Kelompok & Organisasi - Sosiologi Komunikasi

KELOMPOK & ORGANISASI
SOSIOLOGI KOMUNIKASI


Memahami Kelompok - Kebanyakan kita menggunakan istilah kelompok secara bebas untuk menggambarkan manusia yang berkumpul, baik itu tiga orang asing di sebuah lift maupun ratusan orang di sebuah konser musik rock. Namun dalam sosiologi istilah kelompok (group) diartikan sebagai sejumlah manusia dengan norma, nilai dan harapan yang sama saling berinterkasi secara teratur. Klub mahasiswi dan persaudaran, sanggra tari, asosiasi penyewa, dan klub catur dapat dikategorikan sebagai kelompok.


Tipe – tipe Kelompok

Sosiolog telah membuat sejumlah pembedaan yang berguna di antara tipe-tipe tersebut, diantaranya : kelompok-kelompok primer dan sekunder, kelompok dalam dan kelompok luar, dan kelompok referensi / rujukan.

Tentang PR Lainya :


KELOMPOK PRIMER DAN SEKUNDER

kelompok group, kelompok skunder, group, soskom

Charles Horton Cooley (1902) mngusulkan istilah kelompok primer (primary group) untuk merujuk pada kelompok kecil yang dicirikan oleh intimitas, asosiasi tatap muka dan kerja sama. Para anggota geng jalanan membentuk kelompok primer, begitu juga anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah dan kelompok “saudara” dalam klub mahasiswi.

Kelompok primer memainkan peran vital baik dalam proses sosialisasi maupun pembangunan peran dan status. Kenyataannya kelompo primer dapat berfungsi bagi keberadaan orang sehari-hari. Ketika kita mengidentifikasi bahwa diri kita melekat pada sebuah kelompok, itu kemungkinan besar adalah kelompok primer. Kita juga berpartisipasi dalam banyak kelompok yang tidak dicirikan oleh ikatan persahabatan yang erat, seperti kelas kuliah yang besar dan asosiasi bisnis.

Istilah kelompok sekunder (secondary group) merujuk pada sebuah kelompok formal impersonal dimana ada sedikit kedekatan sosial atau saling mengerti. Kelompok sesekunder sering muncul di tempat kerja di antara mereka yang berbagi pemahaman khusus tentang pekerjaannya. Pembedaan antara kelompok primer dan sekunder tidaklah selalu jelas bagaimanapun juga. Beberapa klub sosial mungkin menjadi besar dan impersonal yang mereka tidak lagi berfungsi sebagai kelompok primer.

KELOMPOK DALAM DAN KELOMPOK LUAR


Sebuah kelompok dapat memiliki makna khusus bagi para anggotanya karena hubungannya dengan kelompok lain. Sebagai contoh, seseorang dalam satu kelompok terkadang merasa bertentangan atau terancam oleh kelompok lain, khususnya jika kelompok tersebut dinggap berbeda secara budaya atau ras. 

Kelompok dalam (in group) dapat didefinisikan sebagai kelompok atau kategori apapun dimana orang merasa nyaman di dalamnya. Singkatnya, kelompok tersebut terdiri atas siapa saja yang dianggap “kita” atau “kami”. Kelompok dalam dapat sebatas sebuah keompok remaja atau seluas seluruh masyarakat. Keberadaan dari sebuah kelompok dalam menyiratkan bahwa ada sebuah kelompok luar yang dilihat sebagai “mereka”.

Kelompok luar (out group) adalah kelompok atau kategori dimana orang tidak merasa termasuk di dalamnya.

Anggota kelompok dalam biasanya merasa berbeda dan unggul, serta melihat dirinya lebih baik daripada mereka di kelompok luar. Perilaku yang pas untuk kelompok dalam secara bersamaan dilihat sebagai perilaku yang tidak pantas bagi kelompok luar. Standar ganda ini meningkatkan rasa superior. Sosiolog Robert Merton (1968) menggambarkan proses ini sebagai perubahan “kebajikan kelompok dalam” menjadi “kejahatan kelompok luar”. Kita dapat melakukan tolok ukur ini dalam diskusi tentag terorisme.

KELOMPOK REFERENSI (Rujukan)

Baik kelompok primer maupun kelompok dalam dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku seseorang secara dramatis. Sosiolog menyebut bahwa setiap kelompok yang digunakan individu sebagai sebuah standar untuk melihat dirinya dan perilakunya sebagai sebuah kelompok referensi (reference group). Kelompok referensi memiliki dua tujuan pokok. Mereka melayani fungsi normative dengan menetapkan dan menjalankan aturan berperilaku dengan keyakinan. Siswa sekolah menengah yang ingin diterima oleh perkumpulan hip-hop harus mengikuti perintah kelompok, setidaknya sampai batas waktu tertentu.

KOALISI

Seiring kelompok membesar, koalisi mulai berkembang. Koalisi (coaitation) adalah aliansi sementara atau permanen yang diarahkan utnuk tujuan bersama. Kolaisi bisa lebar atau sempit dan menyasar pada tujuan yang berbeda. Sosiolog William Julius Wilson (1999) telah mendeskripsikan organisasi berbasis komunitas di Texas yang terdiri dari kulit putih dan Latin serta kelas pekerja dan borjuis yang telah bersatu untuk bekerja sama meningkatkan kualitas trotoar, sistem drainase yang lebih baik, dan jalanan trotoar yang sempurna.

Dari pembentukan koalisi jenis ini, Wilson berharap akan muncul pemahaman antar ras yang lebih baik. 


MEMPELAJARI KELOMPOK KECIL


Istilah kelompok kecil (small group) merujuk pada sebuah kelompok yang kecil bagi semua anggotanya untuk berinteraksi secara bersamaan –yaitu berbicara satu sama lain atau setidaknya bisa akrab. Beberapa kelompok primer, seperti keluarg dapat diklasifikasikan sebagai kelompok kecil. Namun kelompok kecil bisa berbeda dengan kelompok primer karena mereka tidak harus menawarkan hubungan kedekatan personal seperti ciri kelompok primer. 

Sebagai contoh sebuah manufakturdapat mengumpulkan tujuh anggota staf penjualan di daerah dua kali setahun utuk sebuah pertemuan staf penjualan secara intensif. Para penjual itu, yang tinggal di kota yang berbeda dan jarang berjumpa satu sama lain, merupakan kelompok sekunder kecil, bukan kelompok primer.


Ukuran Sebuah Kelompok

Ukuran sebuah kelompok Pada batas apakah sekumpulan orang menjadi terlalu besar untuk disebut sebagai keompok kecil? Hal ini tidak jelas.

Ukuran kelompok juga memiliki implikasi sosial yang nyata bagianggota yang tidak mementingkan peran pemimpin. Pada kelompok yang lebih besar, setiap anggota memilik waktu lebih sedikit untuk bicara, lebih banyak sudut pandang yang harus diterima dan struktur yang lebih rumit untuk dapat berjalan.

Berpikir Kelompok

Berpikir kelompok Untuk mendeskripsikan penerimaan tidak kritis atau kesesuaian cara pandang-sebuah fenomena yang kerap mencirikan pengambilan keputusan kelompok-Whyte menyebut dengan istilah cara berpikir kelompok (groupthink). Sederhananya anggota kelompok mengalami tekanan kolektif agar sesuai dengan pemikiran dominan. Tekanan sosial ini meredam perbedaan pendapat secara efektif.

Menurut Whyte, pejabat negara tingkat tinggi dan penasihatnya sangat tunduk pada model berpikir kelompok ini. Orang-orang berunding secara intens satu sama lain, terkadang dalam pertemuan tertutup mereka tidak mendengar pendapat orang lain. Ketika pengambilan keputusan terisolasi dari yang lainnya seperti itu, mereka bertanggung jawab penuh untuk megambil keputusan yang tidak populer, bahkan beresiko tinggi. Tentu saja cara berpikir kelompok tidak terbatas pada pejabat eselon dalam pemerintahan.

MEMAHAMI ORGANISASI


Seiring masyarakat kontemporer telah bergeser ke bentuk teknologi yang lebih maju dan struktur sosial mereka menjadi lebih kompleks, kehidupan kita semakin didominasi oelh kelompok sekunder besar yang disebut organisasi formal. Organisasi formal (formal organization) adlah seuah kelompok yang dibentuk untuk tujuan khusus dan disusun untuk efisiensi maksimal.

Dalam masyarakat kita, organisasi formal mengisi pelbagaivariasi kebutuhan pribadi dan sosial yang membentuk kehidupan kita. Faktanya organisasi formal telah menjadi sebuah kekuatan dominan sehingga kita harus menciptakan organisasi untuk mengawasi organisasi lain.

Birokrasi

Birokrasi (bureaucracy) adalah komponen dari organisasi formal yang mengunakan aturan dan jenjang bertingkat untu mencapai efisiensi. Barisan meja yang dikelola tampaknya tidak berwajah, garis dan bentuk tidak berujung, bahasa kompleks yang rumit, dan pertemuan yang menjemukan dengan segala formalitas-semua gambar tidak menyenangkan telah bercampur aduk, sehingga membuat birokrasi adalah sebuah kata hinadan sebuah target mudah dalam kampanye politik. 

Sebagai hasilnya, beberapa orang ingin mengidentifikasikan pekerjaan sebagai “birokrat”, mengingat fakta bahwa kita semua menjelaskan tugas-tugas birokrasi yang beragam. Dalam masyarakat industri, elemen birokrasi masuk di hampir setiap pekerjaan.

Ciri – ciri Birokrasi
Weber mengusulkan bahwa tujuannya menjalankan gereja, perusahaan, atau pasukan, birokrasi ideal menunjukkan lima ciri khas dasar. 

  1. Pembagian KerjaPara ahli yang terspesialisasi melakukan tugas-tugas spesifik. Dalam birokrasi pergurun tinggi petugas pemerimaan tidak melaksanakan pekerjaan pengarsipan; konsleor bimbingan tidak bersentuhan dengan pemeliharaan bangunan. Dengan bekerja pada tugas spesifik, orang cenderung semakin terampil dengan mengerjakan tugasnya dengan efisien dan maksimal.

    Penekanan pada spesialisasi ini adalah bagian dasar kehidupan yang mungkin tidak disadari sebagai bagian dari perkembangan budaya barat. Kelemahan dari pembagian kerja adalah fragmentasi pekerjaan menjadi tugas yang lebih kecil dan lebih kecil lagi dapat memech belah para pekerja dan menyingkirkan setiap hubungan yang mereka rasakan untuk tujuan keseluruhan birokrasi.
  2. Kewenangan Berjenjang
    Birokrasi mengikuti prinsip berjenjang, yaitu setiap posisi selalu di bawah pengawasan dari kewenangan yang lebih tinggi. Seorang pemimpin perguruan tinggi memilih para staf adminstrasinya yang pada gilirannya mereka itu memperkerjakan staf-stafnya sendiri.
  3. Peraturan dan Regulasi Tertulis
    Melalui peraturan dan regulasi tertulis, birokrasi umumnya manawarkan para karyawan standar jelas untuk kinerja yang memadai (atau luar biasa). Sebagai tambahan, prosedur menyediakan sesuatu yang penting untuk keberlangsungan sebuha birokrasi. Pekerja akan dating dan pergi teteapi struktur dan catatan masa lalu dari organisasi memberikan kehidupan sendiri yang lebih panjang dari layanan birokrat manapun.
  4. Impersonalitas
    Norma birokrasi mengatur bahwa para pejabat melakukan tugasnya tanpa memberikan pertimbangan manusiawi kepada seseorang sebagai individu. Meskipun dimaksudkan sebagai jaminan perlakuan yang sama bagi setiap orang, norma tersebut juga berkontribusi pada perasaan dingin dan tidak peduli yang sering dilekatkan pada organisasi modern. Kita biasanya berpikir tentang birokrasi impersonal.
  5. Pekerjaan Berdasarkan Kualifikasi Teknis
    Dalam birokrasi yang ideal, pekerjaan didasarkan pada kualifikasi teknis daripada minat, dan kinerja diukur menurut standar tertentu. Aturan karyawan tertulis mengatur karyawan yang mendapatkan promosi, dan karyawan memiliki hak protes jika mereka yakin bahwa aturan-aturan tertentu dilanggar. Prosedur tersebut melindungi birokrat terhadap pemecatan tanpa alas an, menyediakan standar keamanan kerja, dan mendorong loyalitas organisasi.
























" Kelompok & Organisasi - Sosiologi Komunikasi "