Analisis Konflik & Pluralisme "Kasus Sara - Tanjung Balai" - Komunikasi Antar Budaya

ANALISIS KONFLIK & PLURALISME
"KASUS SARA TANJUNG BALAI
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Analisis Pluralisme - Berikut ini adalah sebuah contoh Analisis Konfik & Pluralisme yang membahas Kasus SARA di Tanjung Balai dalam bentuk Papper dan sudah digunakan untuk memenuhi mata kuliah Komunikasi Antar Budaya


ANALISIS PLURALISME KASUS TANJUNG BALAI

analisis pluralisme,kab, analisis kasus, apaper



A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagai negara majemuk yang memiliki puluhan suku ras dan juga kebudayaan, Indonesia memang sanngat rawan dengan yang namanya pertentangan antar etnik ataupun antar golongan, selain itu letak geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan ini memang memmbuat komunikasi sukar terjalin yang mungkin saja dapat memicu ketegangan.

Seperti yang baru-baru ini terjadi yaitu kasus SARA (Suku, Agama, Ras & Antar Golongan ) yang terjadi di Tanjung Balai Sumatra Utara, yang menurut kami sangat disayangkan dimana penyebab utama adalah kesalahan pahaman dalam komunikasi yang berujung pada penyerang pada salah suatu tindakan Anarkis.

Konflik bernuansa SARA ini bermula dari seorang wantita keturunan Tionghoa M (41) yang mengajukan protes pada takmir masjid untuk mengecilkan volume suara azan di masjid Al-Makhsum, karena merasa terganggu. Teguran tersebut katanya telah dilayangkan beberapa kali.

Beberapa waktu kemudian datang takmir masjid bersama jamaah mendatangi M di rumahnya, Jalan Karya, Tanjungbalai, pada Jum’at 29 Juli 2016. Namun, aksi tersebut berhasil dicegah, dan kumpulan massa berangsur pulang.

Namun, karena terprovokasi postingan media sosial, massa tersebut kembali datang ke rumah M untuk menghancurkan dan membakar rumah tersebut. Beruntung, aksi itu gagal karena dicegah warga komplek setempat. Tak puas, ratusan warga kemudian mendatangi Vihara dan Klenteng lalu melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar tempat ibadah tersebut. Konflik berunjung pada terbakarnya 2 Vihara dan 5 Klenteng.


B. KJIAN LITERATUR

1) Pluralisme Agama
Pada saat ini sebagaimana dikatakan oleh Alwi Shihab dalam Islam Inklusif, bahwa umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama, konflik intern atau antar agama adalah fenomena nyata.

Pluralisme agama dalam hal ini, harus benar-benar dapat dimaknai sesuai dengan akar kata serta makna sebenarnya. Hal itu merupakan upaya penyatuan persepsi untuk menyamakan pokok bahasan sehingga tidak akan terjadi “misinterpretation” maupun “misunderstanding”. 

2) Pluralisme Menurut Bahasa
Bertolak dari akar kata yang pertama yaitu pluralisme, kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris yang berakar dari kata “plural” yang berarti banyak atau majemuk. Atau meminjam definisi Martin H. Manser dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary: “Plural (form of a word) used of referring to more than one”. Sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer, pluralisme berarti: “Teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak substansi”.

Secara bahasa, pluralisme berasal dari dari kata pluralism berarti jama’ atau lebih dari satu. Sedangkan secara istilah, pluralismebukan sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural, jamak, atau banyak. Lebih dari itu, pluralismesecara substansional termanifestasi dalam sikap untuk saling mengakui sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, dan bahkan mengembangkan atau memperkaya keadaan yang bersifat plural, jamak, atau banyak.

3) Teori Konflik & Pertentangan
  • Teori Hubungan Masyarakat
    Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
  • Teori Negosiasi PrinsipMenganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.

  • Teori Kebutuhan ManusiaBerasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia yaitu fisik, mental, dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan.


C. ANALISIS

Dari kasus konlik yang terjadi di Tanjung Balai ini dapat kita analisis kedalam beberapa point penting seperti :

1) Penyebab Konflik
  • Kurangnya ToleransiDalam peristiwa Tanjung Balai ini penyebab utama dari konflik adalah kurangnya toleransi anatar kedua belah pihak yaitu seorang dari etnis tiong howa yang pada saat itu mengkritik suara Adzan di masjid yang menurutnya terlalu keras.

    Hal ini juga sejalan dengan teori konflik “ Negosiasi Prinsip” dimana konflik dimulai dari posisi-posisi yang tidak selaras dan juga perbedaan pandangan dalam hal ini adalah perempuan yang memandang salah satu ritual keagamaan umat islam dalam hal ini Adzan yang dianggap menggangu dan umat islam yang memandang protes yang dilayangkan perempuan etnis Tionhoa merupakan penistaan agama.
  • Kegagalan KomunikasiDalam masalah ini terjadi kegagalam komunikasi Sekunder Secondary Breakdown Commnication diamana pandangan persepsi yang diungkapkan perempuan etnis Tionghoa kepada warga beragama islam saat itu justru menimbulkan konflik yang berujung tindakan Anarkis.

    Kegagalan komunikasi Sekunder ini terjadi apabila komunikasi yang berlangsung salah dimengerti dan berujung pada tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan keinginan-keinginan komunikator.
Selain beberapa faktor diatas, faktor global juga turut mempengaruhi masyarakat berperilaku temperamental, cepat marah dan emosi. Penyebab Mudah Konflik selain lima faktor yang dikemukakan di atas, penyebab mudahnya meledak konflik, karena masyarakat membentuk klaster, kumpulan, dan kelompok berdasarkan agama, suku, etnik, pekerjaan, dan sebagainya. Disamping itu, masyarakat yang difasilitasi pemodal membangun tempat tinggal berdasarkan stratifikasi sosial ekonomi. Mereka yang kaya tinggal di kawasan yang exclusive, sementara mereka yang miskin tinggal di kawasan yang padat dan kumuh. Juga dalam rangka pembangunan dan penataan kota, mereka yang miskin digusur dan ditempatkan di rumah susun sewa (rusunawa).

2) Langkah Mengatasi Konflik

Dalam mengatasi kasus SARA yang terjadi di Tanjung balai ini, berikut adalah beberapa solusi penaganan permasalahan seperti :
  1. Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik.
  2. Mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.
  3. Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap.
  4. Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.
  5. Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
  6. Agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak.

D. KESIMPULAN

Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Negara kita Indonesia dihuni berbagai suku ras dan juga agama sehingga sangat mustahil hidup bersama tanpa adanya konflik.

Hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.

Seperti halnya konflik Tanjung Balai, konflik-konflik lain di Nusantara ini masih sangat mungkin terjadi selama masih ada komunikasi. 

E. SARAN

Dengan tersusunya makalah ini penulis dapat rangkum beberapa saran seperti :
  • Toleransi bangsa Indonesia yang harusnya lebih dipertebal karena mustahil dapat hidup rukun dalam kemajemukan tanpa ada rasa toleransi.
  • Pemahaman dan pengetahuan antar budaya yang harus ditingkatkan karena hanya dengan memahami antara masing-masing pihak diharapkan akan mampu membangun kebersamaan diatas perbedaan
  • Mengurangi stereotip negatif tentang pihak lain.
  • Meningkatkan efektifitas Komunikasi Antar Budaya.

" Analisis Konflik & Pluralisme "Kasus Sara - Tanjung Balai" - Komunikasi Antar Budaya "