Perubahan Sosial dan Budaya Massa - Sosiologi Komunikasi - Dunia Public Relations

Terbaru

Friday, February 24, 2017

Perubahan Sosial dan Budaya Massa - Sosiologi Komunikasi

PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA MASSA
SOSIOLOGI KOMUNIKASI


Perubahan Sosial - adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, di mana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem sosila lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial yang baru.

Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur budaya dan sistem sosial lama dan mulai beralih menggunakan unsur-unsur budaya dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosila dipandang sebagai konsep yang serba mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, negara, dan dunia yang mengalami perubahan.

Hal-hal yang penting dalam perubahan sosial menyangkut aspekaspek sebagai berikut, yaitu; perubahan pola pikir masyarakat, perubahan budaya materi. Pertama perubahan pola pikir dan sikap masyarakat menyangkut persoalan sikap masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya di sekitarnya yang berakibat pada pemetaraan pola-pola pikir baru yang dianut oleh masyarakat sebagai sebuah sikap yang modern. Contohnya sikap terhadap pekerjaan bahwa konsep dan pola pikir lama tentag pekerjaan adlah sector formal (menjadi pegawai negeri), sehingga konsep pekerjaan dibagi menjadi dua, yaiut sektor formal dan informal.

Saat ini terjadi perubahan terhadap konsep kerja lama di mana pekerjaan konsep tidak sebagai sektor formal (menjadi pegawai negeri), akan tetapi di mana saja yang penting menghasilkan uang yang maksimal, dengan demikian konsep kerja menjadi sektor formal, yaiut bekerja di pemerintahan, sektor swasta yaitu bekerja pada perusahaan swasta besar, sektor informal yaitu sebagai wiraswasta kecil, kaki lima, LSM dan sebagainya, serta sektor lepas yaitu bekerja sebagai secara kontrakan di berbagai kegiatan, proyek dan sebagainya. Kedua, perubahan perilaku masyarakat menyangkut persoalan perubahan sistem-sitem sosial, di mana masyarakat meninggalkan sistem sosila lama dan menjalankan sistem sosial baru, seperti perubahan perilaku pengukuran kinerja suatu lembga atau instansi.

Apabila pada sistem lama, ukuran-ukuran kinerja hanya hanya dilihat dari aspek output dan proses tanpa mengukur sampau di mana sebuah lembaga atau instansi diukur sampai pada tingkat kinerja output dan proses tersebut. Ketiga, perubahan budaya materi menyangkut perubahan artefak budaya yang digunakan oleh masyarakat, seperti model pakaian, karya fotografi, karya film,teknologi, dan sebagainya yang terus berubah dari waktu ke waktu menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Artikel tekait :


PROSES PERUBAHAN SOSIAL


social change

Pada dewasa ini proses-proses pada perubahan sosial dapat diketahui dari adanya ciri tertentu sebagai berikut:
  1. Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya karena setiap masyarakat mengalami perubahan yang terjadi sangat lambat atau secara cepat.
  2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu, akan diikuti dengan perubahan pada lembaga sosial lainnya. Karena lembaga sosial tadi sifatnya interpenden, maka sulit sekali untuk mengisolasi perubahan pada lembaga sosial tertentu saja. Proses awal dan proses selanjutnya merupakan suatu mata rantai.
  3. Perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara karena berada dalam proses penyesuaian diri. Disorgaisasi akan diikuti oleh suatu reorganisasi yang mencakup pemantapan kaidah-kaidah dan nilai lain yang baru.
  4. Perubahan-perubahan yang tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja karena kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang sangat kuat.


Perubahan Sosial secara Tipologis

Secara tipologis, perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai berikut:
  • Social process: the circulation of various rewards, facilities, and personnel in an existing structure.
  • Segmentation: the proliferation of structural units that do not differ qualitatively from existing units.
  • Structural change: the emerge of qualitatively new complexes of roles and organization.
  • Changes in group structure: the shifts in the composition of groups, the level of conciousnes of group, and the relations among the group in society.

Perubahan Lambat dan Cepat

Perubahan-perubahan yang mmerlukan waktu lama, dan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi karena usaha-uasaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan yang terjadi tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

Perubahan Kecil dan Besar

Sebagai pegangan dapatlah dikatakan bahwa perubahan kecil merupakan perubahan yang terjadi pada unsur struktur sosial yang tidak dapat membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian misalnya, tak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan pada lembaga kemasyarakatan. Sebaliknya suatu proses industrialisasi yang berlangsung pada masyarakat agraris misalnya, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Pelbagai lembaga kemasyarakatan akan ikut terpengaruhimisalnya hunungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.

Perubahan yang Dikehendaki dan yang Tidak Dikehendaki

Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang telah diperkirirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebgai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan.

agent of change, sosiologi komunikasiAgent of Change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. Dalam melaksanakannya, agent of change langsung tersangkut dalam tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan pada lembaga kemasyarakatan lainnya.

Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan dirncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau sering pula dinamakan perencanaan sosial (social planning).

Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Apabila perubahan yang tidak dikehendaki tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan yang dikehendaki, perubahan tersebut mungkin mempunyai pengaruh demikian besarnya terhadap perubahan yang dikehendaki. 

Dengan demikian keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa mendapat halangan masyarakat itu sendiri. Atau dengan kata lain, perubahan yang dikehendaki diteria oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan pada lembaga kemasyarakatan yang ada atau dengan cara membentuk yang baru. Sering kali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling mempengaruhi.

Konsep perubahan yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki tidak mencakup apakah perubahan tadi diharapkan atau tidak diharapkan oleh masyarakat. Mungkin suatu perubahan yang tidak dikehendaki sangat diharapkan dan diterima oleh masyarakat. Bahkan para agent of change merencanakan perubahan yang dikehendaki telah memperhitungkan terjadinya perubahan-perubahan yang tidak terduga (dikehendaki) di bidang lainnya. 

Pada umumnya sulit mengadakan ramalan tentang terjadinya perubahan yang tidak dikehendaki. Karena proses tersebut biasanya tidak hanya merupakan akibat dari satu gejala sosial saja, tetapi dari pelbagai gejala sosial sekaligus.

Faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan Kebudayaan
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa mungkin ada sumber sebab tersebut yang terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar. Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut:
  1. Bertambahnya atau Berkurangnya Penduduk
    Pertambahan penduduk yang sangat cepat di pulau Jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembag kemasyarakatan. Misal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal.
  2. Penemuan Baru
    Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama diseut dengan inovasi atau innovation. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan.
  3. Pertentangan (Conflict) Masyarakat
    Pertentangan (Conflict) masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosila dan kebudayaan. Pertentangan mungkin terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok.

Suatuperubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri, antara lain sebgai berikut: 
  • Sebab-sebab yang berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia.
    Misalnya terjadinya gempa bumi, topan, banjir besar, dan lain-lain mungkin menyebabkan masyarakat yang mendiami daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat mendiami tempat tinggalnya yang baru, mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersebut.

    Kemungkinan hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada lembaga kemasyarakatannya. Bagi suatu masyarakat yang mulamula hidup dari berburu, kemudian menetap di suatu daerah pertanian, perpindahan itu akan melahirkan perubahan dalam diri masyarakat, misalnya timbul lembag kemasyarakatan baru yaitu pertanian.

    Sebab yang bersumber pada lingkungan alam fisik kadang-kadang ditimbulkan oleh tindakan para warga masyarakat itu sendiri. Misal penggunaan tanah secara sembrono tanpa memperhitungkan kelestarian humus tanah, penebangan hutan tanpa memikirkan penanaman kembali dan lainnya.

  • Peperangan
    Peperangan dengan negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan, karena negara yang menang akan memaksakan kebudayaan pada negara yang kalah. Cotohnya negara yang kalah dalam Perang Dunia Kedua, banyak mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya. Seperti negara Jerman dan Jepang mengalami perubahan besar dalam masyarakatnya.

  • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
    Apabila sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain, itu mungkin terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Artinya masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat lainnya tapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain.
Apabila hubungan tersebut berjalan melalui alat komuniaksi massa, ada kemungkinan pengaruh hnya dating dari satu pihak saja, yaitu dari masyarakat pengguna alat komunikasi tersebut. Sementara itu, pihak lain menerima tanpa mempunai kesempatan memberikan pengaruh balik. Apabila pengaruh dari masyrakat tersebut diterima karena paksaan, hasinya dinamakan demonstration effect. Proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing dalam antropologi budaya disebut akulturasi.

Di dalam pertemuan dua kebudayaan tidak selalu akan terjadi proses saling mempengaruhi. Kadangkala pertemuan dua kebudayaan yang siembang kan menolak. Keadaan semacam itu dinamakan cultural animosity. Cultural animosity yang ada hingga kini adalah antara Surakarta dengan Jogjakarta yang dapat dikembalikan pada 1775, kemudian perjanjian Salatiga pada 1757.

Pertemaun kedua kebudayaan ini mula-mula diawali dengan pertentangan fisik yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan dalam segi-segi kehidupan lainnya. Sampai sekarang corak pakaian kedua belah pihak tetap berbeda, demikian pula taritariannya, seni music tradisional, gelar kebangsawanan, dan seterusnya. Padahal mereka berasal dari sumber dan dasar yang sama, yaitu kebudayaan khusus (sub-culture) Jawa.

Apabila salah satu dari dua kebudayaan yang bertemu mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah proses imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur kebudayaan lain. Mula-mula unsur tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli. Akan tetapi lambat laun unsur kebudayaan asli diubah dan diganti dengan unsur kebudayaan asing tersebut.

" Perubahan Sosial dan Budaya Massa - Sosiologi Komunikasi "

No comments:

Post a Comment