Contoh Makalah Kebudayaan Jepang - Komunikasi Antar Budaya

CONTOH MAKALAH KEBUDAYAAN JEPANG
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Budaya Jepang - Berikut ini adalah sebuah contoh makalah / Papper yang membahas Kebudayaan Jepang, lengkap mulai dari sejarah terbentuknya Jepang, Pakaian adat, Sistem Polotik dan lain-lain. makalah sudah digunakan untuk memenuhi mata kuliah Komunikasi Antar Budaya
jepang, budaya jepang, makalah budaya jepang, makalah jepang

BAB I
LATAR BELAKANG
1.1. Latar Belakang
Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Cina, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara berada di Laut Okhotsk, dan wilayah paling selatan berupa kelompok pulau-pulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga dengan Taiwan.
Jepang merupakan Negara yang di juluki Negara matahari dan Negara bunga sakura, mengapa demikian? Karena di Negara jepang mayoritas beragama Shinto yang menyembah matahari sehingga disebut Negara matahari, sedangkan julukan Negara bunga sakura di berikan karena banyak bunga sakura yang tumbuh si tanah jepang, bahkan untuk menyambut musim semi sakura orang jepang mempunyai suatu tradisi, yaitu biasa disebut perayaan hanami (perayaan melihat mekarnya bunga) sebagai symbol kebahagiaan karena datangnya musim semi, di mana di saat itu bunga sakura mekar dengan cantiknya. Di setiap budayanya mempunyai arti tersendiri. Dari zaman jomon sampai zaman hesei sekarang, orang jepan mampu melestarikan kebudayaannya sendiri

BAB II
SEJARAH TERBENTUKNYA BANGSA JEPANG

Sebelum terbentuknya bangsa Jepang seperti yang kita ketahui sekarang ini, Bangsa Jepang telah melalui beberapa tahapan sejarah seperti : Jepang pada zaman Prasejarah, Jepang pada Zaman Klasik, Jepang pada Zaman Pertengahan dan juga Jepang pada Zaman Moderen seperti sekarang ini.
2.1.  Jepang Pada Zaman Prasejarah
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Jepang telah dihuni manusia purba setidaknya 600.000 tahun yang lalu, pada masa Paleolitik Bawah. Setelah beberapa zaman es yang terjadi pada masa jutaan tahun yang lalu, Jepang beberapa kali terhubung dengan daratan Asia melalui jembatan darat (dengan Sakhalin di utara, dan kemungkinan Kyushu di selatan), sehingga memungkinkan perpindahan manusia, hewan, dan tanaman ke kepulauan Jepang dari wilayah yang kini merupakan Republik Rakyat Tiongkok dan Korea. Zaman Paleolitik Jepang menghasilkan peralatan bebatuan yang telah dipoles yang pertama di dunia, sekitar tahun 30.000 SM.
Dengan berakhirnya zaman es terakhir dan datangnya periode yang lebih hangat, kebudayaan Jomon muncul pada sekitar 11.000 SM, yang bercirikan gaya hidup pemburu-pengumpul semi-sedenter Mesolitik hingga Neolitik dan pembuatan kerajinan tembikar terawal di dunia. Diperkirakan bahwa penduduk Jomon merupakan nenek moyang suku Proto-Jepang dan suku Ainu masa kini.

2.2. Jepang Pada Zaman Klasik
Bagian sejarah Jepang meninggalkan dokumen tertulis dimulai pada abad ke-5 dan abad ke-6 Masehi, saat sistem tulisan Tionghoa, agama Buddha, dan kebudayaan Tionghoa lainnya dibawa masuk ke Jepang dari Kerajaan Baekje di Semenanjung Korea.
Perkembangan selanjutnya Buddhisme di Jepang dan seni ukir rupang sebagian besar dipengaruhi oleh Buddhisme Tiongkok. Walaupun awalnya kedatangan agama Buddha ditentang penguasa yang menganut Shinto, kalangan yang berkuasa akhirnya ikut memajukan agama Buddha di Jepang, dan menjadi agama yang populer di Jepang sejak zaman Asuka.
Melalui perintah Reformasi Taika pada tahun 645, Jepang menyusun ulang sistem pemerintahannya dengan mencontoh dari Tiongkok. Hal ini membuka jalan bagi filsafat Konfusianisme Tiongkok untuk menjadi dominan di Jepang hingga abad ke-19.

2.3. Jepang Pada Zaman Pertengahan
Abad pertengahan di Jepang merupakan zaman feodalisme yang ditandai oleh perebutan kekuasaan antarkelompok penguasa yang terdiri dari ksatria yang disebut samurai. Pada tahun 1185, setelah menghancurkan klan Taira yang merupakan klan saingan klan Minamoto, Minamoto no Yoritomo diangkat sebagai shogun, dan menjadikannya pemimpin militer yang berbagi kekuasaan dengan Kaisar. Pemerintahan militer yang didirikan Minamoto no Yoritomo disebut Keshogunan Kamakura karena pusat pemerintahan berada di Kamakura (di sebelah selatan Yokohama masa kini).
Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō membantu keshogunan sebagai shikken, yakni semacam adipati bagi para shogun. Keshogunan Kamakura berhasil menahan serangan Mongol dari wilayah Tiongkok kekuasaan Mongol pada tahun 1274 dan 1281. Meskipun secara politik terbilang stabil, Keshogunan Kamakura akhirnya digulingkan oleh Kaisar Go-Daigo yang memulihkan kekuasaan di tangan kaisar.
Kaisar Go-Daigo akhirnya digulingkan Ashikaga Takauji pada 1336. Keshogunan Ashikaga gagal membendung kekuatan penguasa militer dan tuan tanah feodal (daimyo) dan pecah perang saudara pada tahun 1467 (Perang Ōnin) yang mengawali masa satu abad yang diwarnai peperangan antarfaksi yang disebut masa negeri-negeri saling berperang atau periode Sengoku.
2.1.4. Jepang Pada Zaman Moderen
Pada 31 Maret 1854, kedatangan Komodor Matthew Perry dan "Kapal Hitam" Angkatan Laut Amerika Serikat memaksa Jepang untuk membuka diri terhadap Dunia Barat melalui Persetujuan Kanagawa. Persetujuan-persetujuan selanjutnya dengan negara-negara Barat pada masa Bakumatsu membawa Jepang ke dalam krisis ekonomi dan politik. Kalangan samurai menganggap Keshogunan Tokugawa sudah melemah, dan mengadakan pemberontakan hingga pecah Perang Boshin tahun 1867-1868. Setelah Keshogunan Tokugawa ditumbangkan, kekuasaan dikembalikan ke tangan kaisar (Restorasi Meiji) dan sistem domain dihapus. Semasa Restorasi Meiji, Jepang mengadopsi sistem politik, hukum, dan militer dari Dunia Barat.
Kabinet Jepang mengatur Dewan Penasihat Kaisar, menyusun Konstitusi Meiji, dan membentuk Parlemen Kekaisaran. Restorasi Meiji mengubah Kekaisaran Jepang menjadi negara industri modern dan sekaligus kekuatan militer dunia yang menimbulkan konflik militer ketika berusaha memperluas pengaruh teritorial di Asia. Setelah mengalahkan Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang dan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang, Jepang menguasai Taiwan, separuh dari Sakhalin, dan Korea.
Seusai Perang Dunia II, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya ekonomi gelembung.
BAB II
SISTEM KEPERCAYAAN

2.1. Agama
Agama yang pertama kali mengakar di Jepang adalah "Shinto". Orang Jepang pada saat itu mencari nafkah dengan bertani dan mencari ikan. Banyak yang menerima kebaikan dari alam dan juga menggantungkan hidup dari kemurahan alam. Dan tanpa sadar mereka jadi percaya bahwa dalam gejala alam terdapat dewa (tuhan) yang tidak terlihat, berbuat kebaikan sekaligus memusnahkan. Timbul pemikiran "Animisme" di mana dewa berdiam dalam gunung, batu karang, maupun pepohonan, percaya bahwa dewa ada di setiap benda. Gerakan ini timbul dengan sendirinya, meluas ke semua daerah di Jepang, dan dimulailah kepercayaan terhadap dewa-dewa. Karena itu, di Shinto tidak ada pendiri agama maupun kitab suci tertentu.
2.2. Kedatangan Buddha
"Shinto" yang merupakan kepercayaan khas negara Jepang, mempercayai tidak hanya satu dewa, melainkan "Delapan Juta Dewa", atau dengan kata lain, dewa di mana-mana. Di tiap daerah dibuat "Jinja" (kuil agama Shinto) tempat menyembah dewa. "Matsuri" (festival) yang merupakan ritual untuk menghormati dewa pun dilaksanakan secara besar-besaran. Bagi orang Jepang, festival sebagai kegiatan tahunan sudah merupakan suatu kebiasaan.
Agama Buddha masuk ke Jepang melalui Semenanjung Korea pada abad ke-6, tidak ada pertentangan dengan Shinto, sebaliknya malah masuk melebur. Latar belakangnya adalah penguasa menghormati kaisar sebagai keturunan dewa, sedangkan pihak Buddha memanfaatkan politik. Karena itu Buddha berada di bawah perlindungan negara dan kemudian menjadi agama yang dianut oleh banyak orang Jepang.
2.3. Pasang Surut Pengaruh Buddha
Karena hubungan Buddha dan negara erat, pemahaman yang kuat tertinggal adalah Buddha saat pertama kali bukan menolong rakyat, melainkan untuk menguasai negara. Tetapi, berawal dari penyebaran agama oleh dua orang biksu, Saicho dan Kukai, dewa dan Buddha keduanya dapat diterima tanpa halangan dalam struktur jiwa orang Jepang.
Setelah itu masuk masa kekacauan di mana kekuasaan pemerintahan bergeser dari keluarga kerajaan ke golongan bushi (militer), ditambah lagi kekacauan berulang kali, bencana alam, juga musim paceklik menghadang. Bersamaan dengan kekhawatiran masyarakat yang membesar, terkenallah kepercayaan yang menginginkan kematian dan setelahnya memasuki "Gokuraku Jodo" (tanah Buddha yang murni), surga yang akan ditemui setelah kematian. Buddha modern yang sekarang dipercaya oleh orang Jepang saat ini banyak bermunculan pada masa itu.
2.4. Kedatangan Agama Kristen & Shinto
Pada tahun 1549, Fransiskus Xaverius membawa agama Kristen ke Jepang. Saat itu kegiatan penyebaran agama mendapat toleransi, namun pada jaman Edo dilarang keras sehingga penganut agama Kristen sembunyi-sembunyi dari pemerintah. Kemudian Shinto yang sudah melebur dengan Buddha, pada jaman Meiji diperintahkan untuk memisahkan unsur ke-Buddha-an dari Jinja, ditetapkan kebijaksanaan bahwa antara Jinja dan kuil agama Buddha (otera) betul-betul dipisah dan sebutannya menjadi Kokka Shinto (agama Shinto di jinja sebelum masa peperangan yang dikelola oleh pemerintah). Kemudian agama Kristen yang mendapat tekanan kuat, pada masa yang sama diizinkan penyebarannya dan meluas di masyarakat hingga saat ini.

BAB III
SISTEM SOSIAL, EKONOMI  & LETAK GEOGRAFIS

3.1. Letak Geografis
Jepang adalah negara kepulauan di Asia Timur. Kepulauan Jepang terdiri dari pulau-pulau stratovolcano, empat pulau utama dari utara ke selatan adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Jepang berada 36°sebelah utara khatulistiwa dan 138°sebelah timur meridian utama. Jepang berada di utara timur laut Cina dan Taiwan (dipisahkan oleh Laut Cina Timur), sebelah timur Korea (dipisahkan oleh Laut Jepang), dan sebelah selatan Rusia Timur Jauh.
Selain 4 pulau utama, terdapat 3.000 pulau-pulau berukuran lebih kecil, termasuk Okinawa serta pulau-pulau kecil yang berpenghuni atau tidak berpenghuni. Pada tahun 2006, total luas wilayah Jepang adalah 377.923,1 km², di antaranya 374.834 km² adalah daratan dan 3.091 km² perairan. Sekitar 73% wilayah Jepang adalah daerah pegunungan. Total luas wilayah Jepang kira-kira 85% luas Pulau Sumatra, namun lebih besar dari luas wilayah Jerman, Malaysia, Selandia Baru, dan Britania Raya.
3.2. Sistem Perekonomian
Ekonomi pasar bebas dan terindustrisasi Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina dalam istilah paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan ke perdagangan internasional, tetapi produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.
Setelah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dari 1960-an ke 1980-an, ekonomi Jepang merosot secara drastis pada awal 1990-an, ketika "ekonomi gelembung" jatuh. Persediaan kepemimpinan industri dan teknisi, pekerja yang berpendidikan tinggi dan bekerja keras, tabungan dan invesatasi besar dan promosi intensif pengembangan industri dan perdagangan internasional telah memproduksi ekonomi industri yang matang. Jepang memiliki sumber daya alam yang rendah, tetapi perdagangan menolongnya mendapatkan sumber daya untuk ekonominya.

3.3. Pertanian
Padi adalah tanaman pangan terpenting di Jepang. Pemandangan sawah dan hasil panen di Kurihara, Prefektur Miyagi pada musim gugur. Walaupun hanya 12% dari luas daratan di Jepang yang bisa dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan.
Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertanian karena tanah yang mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi maju. Sektor pertanian adalah sektor yang diproteksi pemerintah dan menerima subsidi dalam jumlah besar.
Hasil pertanian Jepang berupa padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, dan teh. Hasil peternakan berupa babi, ayam, telur, sapi dan susu. Sayur-sayuran berupa lobak, kubis, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah apel dan jeruk. Apel merupakan produk unggulan Tohoku dan Hokkaido. Buah pir merupakan produk pertanian unggulan Prefektur Tottori. Perkebunan jeruk berada di Shikoku, Shizuoka, dan Kyushu. Tanaman pir dan jeruk dibawa masuk ke Jepang oleh pedagang Belanda di Nagasaki pada akhir abad ke-18.
Padi adalah tanaman pangan yang sangat diproteksi pemerintah Jepang. Beras impor dikenakan bea masuk 490% dan pembatasan kuota sebesar 7,2% dari rata-rata konsumsi beras tahun 1968 hingga 1988. Impor di luar kuota tidak dilarang, namun dikenakan bea masuk \341 per kilogram. Tarif bea masuk beras impor yang sekarang (490%) diperkirakan akan naik menjadi 778% menurut perhitungan baru yang akan diberlakukan sesuai Putaran Doha.
3.4. Perikanan
Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang Republik Rakyat Tiongkok dalam tonase penangkapan ikan (tahun 1989: 11,9 juta ton), kenaikan tipis dari 11,1 juta ton pada tahun 1980. Setelah terjadi krisis minyak 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun. Pada tahun 1980-an, total tangkapan ikan per tahun rata-rata 2 juta ton. Perikanan lepas pantai mencapai 50 % dari penangkapan ikan total pada akhir 1980-an, meski beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan.
Perikanan pesisir dilakukan dengan perahu kecil, jala, atau teknik penangkaran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri perikanan Jepang. Sementara itu, perikanan lepas pantai dengan kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Di antara hasil laut yang diambil misalnya: sarden, cakalang, kepiting, udang, salem, cumi-cumi, kerang, tuna, saury, yellowtail, dan makerel.
Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki armada perikanan terbesar di dunia. Walaupun demikian, Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di dunia (senilai AS$ 14 miliar) Sejak tahun 1996, Jepang berada di peringkat ke-6 dalam total tangkapan ikan di bawah RRT, Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili. Jepang juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.
BAB IV
SISTEM KEBUDAYAAN

Kebudayaan Jepang telah banyak berubah dari tahun ke tahun, dari kebudayaan asli negara ini, Jomon, sampai kebudayaan kini, yang mengkombinasikan pengaruh Asia, Eropa dan Amerika Utara. Setelah beberapa gelombang imigrasi dari benua lainnya dan sekitar kepulauan Pasifik, diikuti dengan masuknya kebudayaan Tiongkok, penduduk Jepang mengalami periode panjang isolasi dari dunia luar dibawah shogunat Tokugawa sampai datangnya “The Black Ships” dan era Meiji. Sebagai hasil, kebudayaan Jepang berbeda dari kebudayaan Asia lainnya. Jepang memiliki banyak sekali budaya,dahulu hingga sekarang masyarakat Jepang menganut agama Shinto yaitu menyembah banyak sekali dewa seperti contoh dewi matahari Amaterasu.
4.1. Upacara Minum Teh
Upacara minum teh (茶道 sadō, chadō?, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯?) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.
Teh tidak hanya dituang dengan air panas dan diminum, tetapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut. Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.
4.2. Pakaian Tradisional
            Tidak hanya berupa kabudayaan abstrak dan juga aktivitas saja yang dihasilkan oleh bangsa jepang melainkan juga kebudayaan artefak (berwujud) seperti halnya pakaian. Pakaian adat Jepang ini kebanyakan sudah dikenal oleh dunia seperti :
4.2.1. Kimono.
Kimono ( ) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang). Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf “T”, mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung.
Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta .Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki.
Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi- Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
4.1.2. Kimono Wanita
Terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.
v  Kurotomesode
Kurotomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah padasuso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
v  Tomosode
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.
v  Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atauhatsu mode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.
v  Homongi
Hōmon-gi (arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.
v  Iromuji
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
v  Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.
v  Komon
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil- kecil yang berulang.[3] Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
v  Tsumugi
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
v  Yukata
Yukata (baju sesudah mandi) adalah jeniskimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudahmandi malam berendam dengan air panas. Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakaipria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaanobon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.
4.3. Tarian Tradisional
Macam-macam tarian tradisional Jepang
v  Tarian Kabuki
Kabuki ialah tarian tradisional Jepang nan paling populer. Setiap ada pertunjukan Kabuki digelar, dipastikan akan penuh sesak oleh penonton. Sejak zaman tenno (kaisar Jepang) hingga sekarang, Kabuki selalu jadi primadona masyarakat Jepang.Para penarinya ialah pria. Kabuki menawarkan olah tari nan berbaur dengan kritik sosial dan kearifan hidup. Jadi, amat pantas jika dikatakan bahwa Kabuki merupakan kesenian taraf tinggi.
Gerak khas Kabuki terletak pada langkah kaki nan sangat lemah lembut. Terdapat tiga gerakan dasar pada Kabuki yaitu gerakan memutar, gerakan tangan, dan gerakan kepala. Setiap gerakan ini menyimbolkan aktualisasi diri manusia. Seperti bagaimana ketika menangis, gembira, sedih, dan berbagai aktualisasi diri emosional lainnya. Dipadu dengan busana berupa kimono nan eye catching , menyaksikan Kabuki akan jadi pengalaman nan sukar dilupakan.
Penari Kabuki dirias secara mencolok dan mewah. Hal tersebut semakin membuat tarian tradisional Jepang ini berbeda dibandingkan dengan tarian tradsional lainnya. Oleh UNESCO, tarian tradisional Jepang Kabuki ini telah ditetapkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan NonBendawi Manusia.
v  Tarian Bon Odori
Tarian tradisional Jepang ini ditampilkan ketika masa panen tiba (festival musim panen), sebagai ungkapan syukur kepada dewa. Ditarikan secara massal dengan penarinya memakai baju tradisonal Jepang.
Ciri khas tarian Bon Odori ialah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional. Langkah kaki bergerak bebas disertai entakan kaki buat mengeluarkan suara. Lalu, ditingkahi dengan tangan nan disesuaikan dengan ritme musik.Tarian tradisional Jepang nan satu ini berarti menari bersama-sama. Dilangsungkan setelah seremoni Obon. Obon sendiri merupakan rangkaian upacara adat buat penyambutan arwah leluhur. Tarian Bon Odori dilakukan bersama-sama tanpa mengenal jenis kelamin.Tarian tradisional Jepang ini biasanya banyak dilakukan di halaman-halaman kuil.
Menurut cerita masyarakat Jepang, gerakan pada tarian Bon Odori ini meniru gerakan para arwah nan menari sebab terbebas dari sanksi kejam neraka.Selain itu, Tarian tradisional Jepang nan satu ini juga merupakan tarian puncak dari seremoni musim panas di Jepang. Dan biasanya, tarian ini dilaksanakan setiap tanggal 15 Juli dan 16 Juli.
v  Tarian Odori
Tidak jauh berbeda dengan Bon Odori. Bedanya, para penari Kasa Odori menggunakan payung sebagai alat tarian nan digunakan (tari payung). Ya, tarian tradisional Jepang nan satu ini memang identik dengan penggunaan payung. Di ujung payung-payung itu, ada benda kecil seperti logam emas. Sehingga menimbulkan suara eksklusif tiap kali payung digerakkan.
Kasa Odori telah ada sejak jaman Edo (1603-1867 M). Kini, tarian Kasa Odori jadi karakteristik khas buat Prefektur Tottori timur dan biasa dilangsungkan ketika musim panas (festival Shan-shan Ang).Payung nan digunakan dalam seremoni atau pertunjukan tarian tradisional Jepang ini bernama Shan-Shan Matsuri. Shan-shan Matsuri ini berasal dari bunyi logam nan berada di ujung payung. Orang Jepang, mendengar bunyi logam nan bergemerincing itu seperti "shan-shan".
Tarian tradisional Jepang ini dilakukan oleh pria dan wanita. Masing-masing mengenakan baju nan bagus dan menari bersama. Musik nan mengiringi tarian ini bernama Kinansebushi. Asal-usul tarian tradisional Jepang nan satu ini sebenarnya berasal dari daerah Inaba. Di daerah tersebut dikenal sebuah tarian meminta hujan bernama Inaba Kasa Odori.
v  Tarian Mai
Mai berarti menari diiringi nyanyian atau musik tradisional Jepang dengan seluruh bagian telapak kaki nan tak pernah diangkat. Jadi, kaki para penarinya diseret-seret (suriashi). Meskipun terkadang disisipi gerakan menghentakkan kaki. Tapi tak begitu kentara.
Gerakan tari Mai dilakukan dengan berputar di dalam ruang mobilitas nan sempit. Dapat juga melibatkan seluruh anjung sebagai ruang geraknya dengan tempo lambat.
v  Tarian Onikenbai
Ciri khas tarian tradisional Jepang ini, penarinya memakai topeng Oni (raksasa Jepang). Identik dengan gerakan menghentak tanah. Melambangkan Oni nan membantu manusia buat mengusir roh dursila dari dalam tanah. Tujuannya, agar panen para petani bisa berhasil.
Tarian Onikenbai biasanya dilanjutkan dengan tarian Nanazumai, nan berarti tarian tujuh kepala. Melambangkan siklus atau fase pertanian nan merupakan mata pencaharian primer penduduk Jepang pada zaman dulu. Tarian Nanazumai ditarikan dengan membawa tujuh alat berbeda. Masing-masing alat ini menceritakan tiap fase dalam pertanian. Filosofi menjadi bagian nan tak lepas dari keberlangsungan tarian tradisional Jepang ini.
v  Tarian Arauma
Tarian tradisional Jepang nan satu inbi bernama Arauma. Melambangkan rasa syukur atas hasil pertanian nan melimpah. Tarian ini juga bentuk terima kasih penduduk Okawadai (salah satu kota di Provinsi Aomori) terhadap kuda-kuda nan telah membantu mata pencarian mereka.
Arauma ditarikan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempuan. Laki-laki menjadi uma (kuda), sedangkan perempuan menjadi haneto (manusia). Diiringi musik taiko (gendang), fue (seruling), dan chappa (simbal), tarian Arauma dilakukan dengan berarak-arakan dan ditingkahi teriakan, "Rassera! Rassera!"
v  Tarian Wadaiko
Tarian tradisional Jepang nan satu ini menggunakan sebuah alat musik tradisional Jepang sebagai pengiringnya. Alat musik Taiko ialah instrumen primer dari tari Wadaiko. Termasuk salah satu tarian tradisional Jepang nan dominan menggunakan alat musik tersebut. Selain alat-alat musik tradisonal Jepang lainnya.
Taiko sendiri berarti drum besar (gendang berukuran jumbo). Merupakan alat musik nan keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan tradisional masyarakat Jepang sekaligus dari tarian tradisional Jepang nan satu ini. Dari upacara keagamaan di kuil, hingga festival-festival di kota-kota besar, alat musik Taiko dipastikan selalu ada.
v  Tari Geisha
Tarian Tradisional Jepang, ditarikan oleh gadis. Geisha dari kata yang berarti artis, juga dapat berarti gadis penari atau penghibur tradisional perempuan Jepang. Penari memakai gaun tradisionalyang disebut kimono. Penari menggunakan gaya rambut ala tradisional dengan sanggul longgar di atas kepala. Makeup umumnya wajah  dicat putih, dengan eyeliner hitam dan lipstik merah. Penari  memulai latihan dari usia yang dini,para Geisha harus belajar bahasa jepang, instrument tradisionala, termasuk drum dan belajar lagu-lagu dan tarian tradisional.
v  Tarian Samurai
Tarian yang menggambarkan prajurit Jepang yang gagah. Samurai adalah bangsawan militer di Jepang. Samurai terikat oleh kode kehormatan dan diharapkan menjadi teladan bagi orang lain. Samurai melayani tuan mereka dan membantunya dalam pertempuran. Para penari muda menari mengenakan kostum tradisional Jepang dan tampil di pusat kota.
v  Noh
Noh ini bukan sebuah nama tarian, tetapi sebuah pertunjukan drama klasik  yang didalamnya yang tersusun atas mai(tarian), hayashi(music) dan utai( kata kata yang biasa dalam lagu) Pelakon menggunakan topeng dan menari secara lambat. Penari memainkan secara lambat.Biasanya, para pelakon Noh ialah laki-laki. Saat seorang wanita atau anak perempuan muncul di drama ini, aktor pria memainkan perannya dengan mengenakan topeng wanita.
Ada 3 macam pelakon Noh: shite, waki dan kyogen. Shitememerankan pahlawan maupun pahlawati. Ia berbicara, menyanyi, dan menari. Waki (berarti "pihak") berperan sebaai kawan Shite, dan biasanya memerankan peran pelancong di tempat tertentu. Ia memperkenalkan pemirsa dengan dunia drama. Kyogen muncul di pertengahan drama jika memiliki 2 bagian, dan berperan sebagai warga lokal. Ia berbicara kepada Waki dan menyuruhnya melihat apa yang belum dilihatnya sebelum pembicaraan mereka.
v  Jiutamai
Jiutamai adalah bentuk kuno indah tarian klasik yang tetap Japanesse dan elegan sebagai pilar yang mendasari kecanggihan koreografi Jepang. Sebagai seni intim keanggunan yang langka, ia memiliki gaya yang unik mengekspresikan emosi internal melalui serangkaian gerakan halus dan simbolik.
Tarian ini juga telah dilakukan pada kuartal hiburan dengan maiko dari Kyoto dan Osaka geiko. Asal Jiutamai ditelusuri kembali ke abad ke-13, ketika penari Shirabyôshi, menari di istana untuk bangsawan dan samurai peringkat tinggi. Jiutamai berkembang sebagai perempuan yang sangat halus tari, solo dilakukan demi seorang saksi laki-laki tunggal. Jiutamai berasal dengan tarian spiritual yang didedikasikan untuk para dewa. Jiutamai tari tidak mengembangkan untuk performa di panggung yang besar, melainkan, gaya ini berkembang sebagai tarian dilakukan di ruang intim di mana penonton bisa melihat dekat kinerja di tangan.
4.4. Adat Pernikahan
Sama seperti Negara Indonesia, di Negara Jepang juga terdapat banyak prosesi atau tata cara pernikahan. Namun banyak pasangan yang memilih menggunakan prosesi pernikahan secara ritual tradisi Shinto. Tradisi Shinto adalah kepercayaan tradisional masyarakat Jepang dan merupakan agama yang paling popular di Jepang disamping agama budha.
4.3.1. Prosesi Pernikahan
Upacara pernikahan Shinto sifatnya sangat pribadi, hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat. Seringkali diadakan di sebuah tempat suci atau altar suci yang dipimpin oleh pendeta Shinto. Banyak hotel dan restauran yang dilengkapi dengan sebuah ruangan khusus bagi upacara pernikahan. Pernikahan gaya Shinto dipimpin oleh pendeta dengan hanya diikuti anggota keluarga dan kerabat dekat.
Di awal upacara pernikahan pasangan dimurnikan oleh pendeta Shinto. Kemudian pasangan berpartisipasi dalam sebuah ritual yang dinamakan san-sankudo. selama ritual ini mempelai perempuan dan pria bergiliran meminum sake sejenis anggur yang terbuat dari beras yang difermentasikan, masing-masing meminum Sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan. Saat pengantin pria dan wanita minum sake dari cawan, mereka juga mengucapkan ikrar perkawinannya.
Setelah ikrar perkawinannya keluarga mereka saling berhadapan (umumnya kedua mempelai yang saling berhadapan). Setelah itu anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake yang menandakan adanya persatuan dan ikatan dalam pernikahan. Upacara ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting sasaki (Sejenis pohon keramat) yang ditujukan kepada dewa Shinto. Tujuan kebanyakan ritual shinto adalah untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa,dan persembahan kepada dewa.
4.4.2.Pakaian dan Perhiasan Untuk Pernikahan
Dalam adat ini, pasangan pengantin memakai pakaian tradisional kimono. pengantin perempuan memakai kimono tradisional pernikahan yang disebut dengan shiramuku (kimono putih), sedangkan pengantin pria memakai montsuki haori hakama. Sedangkan untuk para tamu, pakaian yang digunakan untuk menghadiri pernikahan hendaknya black suit untuk para pria. Sedangkan untuk wanita lebih baik menggunakan  gaun, kimono, atau pakaian daerah lainnya.
4.4. Jenis-jenis pernikahan di Jepang
v  職場結婚 (Shokuba Kekkon)
Shokuba Kekkon diambil dari kata Shokuba yang artinya tempat kerja dan kekkon yang artinya pernikahan. Jadi shokubakekkon adalah suatu pernikahan dimana mempelai pria dan wanita pertama kali bertemu dan menjalin cinta di tempat kerja.
v  恋愛結婚 (Renai Kekkon)
Renai artinya dalam bahasa jepang yaitu cinta romantic, sedangkan kekkon artinya pernikahan. Jadi jika kedua kata digabungkan menjadi suatu perkawinan dengan cinta yang romantic. pernikahan renaikekkon adalah suatu pernikahan yang diawali dengan adanya saling cinta antara kedua mempelai tanpa uluran tangan orang lain.
v  見合い結婚 (Miai Kekkon)
Miaikekkon artinya suatu pernikahan yang diawali dengan bantuan orang lain atau dalam bahasa indonesianya mak comblang. Biasanya mereka kenal setelah diperkenalkan oleh orang tua, saudara, teman atau jasa seperti take him out atau take me out. rasa cinta biasa timbul setelah mereka diperkenalkan oleh mak comblang tersembut.

BAB V
HARI-HARI BESAR & PERAYAAN
5.1. Perayaan Hari Hanabi Takai
Pada saat-saat musim panas, warga Jepang sibuk mempersiapkan perayaan pesta kembangapi Hanabi Takai. Beribu-ribu hingga puluhan ribu kembang api dipersiapkan guna merayakan pesta musim panas. Pada saat merayakan Hanabi Takai, warga Jepang khususnya kaum perempuan berbondong-bondong memakai pakaian tradisional Jepang, yakni Yukata atau Kimono musim panas.
Selain memakai pakaian-pakaian tradisional, warga Jepang pun berbondong-bondong memakai pakaian yang semenarik mungkin utntuk menikmati pesta Hanabi dan tentunya menarik perhatian para turis yang datang. Pesta Hanabi Takai ini juga mempunyai ciri khas, yaitu pada saat menyalakan puluhan ribu kembang api, maka yang akan terlihat adalah motif lautan bunga yang berwarna-warni dan motif-motif lainnya yang rasanya sayang untuk dilewatkan. Pesta Hanabi Takai ini memakan waktu sekitar 60-90 menit. Waktu tersebut cukup untuk memanjakan mata dengan motif berwarna-warni dan beraneka ragam serta bunyi-bunyi letusan kembang api di udara yang menambah suasana ramai di pesta Hanabi.
5.2. Sejarah Hanabi 
Pada zaman dahulu, pesta Hanabi hanya diperuntukan dan bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu dan kalangan atas. Biasanya kembang api dinyalakan sebagai tanda penutup setelah mengadakan jamuan megah nan mewah.
Namun, sekitar abad ke-18 tepatnya di Zaman Edo, pesta Hanabi baru bisa dinikmati semua rakyat di Jepang tanpa kecuali. Itu semua berkat seniman kembang api, yaitu Kagiya bersama asistennya yang bernama Tamaya.Kedua seniman kembang api itu sangat gigih dalam meniti karir di bidang kembang api. Berbagai macam inovasi-inovasi baru berhasil mereka ciptakan dan kembangkan. Semula usaha kembang api hanya dirintis oleh Kagiya pada tahun 1659. Namun setelah usahanya berkembang, Kagiya memperkerjakan Tamaya sebagai asistennya.
5.3. Hanabi Termegah
Pesta Hanabi memang banyak menyimpan berbagai kemegahan dalam menyuguhkan hiburan dalam bentuk kembang api, dan biasanya pesta Hanabi diadakan di tempat-tempat terbuka. Namun ada beberapa perayaan Hanabi yang diadakan di tempat-tempat tertutup. Dan berikut pesta Hanabi termegah :
v  Jingu Hanabi
Jingu Hanabi dirayakan di sebuah stadion basball yang bernama stadion Jingu. Dinamakan Jingu Hanabi karena pesta Hanabi ini dirayakan di stadion Jingu yang lokasinya berada di tengah-tengah kota Tokyo.
v  Koshien Hanabi
Sama seperti Jingu Hanabi, Koshien Hanabi diadakan di Stadion koshein. Koshein Hanabi merupakan perayaan pesta Hanabi termegah yang ada di kota Osaka. Stadion ini mampu menampung 100.000 penonton yang datang untuk menyaksikan pesta Hanabi.
v  Edogawa Hanabi Takai
Pesta Hanabi di tempat ini sangatlah sulit untuk mendapatkan kursi guna menyaksikan langsung pesta kembang api secara meriah. Sebelum datang perayaan Edogawa Hanabi Takai, warga Jepang cepat-cepat memesan kursi yang akan didudukinya di pesta Hanabi nanti.  Saat memesan kursi di Stadion, warga Jepang hanya menjaga kursinya dengan ditandai dengan alas atau papan nama. Mereka tak merasa khawatir karena kerukunan antar warga Jepang sangatah erat sehingga mereka yang telah memesan kursi tak merasa khawatir..
5.4. Perayaan Tahun Baru di jepang
(正月 shōgatsu?) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari  dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari Dalam bahasa Jepang, kata "shōgatsu" dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama di awal tahun. Istilah "shōgatsu" juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月)tahun baru kecil) tanggal 15 Januari Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi.

5.5. Perayaan Matsuri
Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, festival biasanya disponsori oleh kuil ataupun diadakan bukan yang bersifat kepercayaan. Biasanya setiap daerah memiliki setidaknya satu matsuri di akhir musim panas atau awal musim gugur, kadang berhubungan dengan panen. Kita dapat menemukan stan-stan di sekitar matsuri yang menjual souvenir atau makanan seperti takoyaki, atau yang menyediakan permainan seperti menangkap ikan koki. Selain itu ada juga kontes karaoke, pertandingan sumo, dan hiburan-hiburan lain yang tersedia.
5.6. Hari Festival Nasional
Seijin Shiki (Senin kedua di bulan Januari) Coming of Age Day Hinamatsuri (3 Maret) Festival boneka ini mempunyai nama lain seperti Sangatsu Sekku (Festival Bulan 3), Momo Sekku (Festival Persik), Joshi no Sekku (Festival Gadis). Dikenal sebagai Festival Persik karena persik bersemi di awal musim semi dan disimbolkan sebagai keberanian dan kecantikan feminin. Anak perempuan memakai kimono terbaik mereka dan mengunjungi rumah temannya. Di rumah-rumah di tempatkan panggung berisi hina ningyo (boneka hina, sederet boneka yang mewakili kaisar, permaisuri, pelayan, dan musisi yang memakai pakaian kuno) dan sekeluarga merayakan dengan makanan spesial Hishimochi dan Shirozake.
5.7. Hari O-misoka
Masyarakat Jepang membersihkan rumah (Osoji) untuk menyambut tahun baru dan untuk menghilangkan pengaruh tidak baik. Banyak warga yang mengunjungi kuil Buddha untuk mendengarkan bel berbunyi sebanyak 108 kali ketika malam hari (joya no kane). Hal ini dilakukan untuk mengumumkan bahwa tahun lama telah dilewati dan tahun yang baru telah datang. Alasan kenapa dibunyikan 108 kali adalah karena penganut Buddha percaya manusia digoda 108 macam hasrat dan nafsu duniawi (bonno). Dengan tiap kali bunyi, satu hasrat dihilangkan. Menjadi adat juga bahwa memakan toshikoshi koba (mie melewati tahun) diharapkan bahwa seluruh keluarga mendapat keberuntungan layaknya sepanjang mie yang panjang.
5.8. Perayaan Hanami
Sakura (桜) merupakan bunga nasional Jepang yang mekar pada musim semi, yaitu sekitar akhir Maret hingga awal bulan April di wilayah Tokyo, terutama saat cuaca sudah mulai hangat. Sakura sendiri selain dinikmati bunganya, orang Jepang juga banyak menggunakan gambar bunga sakura pada barang-barang seperti kain kimono, alat-alat tulis, peralatan dapur, hiasan dinding dan sebagainya.
Bunga sakura merupakan simbol yang sangat penting bagi orang Jepang. Asal usul dari nama bunga "sakura" itu dari kata "saku" (berarti "mekar" dalam bahasa Jepang), kemudian ditambahan bentuk jamak "ra', sehingga menjadi "SAKURA". Apabila dalam bahasa Inggris, bunga sakura disebut cherry blossoms. Warna bunga sakura bermacam-macam, dari yang berwarna putih, merah jambu, ataupun merah menyala. Pohon sakura hanya berbunga satu kali dalam setahun. Jenis bunga sakura yang paling terkenal di seluruh Jepang adalah "someiyoshino" (染井吉野).

BAB VI
RITUAL ADAT
6.1. Upacara Pemakaman
Upacara pemakaman di jepang disebut dengan istilah soushiki, yang berasal dari kata sou [mengubur] dan shiki [upacara]. Soushiki meliputi masa semayam jenazah, kremasi, penguburan, dan layanan memorial secara berkala. Waktu kebanyakan penduduk jepang memeluk agama Budha dan Shinto, hampir 90% soushiki dilakukan menurut agama budha. Soushiki dimulai dengan upacara matsugo no mizu berupa pembasahan bibir jenazah menggunakan air setelah jenazah dimasukkan dalam peti mati. Selanjutnya ada proses yang disebut dengan kamidana fuji, dimana jenazah dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kertas putih, yang dipercaya untuk mencegah arwah tidak suci masuk ke dalam.
6.2. Upacara Semayam
Sebelum proses semayam, jenazah dimandikan dan ditutup lubang telinga dan hidungnya dengan kapas. Jenazah kemudian diberi pakaian berupa setelan jas [untuk pria] atau kimono [untuk wanita], dan kadang-kadang juga diberi make-up. Setelah itu jenazah dibaringkan di  dalam peti mati berisi es kering beserta kimono putih, sendal, 6 keping koin yang dipercaya akan digunakan almarhum untuk melintasi 3 neraka, dan benda yang bisa terbakar yang disukai almarhum selama masih hidup, seperti permen atau rokok.
6.3. Kremasi
Pada saat proses kremasi, peti yang berisi jenazah pertama-tama diletakkan di atas penampang untuk didorong masuk kedalam ruang kremasi. Kejadian tersebut disaksikan para anggota keluarga almarhum. Proses kremasi berjanlan sekitar 2 jam, setelah itu pihak keluraga memisahkan bagian abu dan tulang almarhum. Bagian tulang diambil oleh 2 orang keluarga menggunakan sumpit secara bersamaan atau dioper dari dari sumpit ke sumpit dan dimasukkan ke dalam guci atau kendi kecil. Tulang tersebut harus diletakkan mulai dari bahian tulang kaki sampai tulang tengkorak. Kadang-kadang ada juga yang membagi menjadi dua abu jenazahnya ke dalam 2 kendi. Tujuannya agar abunya dapat disimpan di beberapa tempat.


6.4. Penguburan
Di Jepang kuburan keluarga [haka] umumnya terdiri dari monumen batu nisan dengan ruang kecil tempat menyimpan bunga dan dupa. Di depan batu nisan terdapat tempat air dan sebuah ruang bawah tanah untuk menyimpan abu. Nama almarhum diukir di depan atau sebelah kiri monumen nisan, sedangkan di sebelahnya diukir tanggal digalinya kuburan dan orang yang membeli kuburan tersebut. Kadang-kadang nama suami atau istri almarhum yang masih hidup juga diukir pada batu nisan, namun dengan tinta berwarna merah yang akan dihapus setelah yang bersangkutan meninggal dan dikubur di tempat yang sama. Hal ini dimaksudkan agar biaya penguburan lebih murah, selain itu memberi kesan kalau sang pasangan hidup sudah siap untuk mengikuti almarhum.
Upacara pemakan di Jepang memakan biaya yang sangat besar. Bila digabungkan mulai dari upacara pemakaman hingga penguburan, seluruhnya rata-rata menghabiskan biaya sebesar 4 juta yen, yang merupakan upacara pemakaman termahal di dunia. Penyebab utama mahalnya harga tersebut disebabkan karena orang Jepang tidak mau bernegosisasi dengan pihak perusahaan jasa pemakaman karena alasan gengsi tidak ingin dianggap perhitungan pada keluarganya. Karena itu banyak pengusaha jasa pemakaman memanfaatkan kesempatan dengan memasang harga tinggi bekerjasama dengan pihak penjual bunga, pendeta kuil, dll. Selain itu semakin terbatasnya lahan untuk kuburan membuat harga tanah makin mahal, bahkan di beberapa di kota besar seperti Tokyo sudah tidak ada lagi tempat yang bisa dijadikan kuburan.

BAB VII
SISTEM TATA BAHASA
7.1. Bahasa Tradisional Jepang Timur
v  Dialek Hokkaido
Penduduk Hokkaido sebagian besar merupakan pendatang yang relatif baru dari berbagai daerah di Jepang. Dialek Hokkaido (Hokkaidō-ben) dipengaruhi secara jelas oleh dialek Tohoku (Tōhoku-ben) yang dipakai penduduk paling timur Pulau Honshu. Hal ini disebabkan letak geografis Hokkaido dan Tohoku yang berdekatan. Ciri khas dialek Hokkaido adalah perbedaan jender yang lebih sedikit dan banyaknya kosakata khas daerah. Kalimat dalam dialek Hokkaido diakhiri dengan kata dabesa (だべさ) dan bukan desu (です). Ada kecenderungan orang Hokkaido untuk berbicara cepat dan disingkat-singkat seperti sering ditemui dalam cara berbicara orang di daerah pedalaman di Jepang.
v  Dialek Tohoku
Dialek Tohoku dipakai orang yang tinggal di 6 prefektur di wilayah Tohoku yang merupakan daerah timur laut di Pulau Honshu. Dialek ini dapat berbeda jauh dari bahasa Jepang Standar. Bila ada orang berbicara dalam dialek Tohoku di televisi, maka stasiun televisi akan menampilkan teks terjemahan dalam bahasa Jepang Standar.
Salah satu ciri khas dialek Tohoku yang sangat mencolok adalah tidak adanya perbedaan antara vokal tinggi "i" dan "u" sehingga kata-kata seperti sushi, susu (jelaga), dan shishi (singa) diucapkan seperti sebuah homofon (kata-kata tersebut diucapkan dengan perbedaan yang jelas dalam dialek-dialek bahasa Jepang yang lain). Dialek Tohoku tidak mengenal perbedaan yang jelas atau sedikitnya perbedaan dalam pengucapan antara shi dan su, antara chi dan tsu, serta dakuon ji (/) dan zu (/). Bunyi-bunyi chi (), zu (), ji (), dan zu () semua diucapkan seperti [dzü]. Oleh karena itu, dialek Tohoku sering disebut Zūzū-ben (ズーズー弁?, dialek Zūzū)
v  Dialek Kanto
Ciri khas dialek Kanto yang mengakhiri kalimat dengan "-be" (~べ) dan "-nbe" (~んべ) juga dimiliki oleh dialek Tohoku. Dialek Kanto Timur terutama mirip dengan dialek Tohoku. Dialek-dialek lokal Kanto di Tokyo dan daerah pinggirannya menghilang secara perlahan-lahan karena bahasa Jepang Standar lebih dulu dikenal secara luas di Kanto dibandingkan daerah-daerah lain di Jepang.
v  Dialek Tōkai-Tōsan
Dialek Tōkai-Tōsan (東海東山方言?) atau dialek Chūbu adalah dialek yang dipakai orang di Prefektur Shizuoka, Prefektur Yamanashi (kawasan Kuninaka), Prefektur Aichi, Prefektur Gifu, Prefektur Nagano, dan Prefektur Niigata (kecuali kawasan Agakita dan Pulau Sado). Dialek ini banyak dipengaruhi dialek Kansai dan dialek Kanto Barat.Dialek Tōkai-Tōsan dibagi menjadi tiga kelompok: Nagano-Yamanashi-Shizuoka, Echigo, dan Gifu-Aichi.
7.2. Bahasa Tradisional Jepang barat
v  Dialek Hokuriku
Jenis-jenis dialek Hokuriku:
Ø  Dialek Kaga (Prefektur Ishikawa bagian selatan yang dulu disebut Provinsi Kaga)
Ø  Dialek Kanazawa (sekitar kota Kanazawa)
Ø  Dialek Noto (wilayah utara Prefektur Ishikawa yang dulu disebut Provinsi Noto)
Ø  Dialek Toyama atau dialek Etchū (Prefektur Toyama)
Ø  Dialek Fukui (Prefektur Fukui bagian utara)
Ø  Dialek Sado (Pulau Sado)
v  Dialek Kansai
Dialek Kansai adalah dialek yang dituturkan orang yang tinggal di wilayah Kansai. Dialek ini memiliki sejumlah perbedaan menurut daerahnya:
Ø  Dialek Kyoto (Prefektur Kyoto bagian selatan, terutama dituturkan oleh penduduk Kyoto)
Ø  Dialek Gosho (dialek penduduk Kyoto Gosho zaman dulu)
Ø  Dialek Muromachi (dialek pedagang zaman dulu yang tinggal di pusat kota Kyoto)
Ø  Dialek Gion (dialek geiko di Gion)
Ø  Dialek Osaka (Prefektur Osaka)
Ø  Dialek Semba (dialek pedagang zaman dulu yang tinggal di tengah kota Osaka)
Ø  Dialek Kawachi (Prefektur Osaka bagian timur)
v  Dialek Chūgoku
Dialek Chūgoku dituturkan orang di Prefektur OkayamaPrefektur hiroshimaPrefektur YamaguchiPrefektur Shimane bagian barat, Prefektur tottori bagian tengah-timur, Prefektur Hyogo bagian utara, dan Prefektur Kyoto barat laut. Dialek Chūgoku pada dasarnya memakai aksen Tokyo. Berbagai macam dialek yang ada di wilayah Chūgoku:
Ø  Dialek Hiroshima (Prefektur Hiroshima bagian barat)
Ø  Dialek Bingo (Prefektur Hiroshima bagian timur)
Ø  Dialek Fukuyama
Ø  Dialek Okayama (Prefektur Okayama)
Ø  Dialek Yamaguchi (Prefektur Yamaguchi)
Ø  Dialek Iwami (Prefektur Shimane bagian barat)
v  Dialek Shikoku
Dialek Shokoku dituturkan orang di Shikoku (Prefektur KagawaPrefektur TokushimaPrefektur Ehime, dan Prefektur Kochi). Dari segi tata bahasa dan kosa kata, dialek ini dipengaruhi dialek Kansaidialek Chūgoku, dan dialek Kyushu.
Jenis-jenis dialek Shikoku:
Ø  Dialek Tokushima atau dialek Awa
Ø  Dialek Kagawa atau dialek Sanuki
Ø  Dialek Iyo (Prefektur Ehime)
Ø  Dialek Kōchi atau dialek Tosa
Ø  Dialek Hata di Hata (ujung paling barat Prefektur Kochi).
v  Dialek Umpaku
Umpaku merujuk kepada wilayah bekas Provinsi Izumo (un dari karakter dalam Izumo no Kuni, 出雲国) dan wilayah bekas Provinsi Hōki (haku dari karakter dalam Hōki no Kuni, 伯耆国). Dialek-dialek Umpaku dituturkan orang di bagian timur Prefektur Shimane, bagian barat Prefektur Tottori.
Dialek Umpaku dibagi menjadi:
Ø  Dialek Izumo (bagian timur Prefektur Shimane)
Ø  Dialek Yonago (bagian barat Prefektur Tottori).
Di antara kosakata dari dialek Izumo dikenal luas di Jepang adalah kata dan dan (だんだん) yang berarti terima kasih. Dialek Izumo menggantikan sukoshi (すこし, sedikit) dengan chonboshi (ちょんぼし), dan banjimashite (晩じまして) sebagai ucapan selamat petang (satu jam sebelum dan sesudah matahari terbenam).

BAB VIII
ASITEKTUR BANGUNAN
Arsitektur Jepang Secara tradisional ditandai oleh struktur kayu, bentuk bangunan panggung, dengan atap genteng tanah atau jerami. Ciri khas Pintu Jepang dengan sistem geser/slading (fusuma) yang memungkinkan konfigurasi internal ruang untuk disesuaikan dengan kesempatan yang berbeda. Orang-orang biasanya duduk di atas bantal atau di lantai, dan kebiasaan ini dilakukan hingga sekarang. Sejak abad ke-19, Arsitektur Jepang telah memasukkan unsur-unsur arsitektur gaya Barat, modern, dan post-modern kedalam desain dan konstruksinya, dan saat ini merupakan acuan dalam desain arsitektur mutakhir dan teknologi.
Arsitektur Jepang awal terlihat pada zaman prasejarah di rumah sederhana dan toko-toko yang disesuaikan dengan populasi pemburu-pengumpul. Pengaruh dari Dinasti Han China melalui Korea melihat pengenalan toko gandum lebih kompleks dan ruang pemakaman seremonial.
Pengenalan Buddhisme ke Jepang  di abad-6 adalah katalis untuk bangunan candi dalam skala besar dengan menggunakan teknik yang rumit dalam konstruksi kayu. Pengaruh dari T'ang Cina dan Sui Dinasti menyebabkan fondasi ibukota permanen pertama di Nara. Tata letak jalan yang digunakan ibukota Cina Chang'an sebagai contoh untuk desain. Sebuah peningkatan bertahap dalam ukuran bangunan menyebabkan satuan standar pengukuran serta perbaikan dalam tata letak dan desain taman. Pengenalan upacara minum teh menekankan kesederhanaan dan desain sederhana sebagai tandingan ke ekses aristokrasi.
Selama Restorasi Meiji tahun 1868 sejarah arsitektur Jepang secara radikal diubah oleh dua peristiwa penting, yaitu peristiwa  Kami dan Buddha Separation Act tahun 1868, dan peristiwa Westernisasi intens dalam rangka untuk bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
8.1. Fitur Umum Arsitektur Tradisional Jepang
Arsitektur tradisional Jepang banyak dipengaruhi oleh China dan budaya Asia lainnya selama berabad-abad. Arsitektur tradisional Jepang dan sejarahnya didominasi oleh teknik/gaya Cina dan Asia (bahkan hadir di Kuil Ise, dianggap intisari arsitektur Jepang) dengan variasi gaya asli Jepang pada tema-tema di sisi tertentu.
Disamping itu adanya penyesuaian dengan berbagai iklim di negara Jepang dan pengaruh budaya dari luar, hasilnya sangat heterogen, namun beberapa fitur praktis yang umum tetap dapat ditemukan. Pemilihan bahan utama untuk hampir semua struktur, selalu kayu dalam berbagai bentuk (papan, jerami, kulit kayu, kertas, dll). Tidak seperti Barat dan beberapa arsitektur Cina, penggunaan batu dihindari kecuali untuk keperluan tertentu saja, misalnya Candi podia dan yayasan pagoda..
8.2.Sifat dari Arsitektur Jepang
Ø  Memiliki sifat ringan dan halus
Ø  Konstruksi kayu lebih menonjol dan diolah sangat halus dengan bentuk-bentuk lengkung dan kesederhanaan.
Ø  Bentuk bangunan diatur dalam simetris yang seimbang.
Ø  Arsitektur tanaman, naturalis dan tidak dapat dipisahkan dengan design bangunan (satu kesatuan)
Ø  Terlihat kesederhanaan bentuk dan garis.
Ø  Pada pengolahan taman lebih wajar, dan tidak banyak pengolahan tangan manusia (lebih    wajar)
Ø  Penghematan terhadap ruang lebih terlihat.
Ø  Sedikit penggunaan warna, kecendrungan ke arah warna politur dan lak.
8.3. Rumah Adat
Rumah tradisional Jepang terdiri dari beberapa ruangan utama, yaitu Washitsu (ruang serba guna yang dapat digunakan sebagai ruang tamu,kamar tidur dan ruang keluarga), Genkan (Area pintu masuk), dapur dan washiki (toilet).
v  Washitsu
Washitsu adalah ruang beralaskan tatami dalam bangunan tradisional Jepang. Ada beberapa aliran dalam menyusun tatami sebagai alas lantai. Dari jumlah tatami yang dipakai dapat diketahui ukuran luas ruangan. Dari sejumlah washitsu yang ada di dalam bangunan (rumah) terdapat satu washitsu utama.
Tatami adalah semacam tikar yang berasal dari Jepang yang dibuat secara tradisional. Tatami dibuat dari jerami yang sudah ditenun, namun saat ini banyak Tatami dibuat dari styrofoam. Tatami mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, dan sekelilingnya dijahit dengan kain brokade atau kain hijau yang polos.
Pada mulanya, Tatami adalah barang mewah yang dapat dimiliki orang kaya. Saat itu kebanyakan rumah orang miskin tidak memiliki lantai, melainkan tikar. Tatami kemudian menjadi populer diabad ke-17.
v  Genkan
Salah satu ciri rumah Jepang adalah genkan.Genkan adalah tempat di mana orang melepas sepatu mereka. Ketika mereka melepaskan sepatu mereka, orang-orang melangkah naik ke lantai yang lebih tinggi dari genkan. Disamping genkan terdapat sebuah rak atau lemari disebut Getabako di mana orang dapat menyimpan sepatu mereka. Sandal untuk dipakai di rumah juga tersimpan di sana.
v  Toilet
Toilet tradisional jepang (washiki) adalah kloset jongkok -juga dikenal sebagai kloset Asia. Kebanyakan kloset jongkok di Jepang terbuat dari porselen. Para pengguna toilet di Jepang kebalikan dari Indonesia dimana mereka menghadap ke dinding di belakang toilet.
Kloset jongkok dibagi menjadi dua jenis: kloset yang berada di permukaan lantai, dan kloset yang berada di bagian lantai yang ditinggikan sekitar 30 cm .
v  Dapur
Ada dua jenis dapur di rumah tradisional Jepang, yang pertama dengan tungku dan yang kedua dengan cara digantung. Kedua cara ini sama-sama menggunakan kayu bakar.
v  Roka
Di pinggir rumah terdapat Roka (bagian berlantai kayu, yang mirip dengan lorong-lorong).
v  Atap
Atap rumah tradisional di Jepang terbuat dari kayu dan tanah liat, dengan ubin atau jerami. Dalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus atau simetris. Taman Jepang sengaja dirancang asimetris agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat berada di tengah.
Taman Jepang berukuran besar dilengkapi dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan bangunan pemujaan (kuil). Di antara gedung dan taman kadang-kadang dibangun ruang transisi berupa beranda sebagai tempat orang duduk-duduk. Dari beranda, pengunjung dapat menikmati keindahan taman dari kejauhan.



8.4. Bangunan Bersejarah
v  Golden Pavilion.
Kinkaku-ji atau Kuil Paviliun Emas adalah daya tarik wisata paling populer di Jepang dan di daerah Kyoto. Paviliun ini awalnya dibangun sebagai villa peristirahatan bagi Shogun Ashikaga Yoshimitsu pada akhir abad ke-14. Sayangnya, paviliun dibakar pada tahun 1950 oleh seorang biarawan muda yang telah sangat terobsesi dengan Paviliun itu. Lima tahun kemudian, Paviliun itu dibangun kembali sebagai salinan dari aslinya. Penekanan ditempatkan pada bangunan dan taman sekitarnya yang selaras dengan satu sama lain. Paviliun ditutupi oleh daun yang terbuat dari emas yang memantulkan gambaran keindahan dari paviliun di kolam dan refleksi kolam di gedung.
v  Menara tokyo
Menara Tokyo adalah bukti kemajuan teknologi dan kehidupan modern di Jepang. Terinspirasi oleh desain menara Eiffel di Paris, Perancis, ini adalah struktur buatan manusia tertinggi kedua di Jepang dan berfungsi sebagai alat komunikasi dan menara observasi. Pengunjung dapat memanjat menara untuk melihat pemandangan tak tertandingi dari Tokyo dan daerah sekitarnya serta toko-toko dan restoran, maka tak salah jika Menara Tokyo termasuk salah satu Tempat Wisata di Jepang yang terpopuler.
v  Kastil himeji
Kastil Himeji dianggap yang terbaik untuk arsitektur istana di Jepang. Kastil ini dulunya dibuat untuk melawan musuh selama periode feodal, tetapi telah direnofasi kembali berkali-kali selama berabad-abad dan mencerminkan periode desain yang berbeda-beda. Kastil ini selamat dalam pemboman Perang Dunia II dan Kastil ini sering terlihat dalam film-film dalam dan luar negeri, termasuk film James Bond "You Only Live Twice". Eksterior putih dan desain benteng yang menyerupai burung yang akan terbang, membuat Kastil Himeji layak di sematkan ke dalam 10 tempat wisata di Jepang yang terpopuler.
v  Great budha of kamakhura
Great Buddha of Kamakura adalah representasi kolosal Amida Buddha, salah satu tokoh Buddhis yang paling terkenal di Jepang. Patung Perunggu Buddha besar berdiri di tinggi lebih dari 13 meter (40 kaki) dan beratnya hampir 93 ton. Patung ini berasal dari tahun 1252. Meskipun awalnya bertempat di sebuah kuil kayu kecil, Patung Buddha besar ini sekarang telah berdiri di tempat terbuka karena candi aslinya telah tersapu tsunami di abad ke-15. Tempat Wisata di Jepang ini sering ramai di kunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara.
v  Kiyomizu-dera
Candi Budha Kiyomizu-dera terletak di Kyoto Timur dan berasal dari tahun 798. Sebuah air terjun dalam ruangan yang teraliri dari luar sungai membuat candi ini sangat harmonis dengan alam dan tidak satu paku pun yang digunakan dalam konstruksi Candi ini. Penduduk setempat menggunakan Candi ini sebagai tempat permohonan, dengan cara yang cukup ekstrim, yaitu melompat dari tepi agar keinginan mereka bisa terkabul (dengan tingkat keselamatan hidup 85,4%), untuk pengunjung modern dapat menikmati tempat-tempat suci dan jimat dan karya seni yang dipamerkan tanpa harus mempertaruhkan nyawa dan anggota tubuh.seperti yang di lakukan penduduk lokal, dan inilah yang membuat Tempat wisata di Jepang ini sering di padati wisatawan dari luar.
BAB IX
PENUTUP
9.1. Kesimpulan
            Kebudayaan Jepang merupakan salah satu kekayaan dunia, yang meskipun pada masa lampau terus mengalami perubahan mulai dari zaman Prasejarah hingga jepang pada Zaman Moderen seperti sekarang ini namun sekarang Jepang masih terus melestarikan budaya mereka dan meskipun mereka kalah dalam perang dunia II namun sekarang ini Jepang telah bangkit dan mampu menjadi negara maju yang mampu disetarakan dengan negara Adidaya seperti amerika.
             Bahkan Seusai Perang Dunia II, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya ekonomi gelembung.
Dalam sistem kebudayaannya, Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kukuh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula Tiongkok dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar 300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, memengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Jepang turut mengembangkan budaya yang original dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang.
            Jika dilihat dari kekayaan budaya, sejarah masa lampau antara bangsa Jepang dan Bangsa Indonesia sebenarya memiliki potensi yang sama, meskipun Jepang bukanlah bekas negara jajahan namun Jepang juga pernah mengalami pukulan telak dikala luluh-lantahnya kota Nagasaki dan Herosima yang kala itu dijatuhi Bom Atom oleh sekutu.
            Mereka kala itu mengalami kemunduran, kelaparan, kelumpuhan dari sektor industri namun saat ini mereka mampu menguasai pasar otomotif diseluruh dunia. Itulah hebatnya Bangsa Jepang yang bangsa kita Indonesia patut teladani agar bisa menjadi bangsa yang maju dan bahu-membahu membangun dunia yang lebih baik.

Resfrensi : https://id.wikipedia.org

Contoh Makalah Kebudayaan Jepang - Komunikasi Antar Budaya "