Lapisan Masyarakat (stratifikasi sosial) - Sosiologi Komunikasi - Dunia Public Relations

Terbaru

Thursday, February 23, 2017

Lapisan Masyarakat (stratifikasi sosial) - Sosiologi Komunikasi

LAPISAN MASYARAKAT (STRATIFIKASI SOSIAL)
SOSIOLOGI KOMUNIKASI


Stratifikasi Sosial (Social Stratification) - Stratifikasi atau strata sosial adalah struktur sosial yang berlapis – lapis di dalam masyarakat. Lapisan sosial menunjukkan bahwa masyarakat memiliki strata, mulai dari yang terendah sampai yang paling tinggi. Secara fungsional, lahirnya strata sosial ini karena kebutuhan masyarakat terhadap sistem produksi yang dihasilkan oleh masyarakat di setiap strata, di mana sistem produksi itu mendukung secara fungsional masing – masing strata.

Secara umum, strata sosial di masyarakat melahirkan kelas – kelas sosial yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu atas (Upper Class), menengah (Middle Class) dan bawah (Lower Class).


TERJADINYA LAPISAN MASYARAKAT


Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Akan tetapi, ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas – batas tertentu.

Lapisan Sistem Sosial

Ada dua tipe sistem lapisan sosial, yaitu : 
  1. Dapat terjadi dengan sendirinya
  2. Sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama
Pedoman untuk meneliti pokok – pokok terjadinya proses lapisan dalam masyarakat mempunyai arti khusus bagi masyarakat –masyarakat tertentu.

Sistem lapisan dapat dianalisis dalam arti – arti sebagai berikut :
  • Distribusi hak – hak istimewa yang obyektif seperti penghasilan, kekayaan, keselamatan. (kesehatan, laju kesehatan).
  • Sistem pertanggaan yang diciptakan oleh para warga masyarakat (prestise dan penghargaan)
  • Kriteria sistem pertentangan dapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
  • Lambang – lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi.
  • Mudah – sukarnya bertukar kedudukan ;
  • Solidaritas di antara individu atau kelompok – kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat :
  • Pola – pola interaksi (struktur klik, keanggotaan organisasi, perkawinan dan sebagainya)
  • Kesamaan atau ketidaksamaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai – nilai ;
  • Kesadaran akan kedudukan masing – masing
  • Aktivtas sebagai organ kolektif

UNSUR-UNSUR LAPISAN MASYARAKAT

Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role).
  • Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang – orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak – hak serta kewajiban – kewajibannya.
KEDUDUKAN
Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu sebagai berikut :
  • Ascribed status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan – perbedaan rohaniah dan kemampuan.
  • Achieved status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha – usaha yang disengaja.
Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran. Akan tetapi, bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan masing – masing dalam mengejar serta mencapai tujuan – tujuannya.

Misalnya, Setiap orang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi persyaratan tetertentu. Demikian pula setiap orang dapat menjadi guru dengan memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu yang semuanya tergantung pada usaha – usaha dan kemampuan yang bersangkutan untuk menjalaninya.

PERAN (ROLE)
Unsur lapisan masyarakat yang kedua adalah Peran (Role). Peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan.

Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu social-position) merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada organisasi masyarakat. Pembedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya.

Peranan mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut :
  1. Peranan meliputi norma – norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
  2. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
  3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat

STRUTUR MASYARAKAT


Kelompok Sosial
Kehidupan kelompok adalah sebuah naluri manusia sejak ia dilahirkan. Naluri ini yang mendorongnya untuk selalu menyatukan hidupnya dengan orang lain dalam kelompok. Naluri kelompok itu juga yang mendorong manusia untuk menyatukan dirinya dengan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan manusia lain di sekelilingnya bahkan mendorong manusia menyatu dengan alam fisiknya.

Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau kesatuan – kesatuan manusia yang umumnya secara fisik relatif kecil yang hidup secara guyub. Ada juga beberapa kelompok sosial yang dibentuk secara formal dan memiliki aturan – aturan yang jelas.

Ada 4 kelompok sosial yang dapat dibagi berdasarkan struktur masing – masing kelompok tersebut.

1. Kelompok Formal – Sekunder. 
Adalah kelompok sosial yang umumnya bersifat sekunder, bersifat formal, memiliki aturan dan struktur yang tegas, serta dibentuk berdasarkan tujuan – tujuan yang jelas pula.

Kelompok sosial formal – sekunder memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
  • Adanya kesadaran anggota bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  • Setiap anggota memiliki hubungan timbal balik dengan anggotalainnya dan bersedia melakukan hubungan – hubunga fungsional di antara mereka
  • Setiap anggota kelompok menyadari memiiki faktor – faktor kebersamaan di antara mereka, di mana kebersamaan ini mendorong kohesifitas kelompok itu sendiri. Fakto – faktor itu umpanya ; kepentingan bersama, nasib yang sama, tujuan yang sama, ideologi yang sama, primordialisme, memiliki ancaman yang sama, termasuk juga memiliki harapan – harapan yang sama.
  • Kelompok sosial ini memiliki struktur yang jelas dan tegas, termasuk juga prosedur sukses dan kaderisasi.
  • Memiliki aturan formal yang mengikat setiap anggota kelompok dalam struktur yang ada termasuk juga mengatur mekanisme struktur dan sebagainya.
  • Anggota dalam kelompok formal sekunder memiliki pola dan pedoman perilaku sebagaimana oleh kelompok secara umum.
  • Kelompok sosial ini memiliki formal skunder memiliki pola dan pedoman perilaku sebagaimana diatur oleh kelompok secara umum.
  • Kelompok sosial formal – sekunder memiiki kekuatan mempertahankan diri, mengubah diri (adaptasi), rehabilitasi diri, serta kemampuan menyerang kelompok lain.
  • Kelompok sosial formal – sekunder memiliki masa (umur) hidup yang dikendalikan oleh faktor – faktor internal dan eksternal.
2. Kelompok Formal – Primer.
Adalah kelompok sosial yang umumnya bersifat formal, bersifat formal namun keberadaannya bersifat primer. Kelompok ini tidak memiliki aturan yang jelas, walaupun tidak dijalankan secara tegas.

Secara umum bahwa kelompok formal – primer memiliki sifat – sifat yang dimiliki oleh kelompok formal – sekunder, seperti ;
  • Setiap anggota yang sadar menjadi bagian dari kelompok itu, memiliki kesadaran bersama bahwa ia bagian dari kelompok yang bersangkutan ; 
  • Setiap anggota memiliki hubungan timbal balik dengan anggota lainnya yang terjadi secara intensif dan bersedia melakukan hubungan – hubungan fungsional di antara mereka berdasarkan pada kedekatan dan kepentingan di antara mereka.
  • Setiap anggota kelompok menyadari memiliki faktor kebersamaan di antara mereka yang mendorong kohesifitas kelompok itu sendiri.
3. Kelompok Informal – Sekunder.
Adalah kelompok sosial yang umumnya informal namun keberadaannya bersifat sekunder. Kelompok ini bersifat tidak mengikat, tidak memiliki aturan dan struktur yang tegas serta dibentuk berdasarkan sesaat dan tidak mengikat bahkan bisa terbentuk walaupun memiliki tujuan – tujuan kurang jelas.

4. Kelompok Informal – Primer.
Adalah kelompok sosial yang terjadi akibat meleburnya sifat – sifat kelompok sosial formal – primer atau disebabkan karena pembentukan sifat – sifat diluar kelompok formal – primer.

Pada umumnya kelompok sosial adalah kelompok sosial yang teratur, artinya mudah diamati dan memiliki struktur yang relatif jelas. Ada pula kelompok sosial yang tidak teratur, artinya sulit diamati strukturnya dan sifatnya sementara seperti kerumuan dan publik. Kerumuan (crowd) merupakan kelompok manusia yang terbentuk secara kebetulan, tiba – tiba (suddenly) daam suatu tempat dan waktu yang sama karena kebetulan memiliki pusat perhatian yang sama.


PERGAULAN DALAM KELOMPOK


Pergaulan dalam kelompok memengaruhi dan menghasilkan kebiasaan – kebiasaan yang melembaga bagi setiap anggota kelompok, kebiasaan itu menciptakan pola perilaku yang dilakukan terus – menerus. Perilaku yang sudah terpola – pola itu akan membentuk sikap setiap anggota kelompok. Kebiasaan yang melembaga, perilaku dan sikap tersebut berjalan secara simultan di antara individu dan kelompok.

Menurut Berger dan Luckman, pergaulan dalam kelompok dapat membentuk konstruksi sosial. Proses Konstruks Sosial yang terjadi secara simultan dalam tiga proses, yaitu eksternalisasi, obyektivitas, internalisasi. Sehingga pada tahap berikutnya individu akan menginternalisasikan semua sikap dan perilaku yang diperoleh dari kelompoknya dalam kehidupan pribadinya.


Kelas Sosial

Kelas sosial dengan strata sosial tertentu adakalanya terbentuk dengan sendirinya, ada pula yang dibentuk berdasarkan hukumnya. Strata kelas sosial yang terbentuk dengan sendirinya adalah berkerabat, harta dalam batas – batas tertentu. Sedangkan strata kelas sosal yang dibentuk berdasarkan tujuan tertentu adalah seperti pemimpin dan yang dipimpin, yang memiliki kekayaan dan yang tidak, dan yang memiliki kekuasaan atau yang rakyat biasa.

Dasar pembentukan kelas sosial adalah (a) ukuran kekayaan, (b) ukuran kepercayaan, ( c ) ukuran ilmu pengetahuan dan pendidikan. 

Mobilitas Sosial

Secara umum ada tiga jenis mobilitas sosial, yaitu gerak sosial yang meningkat (social climbing), gerak sosial menurun (social sinking), dan gerak sosial horizontal.

Ketiga jenis mobilitas sosial ini dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja sesuai dengan bagaimana seseorang mengekspresikan lingkungan sosial dan bagaimana lingkungan sosial mengekspresikan seseorang secara timbal balik.

Lembaga (Pranata) Sosial

Lembaga (Pranata) Sosial adalah sekumpulan tata aturan yang mengatur interaksi dan proses – proses sosial di dalam masyarakat. Lembaga sosial memungkinkan setiap struktur dan fungsi serta harapan – harapan setiap anggota dalam masyarakat dapat berjalan dan memenuhi harapan sebagaimana yang disepakati bersama. Dengan kata lain lembaga sosial digunakan untuk menciptakan ketertiban (order).

Proses Pertumbuhan Lembaga Kemasyarakatan
1. Norma – norma Masyarakat
Hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, dirumuskan norma – norma masyarakat. Norma – norma yang ada di dalam masyarakat, mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda – beda.

Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma – norma tersebut, secara sosiologis dikenal adanya 4 pengertian, yaitu :
  1. Cara (Usage) menunjuk pada suatu bentuk perbuatan
  2. Kebiasaan (folkways) adalah perbuatan yang diulang – ulang dalam bentuk yang sama.
  3. Tata kelakuan (mores) merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan diterima norma – norma pengatur
  4. Adat istiadat (customs) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola – pola perilaku masyarakat.
  5. Sistem Pengendalian Sosial (Social Control)
Pengendalian sosial berarti suatu pengawasan dari masyarakat. Pengendalian sosial terutama bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan – perubahan dalam masyarakat atau suatu sistem pengendalian sosial bertujuan untuk mencapai keadaan damai melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan / kesebandingan.

Wujud Konkret dari pranata sosial adalah aturan, norma, adat istiadat dan semacamnya yang mengatur kebutuhan masyarakat dan telah terinternalisasi dalam kehidupan manusia, dengan kata lain paranata sosial adalah sistem norma yang telah melembaga atau menjadi kelembagaan di suatu masyarakat. Misalnya, kebutuhan orang terhadap penyembuhan penyakit, menghasilkan kedokteran, dukun dan alternatif lainnya

Perwujudan pengendalian sosial tidaklah masing – masing berdiri sendiri di dalam wujudnya yang murni, tetapi mungkin merupakan kombinasi antara berbagai wujud sebagai alternatif. Di Indonesia,misalnya, dikenal adanya delik aduan, yang tergantung pada inisiatif korban. Di dalam kenyatannya, masing – masing wujud tersebut akan menonjol pada situasi – situasi tertentu, yang merupakan suatu refleksi dari keadaan masyarakat.

Dengan adanya norma – nroma tersebut, di dalam setiap masyarakat diselenggarakan pengendalian sosial atau social control. Apabila perilaku manusia diatur oleh hukum tertulis atau perundang – undangan (yakni mengikat umum), maka diselenggarakan pengendalian sosial formal (formal social control). 

Artinya norma – norma hukum tertulis tersebut berasal dari pihak – pihak yang mempunyai kekuasaan dan wewenang formal. Akan tetapi tidak jarang pengendalian sosial diselenggarakan dengan norma – norma lain (yang bukan tertulis) atau upaya – upaya lain, seperti pendidikan, agama, desas desus dan seterusnya.

" Lapisan Masyarakat (stratifikasi sosial) - Sosiologi Komunikasi "

No comments:

Post a Comment