memenuhi janji, atau berapa lama harus berada di sana.
  4. Bagaimana membedakan kesungguh-sungguhan dari sendagurau dan sopan-santun dari keacuh-takacuhan.
  5. Bagaimana berpakaian untuk situasi informal, formal, atau bisnis.
  6. Bagaimana memesan makanan di restoran atau bagaimana memanggil pelayan (DeVito, 1997:492).

Cara Mengatasi Gegar Budaya

Para pakar psikologi, mengajukan dua formula untuk mengatasi atau paling tidak mengurangi gegar budaya :
  1. Pertama, membantunya beradaptasi dengan kultur baru.
  2. Kedua, cara menghadapi gegar budaya dapat mengikuti model culture learning sebagaimana yang digagas oleh Furnham dan Bochner. Inti model ini adalah individu hanya memerlukan untuk belajar dan beradaptasi terhadap sifat-sifat pokok dari masyarakat baru sehingga adanya perubahan.
" Sosiologi Komunikasi - Masyarakat dan Kebudayaan "