Teknik Penyutradaraan dalam Pembuatan Dokumenter - Dunia Public Relations

Terbaru

Thursday, March 9, 2017

Teknik Penyutradaraan dalam Pembuatan Dokumenter

TEKNIK PENYUTRADARAAN DALAM PEMBUATAN DOKUMENTER

Teknik Sutradara - Saat mengawali kerja, sutradara dokumenter sudah harus memiliki ide dan konsep yang jelas mengenai apa yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya secara logis dan mampu memberi emosi dramatik.

Disamping itu, sutradara harus memiliki sudut pandang dan pengamatan yang kuat terhadap objek dan subjeknya, agar penafsiran atau interpretasi sutradara tidak mengubah konstruksi fakta yang ada.
Sebagai catatan: seorang sutradara harus memahami narasumber dan tim kreatif.

Artikel terkait lainya :


PERAN SUTRADARA DALAM PRODUKSI DOKUMENTER


sutradara, peran sutradara, tugas sutradara

Konsentrasi sutradara dalam membuat film dokumenter. Ada beberapa sentuhan estetika yang menjadi konsentrasi sutradara dalam membuat film doukumenter, yaitu:
  1. Pendekatan. Ada dua hal yang menjadi titik tolak pendekatan dalam dokumenter, yaitu apakah penuturannya diketengahkan secara esai, atau naratif. Keduanya memiliki cirikhas yang spesifik dan menuntut daya kreatif tinggi sutradara.
  2. Gaya. Gaya dalam dokumenter terdiri dari macammacam kreativitas, seperti gaya humoris, puitis, satire, anekdot, serius, semi serius, dan seterusnya.
  3. Bentuk. Bentuk disini lebih kepada kemasannya. Dengan bentuk yang sudah dipilih sejak awal, maka pendekatan, gaya dan struktur akan mengikuti ide dari bentuk tersebut. Contoh bentuk penuturan misalnya, perjalanan, potret, nostalgia, kontradiksi dll.
  4. Struktur. Tentu saja bukan hanya pada film fiksi, struktur pada film dokumenter juga sangat penting. Struktur dasar film memiliki tiga tahapan: bagian awal cerita (pengenalan), bagian tengah cerita (proses krisis dan konflik), dan bagian akhir cerita (klimaks/antiklimaks).
Apa yang harus dimiliki seorang sutradara untuk membuat film dokumenter ?

Menguasai teori film dan sinematografi saja tidak cukup. Seorang dokumentaris harus banyak membaca, banyak mengamati lingkungan, banyak berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, dan banyak berdikuskisi dengan kelompok-kelompok yang memiliki aktivitas sosial dan budaya.

Alasannya: setiap hari bahkan setiap jam, ada saja peristiwa yang terjadi yang merupakan pengalaman hidup manusia, yang mungkin menarik untuk dijadikan tema bagi sebuah produksi dokumenter.

Seorang dokumentaris juga harus memiliki pengetahuan umum dari berbagai disiplin ilmu, karena membuat film dokumenter berarti merepresentasikan kehidupan semua makhluk hidup: manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lingkungan alam lainnya.

Sutradara harus memiliki kejalasan visi dan maksud dari yang akan dia sampaikan dalam filmnya, di samping juga harus yakin pada yang menjadi fokus isi penuturan serta pesan yang hendak disampikan. sutradara harus memiliki tanggung jawab serta tegas dalam mengambil keputusan. Akan tetapi dia tidak harus menolak setiap pendapat rekan kerjanya. Mampu mendengarkan justru menjadi pegangan.
  • Dilapangan, sebagai pemimpin kreatif, sutradara harus mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, serta senantiasa siap dengan antisipasi sebagai strategi dalam proses produksi.
  • Perlu diingat: jangka waktu produksi dokumenter umumnya sangat lama, sementara tim produksi biasanya beranggotakan dua hingga lima orang.
Keakraban dan saling pengertian dalam tim termasuk para subjek mutlak dijaga, agar kerja produksi berjalan mulus sampai selesai.


TEKNIK-TEKNIK PENYUTRADARAAN DALAM DOKUMENTER


Penguasan teknis sinematografi bagi sutradara harus dibarengi adanya motivasi, dan itu bukan sematamata kreativitas coba-coba. Setidaknya sutradara memahami makna dan tujuan dari metode dasar ini:
  1. Gerak kamera: pan, tilt, zoom, crabs, track, dollie
  2. Kesinambungan: shot, scene, sequance, screen direction
  3. Cutaway – untuk mempersingkat waktu dan mengubah poin of View
  4. Arti setiap shot: memiliki dampak dari tipe-tipe shot pada emosi penonton
  5. Lensa: jens lensa dan tujuan penggunaan.

Melakukan wawancara ataukah adegan wawancara
Harus dibedakan antara melakukan wawancara dengan pengertian adegan wawancara. Melakukan wawancara bisa dibalik atau dibelakang kamera untuk mengumpulkan informasi. Sementara adegan wawancara bisa bermakna memerankan penggalian informasi didepan kamera.

Adegan wawancara dokumenter ini adalah adegan wawancara dengan narasumber namun tidak seperti wawancara yang dilakukan reporter berita televisi. Sutradara dan editor dituntut kemampuannya untuk mengemas wawancara agar menarik dan tidak kaku. 


Pelajari saat Riset 

Saat melakukan riset dan melakukan pendekatan terhadap subjek, sutradara harus mempelajari karakteristik subjek, termasuk bagaimana sikap subjek dalam berbicara atas kemauannya sendiri atau ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.

Ada subjek yang menjawab secara singkat, ada juga subjek yang terlalu berkepanjangan dalam menjawab. 

Semua sudah harus dipelajari saat proses pendekatan.
Sutradara sebisanya dapat mengarahkan subjek agar bisa bebas berbicara, bebas bersikap, dan bebas bertindak secara wajar.

Tips Lain
Sebelum memulai produksi, siapkanlah segala kebutuhan untuk syuting, dari mulai urusan admistrasi, membentuk tim, peralatan syuting hingga kontrak kerja. Jangan melaksanakan pekerjaan apabila kontrak atau surat ijin belum resmi.

Yang perlu diperhatikan sutradara: Kameraman dokumenter haruslah individu yang dinamis, aktif, serta mampu bergerak cepat mengikuti seubjek dan momen spontan yang berganti-ganti. Saat melakukan syuting, perhatikanlah sikap tim produksi. Maksudnya agar tidak terjadi kesalahpahaman dari masyrakat sekitar lokasi.

" Teknik Penyutradaraan dalam Pembuatan Dokumenter "

No comments:

Post a Comment