Unsur Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya - KAB PR - Dunia Public Relations

Terbaru

Sunday, December 11, 2016

Unsur Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya - KAB PR

UNSUR BUDAYA
DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Unsur Budaya - Dalam sebuah budaya kita tentu mengenal unsur-unsur pembentuk sebuah kultur / budaya seperti halnya berfikir maupun mepersepsi suatu kejadian. Kali ini Dunia Public Relations akan membahas tentang unsur - unsur tersebut dan untuk lebih jelasnya yuk kita simak.

UNSUR - UNSUR DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

budaya, unsur budaya, pembentuk budaya, komunikasi antar budaya, budaya indonesia

 

1. Persepsi  
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dalam dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Secara umum dipercaya bahwa orang berperilaku sedemikian rupa sebagai hasil dari cara mereka mempersepsikan dunia yang sedemikian rupa pula. Perilaku ini dipelajari sebagai bagian dari pengalaman budaya mereka (porter dan samovar, dalam Mulyana dan Rakhmat, 1993:27)

2. Proses Verbal 
Proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain, namun juga Kegiatan – kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata – kata yang digunakan. Proses – proses ini secara vital berhubungan dengan proses pemberian makna saat melakukan komunikasi antarbudaya : bahasa verbal dan pola pikir.
 
  • Bahasa Verbal
    Bahasa merupakan alat untuk yang digunakan oleh budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang – orang untuk berinteraksi dengan orang lain dan juga sebagai untuk berpikir. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagi suatu lambang yang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman – pengalaman dalam suatu komunitas budaya.
  • Pola Pikir
    Pola pikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana individu – individu dalam budaya tersebut berkomunikasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu – individu dari budaya lain. Kebanyakan orang menganggap bahwa setiap orang untuk memiliki pola pikir yang sama. Namun, harus disadari bahwa terdapat perbedaan – perbedaan budaya dalam spekberpikir. Kita tidak dapat mengharapkan namun memahami bahwa terdapat pola pikir yang sama, namun memahani bahwa terdapat pola pikir dan belajar menerima pola – pola tersebut akan memudahkan kita dalam berkomunikasi. 
3. Proses Nonverbal
Proses – prosesnonverbal merupakan alat utama untuk bertukar pikiran dan gagasan, namun proses ini sering digatikan dengan proses nonverbal, yang biasanya dilakukan melalui gerak isyarat, ekspresi wajah, pamdangan mata, dan lain – lain. Lambang – lambang tersebut dan respon – respon yang ditimbulkannya merupakan bagian dari pengalaman budaya. Budaya mempengaruhi kita dalam mengirim, menerima dan merespon lambang – lambang tersebut.

Hammer (dalam Liliweri, 2003:13) mengatakan bahwa komunikasi antar budaya memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai salah satu kajian dalam ilmu komunikasi, karena:
  1. Secara teoritis memindahkan fokus dari suatu kebudayaan kepada kebudayaan yang dibadingkan.
  2. Membawa konsep aras makro kebudayaan ke aras mikro kebudayaan.
  3. Menghubungkan kebudayaan dengan proses komunikasi. 
  4. Membawa perhatian kita kepada peranan kebudayaan yang mempengaruhi perilaku.

BENTUK – BENTUK KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 
Menurut DeVito (1997:40), bentuk – bentuk komunikasi antar budaya meliputi bentuk – bentuk komunikasi lain, yaitu:
  1. Komunikasi antara kelompok agama yang berbeda. Misalnya, antara orang Katolik Roma dengan Episkop, atau antara orang islam dan orang yahudi.
  2. Komunikasi antara subkultur yang berbeda. Misalnya, antara dokter dan pengacara, atau antara tunanetra dan tunarugu.
  3. Komunikasi antara suatu subkultur dan kultur yang dominan. Misalnya, antara kaum manula dan kaum muda.
  4. Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda, yaitu antara pria dan wanita.
Beberapa komunikasi antara budaya didasarkan atas hal – hal berikut :
  1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
  2. Dalam komunikasi antara budaya terkandung isi dan relasi antara pribadi.
  3. Gaya personal memperngaruhi komunikasi antarpribadi.
  4. Komunikasi antar budaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
  5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
  6. Efektivitas antar budaya yang merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri,2003:15)
Dimensi yang perlu diperhatikan dalam konteks komunikasi antar budaya adalah :
  1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi.
  2. Kontek sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya.
  3. Saluran komunikasu yang dilalui oleh pesan – pesan komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun nonverbal.
Secara lebih spesifik (Liliweri,2001:22) studi-studi komunikasi internasional disandarkan atas pendekatan-pendekatan maupun metodologi sebagai berikut:  
  • Pendekatan Peta Bumi (geographical approach)
    Pendekatan yang membahas arus informasi maupun liputan internasional pada bangsa atau Negara tertentu, wilayah tertentu, ataupun lingkup dunia, di samping antarwilayah.
  • Pendekatan Media (media approach),
    adalah pengkajian berita internasional melalui suatu medium atau multimedia.
  • Pedekatan Peristiwa (event approach) yang mengkaji suatu peristiwa lewat suatu medium.
  • Pendekatan Ideologis (idelogical approach), yang membandingkan sistem pers antarbangsa atau melihat penyebaran arus berita internasional dari sudut ideologis semata-mata.

FUNGSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Secara khusus, fungsi komunikasi antarbudaya adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika kita memasuki wilayah (derah) orang lain kita dihadapkn dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda dengan kita dari berbagai aspek (sosial, budaya, ekonomi, status, dan lain-lain). Pada waktu itu pula kita dihadapkan dengan ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi. Untuk mengurangi ketidakpastian seseorang melakukan prediksi sehingga komunikasi bisa berjalan efektif (DeVito, 1997:487).

Gundykunstt dan Kim (dalam Liliweri, 2003:19), usaha untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yakni: 
  1. Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun nonverbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi).
  2. Initial contact and imppresion, yakni tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal tersebut; misalnya anda bertanya pada diri sendiri; Apakah saya seperti dia ? Apakah dia mengerti saya ? Apakah saya rugi waktu kalau berkomunikasi dengan dia ? 
  3. Closure, mulai membuka diri anda sdendiri yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit. Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995:14), pembukaan diri memiliki dua sisi, yaitu bersikap terbuka kepada yang lain dan bersikap terbuka bagi yang lain. Kedua proses tersebut dapat berjalan secara serentak antara kedua belah pihak sehingga membuahkan relasi yang terbuka antara kita dengan orang lain. 

GAMBARAN FUNGSI KOMUNIKASI


1. Identitas Sosial
Dalam komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas social. Perilaku itu teraktualisasi dalam bentuk tindakan berbahasa (verbal dan nonverbal). Dari kedua bahasa itulah dapat diketahui identitas seseorang. Misalnya, Jika berbahasa Sunda dan berkebaya berarti orang Sunda, Jika berbahasa Jawa dan menggunakan blangkon berarti mencirika orang Jawa, dan sebagainya.

2. Integrasi Sosial 
Esensi dari integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok, namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Dalam konteks komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya atara komunikator dan komunikan, maka integrasi social merupakan tujuan utama komunikasi. Prinsip utama pertularan pesan dalam komunikasi antarbudaya adalah: Saya memperlalukan anda sebagaimana kebudayan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas realsi mereka.

3. Kognitif 
Tidak dapat dibantah bahwa komunikasi antarbudaya dapat menambah dan memperkaya pengetahuan bersama, yaitu dengan cara saling mempelajari kebudayaan. Dengan cara melakukan komunikasi antarbudaya antara seseorang dengan yang lainnya dapat bertukar pengetahuan budaya masing-masing. Orang Batak belajar budaya Sunda, atau sebaliknya orang Sunda belajar budaya Batak. Orang betawi mendalami budaya Jawa, sedangkan orang Jawa menekuni budaya Betawi, dan seterusnya. Dengan begitu terjadi pengayaan pengetahuan (kognitif)

4. Melepaskan Diri 
Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain sekedar untuk melepaskan diri ari berbagai masalah yang menghimpit kita. Boleh jadi anda memilih “teman kencan” yang dal;am banyak hal merasa cocok dengan anda. Dia memiliki pikiranj-pikiran atau gagasan-gagasan yang sama denganh diri anda. Tanpa disadari bahwa orang yang anda ajak kencan tersebut berbeda budaya, status sisial dan lainnya. Disitulah fungsinya komunikasi antarbudaya sebagai “jembatan” untuk melepaskan diri.

5. Pengawasan 
Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang linngkungan. Meskipun pada realitasnya fungsi ini lebih banyak diperaqnkan oleh media massa. Misalnya, beberapa tahun yang lalu masyarakat dunia dikejutkan oleh berita perselingkuhan Bill Clinton Monica Lewinsky. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini adalah betapa di AS, seorang presiden pun memiliki kedudukan yang setarap dalam hukum. Secara langsung kita dapat belajar sebuah kebudayaan dari negara sehebat AS tentang hukum dan moralitas.

6. Menjembatani 
Dalam komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi mengawasi itu terlihat pada pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.

7. Sosialisasi Nilai 
Fungsi ini berada pada ranah mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaa suatu masarakat kepada masyarakat lain. Misalnya, tanpa disadari ketika menonton wayang golek atau tarian Jawa ada nilai-nilai yang ditarnsformasikan kepada penonton (khalayak). Dengan demikian telah terjadi sosialisasi nilai dari budaya yang satu ke budaya yang lain sesuai dengan budaya khalayaknya.

8. Menghibur 
Fungsi menghibur begitu kental dalam komunikasi antarbudaya. Jika kita rajin memperhatikan acara “Benteng Takeshi”, maka kita terasa terhibur oleh orang-orang Jepang yang beradu ketangkasan dalam bentuk permainan yang menghibur. Kita pun mungkin akan tertawa lebar jika menonton Si Parto (salah seorang personil Patrio Group), yang berbahasa tegal sangat kental, melucu dan bertingkah laku. Itu semua mencerminkan komunikasi antarbudaya yang memiliki dimensi menghibur.
 

ASUMSI –ASUMSI DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Berbicaralah dengan bahasa mereka. Jargon ini adalah kunci penting dalam mewujudkan komunikasi. Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa (verbal dan nonverbal) yang dipahami oleh komunikannya. Sitaram dan Cogdell (1976) menyampaikan, bahwa komunikasi yang efektif dengan orang lain akan berhasil apabila kita mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang mereka.

Atas dasar uraian di atas, beberapa asumsi komunikasi antarbudaya didasarkan atas hal-hal berikut:
  1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
  2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.
  3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.
  4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
  5. Komunikas berpusat pada kebudayaan.
  6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2003:15). 

" Unsur Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya - KAB PR "

No comments:

Post a Comment