Evaluasi Program Penanganan Krisis - Manajemen Krisis PR - Dunia Public Relations

Terbaru

Saturday, January 14, 2017

Evaluasi Program Penanganan Krisis - Manajemen Krisis PR

EVALUASI PROGRAM PENANGANAN KRISIS
MANAJEMEN KRISIS PR

Evaluasi Program - Adalah tahap paling akhir yang harus dilakukan setelah melaksanakan program penanganan krisis, tujuanya adalah untuk melihat seberapa efektif program tersebut terhadap krisis yang dihadapi perusahaan serta sebagai bahan acuan untuk antisipasi terhadap krisis yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Berkenaan dengan Evaluasi Program kali ini Dunia Public Relations ingin membahasnya mulai dari Tahapan evaluasi program hingga mentafsirkan dan memakai evaluasi. 

Komponen Tindakan Strategis

  1. Bertindak dengan tanggap dan bertanggung jawab.
  2. Mengkoordinasi Tindakan dan Komunikasi. Krisis memerlukan tanggapan tindakan segera yang didukung oleh komunikasi.
  3. Tindakan sebagai tanggapan terhadap sistem terbuka. 

Komponen Komunikasi Strategis

Strategi tindakan harus menciptakan arah utama program namun menggambarkan bagian dari gunung es humas yang mungkin tidak tampak dipermukaan.
Komponen komunikasi strategis terdiri dari:
1. Membingkai Pesan
Komunikasi yang efektif harus dirancang menurut situasi, waktu, tempat dan khalayak. Hati-hati memilih media dan teknik komunikasi. Teknik yang telah teruji waktu berikut ini membantu mengurangi ketidaksesuaian antara posisi komunikator dan sikap khalayak: 
  • Gunakan media yang memiliki identifikasi paling dekat dengan posisi khalayak
  • Gunakan sumber komunikasi yang mempunyai kredibilitas tinggi untuk khalayak yang menjadi topik komunikasi
  • Kurangi perbedaan antara posisi dalam komunikasi dan posisi khalayak.
  • Carilah indentifikasi perbendaharaan kata dan anekdot bersama khalayak di kawasan yang jauh dari isu itu.
  • Tetapkan posisi komunikasi sebagai opini mayoritas, dengan menentukan mayoritas pendirian khalayak sendiri.
  • Gunakan identifikasi kelompok khalayak ketika identifikasi itu dapat membantu mengembangkan tanggapan yang positif. Kebalikannya juga benar.
  • Modifikasi pesan agar sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Berita adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kehidupan dan menarik atau menstimulasi perhatian dan keingintahuan cukup banyak pihak. Beberapa hal yang harus dilakukan praktisi humas:
  • Membingkai pesan mereka membuatnya menjadi bernilai berita menurut standar apapun.
  • Pesan-pesan harus bisa dimengerti, tidak rumit, bebas jargon dan mudah ditangkap.
  • Pesan mempunyai topik atau bermuatan lokal untuk memanfaatkan minat khalayak pada informasi yang tepat waktu maupun dekat dengan tempat tinggalnya.
  • Pesan harus dapat ditindaklanjuti segera.
  • Isi pesan sebaiknya dibingkai sedemikian rupa sehingga informasi dapat menjawab pertanyaan, menanggapi minat dan kerisauan khalayak.
Strategi pembingkaian pesan memerlukan perhatian terhadap empat fakta fundamental:
  1. Khalayak terdiri dari orang-orang. Mereka hidup, bekerja, beribadah dan bermain dalam kerangka pranata sosial di kota, desa atau daerahpertanian.
  2. Orang cenderung membaca, menonton atau mendengarkan komunikasi yang menyajikan sudut pandang yang menarik simpati atau memiliki keterkaitan pribadi.
  3. Mediamenciptakan komunitas yang terpisah-pisah.
  4. Media mempunyai banyak sekali jenis efek terhadap pengetahuan, kecenderungan, dan perilaku individu dan kolektif, dan tidak semua efek itu bisa diukur.
2. Semantik
Semantik adalah ilmu pengetahuan tentang arti kata. Praktisi humas berada di tengah kancah pergumulan kata. Dengan mempelajari kata-kata yang melompat dari mulut orang, kata yang tertulis di surat kabar, yang diucapkan di layar kaca, praktisi diharapkan untuk bereaksi dan mampu menyampaikan maksud kata kata itu, bukan pada apa yang dikatakan, tapi pada apa yang sesungguhnya dimaksudkan.

Penyair Anne Sexton memperingatkan,”Seperti telur, kata-kata harus ditangani dengan hati-hati. Begitu pecah, sulit diperbaiki.” Praktisi harus memiliki kepandaian untuk memilih dan menentukan istilah seindah lukisan serta mudah diingat, dan perasaan terhadap kata-kata.

3. Lambang-lambang
Dalam kadar yang besar, komunikasi menggunakan lambang dan stereotip. Lambang memainkan peran penting dalam program humas

4. Hambatan dan Stereotip
Dalam komunikasi, tidak ada yang lebih menimbulkan masalah daripada kenyataan bahwa
sebagian besar khalayak media memiliki akses terbatas dengan fakta. Dengan akses yang terbatas, dan dengan informasi yang cenderung membingungkan sekaligus memperjelas, orang orang sangat mengandalkan stereotip. 
 
5. Memasukkan semua dalam kampanye

6. Menyebarkan pesan
 
7. Pemikiran ulang proses
 

Mengimplementasi Strategis

Terdapat tujuh C komunikasi humas yang patut dihormati:
  1. Credibility (Kredibilitas)
  2. Context ( Konteks)
  3. Content (Isi)
  4. Clarity (Kejelasan)
  5. Continuity dan Consistency (Kesinambungan dan Kekonsistenan)
  6. Channel (Saluran)
  7. Capability of the Audience(Kesanggupan Khalayak).

EVALUASI PROGRAM

 
evaluasi program, manajemen krisis
evaluasi program
 
Humas sebagaimana staf yang lain, dievaluasi menurut besar kontribusi mereka untuk memajukan misi mereka dan mencapai tujuan-tujuan organisasi, terutama dalam menangani krisis.
 
A. Desakan Untuk Hasil yang Terukur
Orientasi hasil manajemen puncak banyak mempengaruhi peningkatan pemakaian komputer untuk menelusuri kemajuan program dan penelitian evaluasi untuk mengukur dampak.  Semakin sedikit praktisi yang meloloskan diri dengan pernyataan bahwa dampak program tidak dapat diukur. Namun semakin banyak firma hubungan masyarakat memasukan penelitian evaluasi dalam layanan yang mereka tawarkan.

B. Proses Penelitian Evaluasi
Penelitian evaluasi digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi dan mengapa. Bukan untuk membuktikan atau melakukan sesuatu. Contoh: sebuah organisasi mengadakan proyek evaluasi untuk tujuan tunggal membenarkan pemecatan pejabat komunikasi senior. Hal lain, penelitian evaluasi dilakukan untuk membujuk seseorang untuk mendukung atau tidak mendukung sesuatu. Penelitian evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi secara obyektif.

Setiap langkah dalam evaluasi program memberi kontribusi pada meningkatnya pemahaman dan menambah informasi untuk menilai keefektifan.
  • Evaluasi persiapan menilai kualitas dan kecukupan informasi dan perencanaan strategis.
  • Evaluasi implementasi mendokumentasikan kecukupan taktik dan upaya.
  • Evaluasi dampak memberi umpan balik atas konsekuensi-konsekuensi program.
Tidak ada evaluasi yang lengkap tanpa adanya penanganan kriteria pada setiap tingkatan.

C. Menafsirkan dan Memakai Hasil Evaluasi
Dalam humas sistem terbuka, evaluasi tidak terbatas pada ukuran perubahan eksternal, termasuk dalam langkah evaluasi adalah kriteria evaluasi yang mengacu pada dalam maupun luar organisasi. Evaluasi sumatif yang lengkap memerlukan pengukuran dampak program terhadap publik, organisasi dan lingkungan sosial dan budaya mereka bersama.

Yang sama pentingnya adalah memandang penelitian sebagai hal utama dalam manajemen humas, bukan sekedar memandangnya sebagai cara praktis dianggap bertanggung jawab dan cara untuk menelaah program mereka. Cara gemilang dan sukses, Ivy Lidbetter Lee mampu mengatasi dua masalah krisis manajemen pada dua lokasi berbeda, pertama krisis pemogokan di industri batubara dan musibah yang menimpa jaringan rel utama, perusahaan kereta api Pennsylvania Railroad AS.

Ia sekaligus mampu mengatasi kecaman dan krisis kepercayaan dari masyarakat. Strategi dan metode PR untuk menanggulangi kedua krisis pada dua tempat yang berbeda tersebut dapat dilaksanakan melalui kiat deklarasi prinsip-prinsip dasar, dengan melancarkan komunikasi dua arah atau keterbukaan informasi pada pers dan tidak mengabaikan kepentingan serta mendapat dukungan opini publik atas masyarakat luas. 
 
Artikel lainya :

" Evaluasi Program Penanganan Krisis - Manajemen Krisis PR "

No comments:

Post a Comment