Pendekatan dalam Komunikasi NON VERBAL

PENDEKATAN DALAM KOMUNIKASI NON VERBAL

Komunikasi Non Verbal - Adalah sebuah cara penyampaian pesan dimana prosesnya tidak menggunakan kata-kata ataupun tulisan melainkan melalui isyarat, grak-gerik, wanra-warna, bau-bauan dan lain-lain.

Banyak ahli ataupun ilmuan yang memiliki pandangan mengenai Komunikasi Non Verbal, seperti yang ingin Dunia Public Relations bahas pada kesempatan kali ini yaitu "Pendekatan dalam Komunikasi Non Verbal"
Baca juga :

KOMUNIKASI NON VERBAL DAN BERBAGAI PENDEKATAN


Tiga Perspektif Teoritis Terhadap Komunikasi Non Verbal :
  • The ethological approach
  • Anthropological approach
  • Functional approach (pendekatan fungsional)

1. The ethological approach

(Studi mengenai kesamaan-kesamaan antara perilaku manusia dengan perilaku binatang). Menurut Darwin, emosi manusia, seperti halnya emosi binatang dapat dilihat dari wajahnya. Morris, Darwin, Ekman, dan Friesen, sesuai pandangan percaya bahwa ekspresi non verbal pada budaya manapun esensinya sama karena komunikasi non verbal tidak dipelajari, tapi bagian alami. Contohnya, senyuman dan ekspresi wajah.

Teori Struktur Kumulatif Ekman dan Friesen, memfokuskan analisisnya pada makna yang diasosiasikan dengan kinesik. Teori ini disebut juga “cumulative structure atau meaning centered”. Sebab, lebih banyak membahas mengenai makna yang berkaitan dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah daripada struktur perilaku.

Asumsi mereka bahwa komunikasi non verbal merefleksikan dua hal, yaitu :
  • Apakah suatu tindakan yang disengaja?
  • Apakah tindakan harus menyertai pesan verbal?
Lima kategori expressive behavior :
  1. Emblem.
  2. Ilustrator.
  3. Regulator.
  4. Adaptor.
  5. Penggambaran perasaan.
Teori Tindakan (action theory)
Pandangan mengenai kinesik yang lebih didasarkan pada tindakan. Menurut Morris, perilaku tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbagi kedalam suatu rangkaian panjang peristiwa yang terpisah-pisah.

Lima kategori yang berbeda dalam tindakan, yaitu :
  1. Pembawaan (inborn). Merupakan instink sejak lahir.
  2. Ditemukan (discovered). Diperoleh secara sadar dan terbatas struktur genetik tubuh.
  3. Diserap (absorb). Diperoleh secara tidak sadar melalui interaksi.
  4. Dilatih (trained). Diperoleh dengan belajar.
  5. Campuran (mixed). Diperoleh melalui berbagai macam cara yang mencakup empat hal di atas.

2. Anthropological approach (pendekatan antropologi).

Menganggap komunikasi non verbal terpengaruh oleh kultur atau masyarakat (Birdwhistell dan Edward T Hall) 

Teori analogi linguistik.
Diasumsikan bahwa komunikasi non verbal memiliki struktur yang sama dengan komunikasi verbal Teori analogi linguistik mendasarkan penjelasan pada asumsi berikut :
  1. Terdapat tingkat saling ketergantungan yang tinggi antara kelima indra.
  2. Komunikasi kinesik berbeda antar kultur dan bahkan antara mikrokultur. tidak terdapat pada plilaku kinesik
  3. Tidak simbol bahasa tubuh yang universal.
  4. Prinsip-prinsip pengulangan (redundancy)
  5. Perilaku kinesik lebih primitif dan kurang terkendali.
Kita harus membandingkan tanda-tanda non verbal secara berulangulang sebelum dapat memberikan interpretasi yang akurat.

Analogi kultural
Membahas komunikasi non verbal dari aspek proxemics dan chronemics. Proksemik mengacu kepada penggunaan ruang sebagai ekspresi spesifik kultur. Ruang yang dimaksud disini disebut lingkungan, teritorial, dan personal.

Tiga jenis ruang, yaitu :
  1. Informal space/ Personal space (ruang terdekat yang mengitari kita).
  2. Fixed feature space, benda di lingkungan kita yang relatif sulit bergerak.
  3. Semi fixed feature space, barang-barang yang dapat dipindahkan.
Delapan faktor yang menentukan preferensi :
  1. Jenis kelamin dan posisi saat berinteraksi.
  2. Pandangan (angle) yang terbentuk oleh bahu, dada, punggung dari orang yang berkomunikasi (sociofugal-sociopetal axis).
  3. Posisi badan ketika berkomunikasi.
  4. Sentuhan dan jenis sentuhan (zero prxemic).
  5. Frekuensi dan cara-cara kontak mata (visual code)
  6. Thermal code.
  7. Olfactory code ( bau yang tercium).
  8. Volume suara (voice loudness).

3. Functional approach (pendekatan fungsional).

Memandang komunikasi non verbal sebagai tujuan dan dibatasi oleh suatu kerangka waktu tertentu. Norma-norma kultural dianggap sebagai sesuatu yang sudah ada (given) dan diperhitungkan dalam kerangka waktu sebagai variasi kultural.

Teori Metaforis dari Mehrabian
Mehrabian, menempatkan perilaku non verbal kedalam pengelompokan fungsi. Ia memandang komunikasi non verbal berada diantara tiga kontinum, yaitu :
  • Dominan- submisif; menyenangkan tidak menyenangkan; menggairahkan dan tidak menggairahkan. 
  • Metafora kekuasaan-status mencerminkan tingkatan dimana perilaku nonverbal mengkomunikasikan dominan-submisi. Metafora kesukaan didasarkan pada kontinum menyenangkan-tidak menyenangkan. Metafora responsif didasarkan pada kontinum menggairahkan-tidak menggairahkan.
Teori Equilibrium (Michael Argyle dan Janet Dean)
Teori komunikasi nonverbal yang didasarkan pada suatu metafora keintiman-equilibrium. Ketika berinteraksi, kita mengalami atau menggunakan seluruh saluran komunikasi yang ada. Dan, suatu perubahan dalam satu saluran nonverbal akan menghasilkan perubahan pada saluran lainnya.

Teori Fungsional dari Patterson 

Lima fungsi komunikasi nonverbal, yaitu :
  1. Memberikan informasi.
  2. Mengekspresikan keintiman.
  3. Mengatur interaksi.
  4. Melaksanakan kontrol sosial.
  5. Membantu pencapaian tujuan.
Teori Fungsional Komunikatif (Burgoon)
Teori ini memfokuskan kepada kegunaan, motif, atau hasil dari komunikasi. Burgoon menjelaskan peran komunikasi nonverbal terhadap hasil komunikasi. Teori ini memandang suatu inisiatif untuk berinteraksi sebagai bersifat multifungsional dan sebagai bagian penting dari proses komunikasi.

" Pendekatan dalam Komunikasi NON VERBAL "