Kedudukan Public Relations Dalam Perusahaan / Organisasi - Dunia Public Relations

Terbaru

Tuesday, December 13, 2016

Kedudukan Public Relations Dalam Perusahaan / Organisasi


KEDUDUKAN PUBLIC RELATONS DALAM PERUSAHAAN / ORGANISASI

Kedudukan PR - Selma ini mungkin teman-teman PR penasaran dan ingin mengtahui dimana sih kedudukan / posisi PR dalam sebuah perusahaan atau Organsasi? Buat yang penasaran dan ingin tahu kali ini Dunia Public Relations akan mebahas mengenai kedudukan lembaga humas dalam perusahaan.

PR DAN FUNGSI MANAJEMEN


Public Relations sesungguhnya sebagai alat manajemen modern secara struktural merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan atau organisasi. Artinya, PR bukanlah merupakan fungsi yang terpisah dari fungsi kelembagaan atau organisasi tersebut alias bersifat melekat pada manajemen perusahaan.

Hal tersebut menjadikan PR dapat menyelenggarakan komunikasi 2 arah timbal balik antara organisasi/lembaga yang diwakilinya dengan publiknya. Peranan ini turut menentukan sukses atau tidaknya misi, visi dan tujuan bersama dari organisasi lembaga tersebut.

Dengan demikian, Public Relations tidak hanya bertugas sebagai penyampai informasi manajemen dari perusahaan atau organisasi kepada publiknya, melainkan juga merupakan saluran informasi dari publik kepada perusahaan atau organisasi. Informasi yang datang dari publik itu merupakan ‘opini publik’ sebagai feedback daripada informasi yang disalurkan dari perusahaan atau organisasi itu.

Sebagai fungsi manajemen, PR adalah bagian dari struktur organisasi dan bagian dari proses untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Tanggung jawabnya, mencakup aktivitas membantu organisasi untuk mengidentifikasi, menilai dan menyesuaikan diri dengan lingkungan ekonomi, politik, sosial, dan teknologi yang terus berkembang.

Ukuran, peran, dan tempat departemen PR dalam bagan organisasi akan berbeda dari satu organisasi dengan organisasi lainnya. Nama dan posisi departemen PR pun dalam organisasi amat beragam.

KEDUDUKAN PUBLIC RELATIONS DALAM ORGANISASI


Secara umum Public Relations mempunyai kedudukan yang sangat strategis, yakni berada di antara dua pihak publik. Baik untuk publik lingkup internal maupun publik lingkup eksternal.  Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang Public Relations Officer sesuai fungsinya adalah sebagai “penyambung lidah’ perusahaan atau organisasi. Khususnya dalam hal mengadakan hubungan timbal balik dengan publik yang berada di dalam dan umumnya dengan publik publik yang berada di luar perusahaan.

Menurut Moore (2004:159) “Humas di tingkat manajemen puncak sebuah organisasi, dengan seorang direktur utama dan dewan direktur. Karena tindakan manajemen dan kebijaksanaan manajemen mempengaruhi Humas, maka fungsi humas harus ada dalam kedudukan tertentu di dalam struktur organisasi untuk berpartisipasi dengan manajemen dalam keputusan kebijakan umum”.

Posisi PR di Bagan Organisasi dan hubungannya dengan pimpinan manajemen (Top Management) seringkali dapat dijelaskan dengan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana fungsi PR ini muncul. Pada awalnya Fungsi PR merupakan bagian integral dari departemen SDM sebagai tenaga pendukung komunikasi karyawan.

Karena fungsi ini terus berkembang, tidak hanya sekedar komunikasi karyawan belaka, maka pihak manajemen memisahkannya dari departemen SDM dan memberinya nama baru “Departemen PR”. Manajer departemen baru ini bertanggung jawab langsung ke CEO.

Berikut adalah kedudukan PR secara struktural menurut Cutlip, Center, & Broom (2009) 



Bagan Kedudukan PR dalam Organisasi Cutlip Center & Broom
Bagan Kedudukan PR dalam Organisasi Cutlip Center & Broom

Pada sebuah perusahaan Pimpinan Utama dan public relations seharusnya merupakan satu unit wadah kerja. Public Relations dan pimpinan utama merupakan “dwi-tunggal” yang harmonis dalam menggerakkan perusahaannya. Pimpinan sebagai pemegang policy dan public relations sebagai penterjemah daripada policy itu.

Demikian pula dalam hal menanggapi akibat dari policy yang tengah-tengah publiknya, public relations menyampaikannya pada Pimpinan Utama perusahaan. Dengan demikian, selain sebagai penyambung lidah perusahaan atau organisasi Public Relations dapat pula dikatakan sebagai “jembatan penghubung” di antara dua macam publiknya, baik internal maupun eksternal.

Dari gambaran tersebut, maka ideallah jika kedudukan PR secara organisatoris memang harus berada sedekat mungkin dengan Pimpinan Utama, di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan itu. Kedudukan tersebut diartikan sebagai fungsi menurut hierarki kerja dalam kaitannya dengan aspek komunikasi sebagai unsur-unsur yang ada dalam perusahaan, yakni dilihat secara vertikal.(Yulianita, 2007:85)

Sesuai dengan fungsinya, kedudukan PR dalam konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau organisasi, menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen
perusahaan.

Namun, pada perusahaan-perusahaan yang kecil, biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri. Misalnya toko-toko kecil, dokter-dokter yang berpraktek sendiri, konsultan-konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang organisasinya relatif kecil.


PR DALAM KELOMPOK EKSEKUSI PEMBUAT KEPUTUSAN (KOALISI DOMINAN)


Dalam suatu organisasi atau perusahaan, mungkin terdapat departemen komunikasi atau departemen PR yang kurang efektif jika fungsi dan perannya tidak terintegratif ke tingkat pimpinan manajemen puncak sebagai pengambil keputusan secara strategis atau istilah lainnya disebut posisi ‘koalisi dominan’.

Menurut Grunig (2002), peranan PR sebagai pengambil keputusan strategis pada level posisi koalisi, ditentukan juga oleh persepsi eksekutif manajemen puncak (CEO), jika penilaiannya tinggi maka posisi departemen dan eksekutif PR ditempatkan pada jajaran manajemen top koalisi dominan (top management decision making) dalam struktur organisasi perusahaan.

Namun sebaliknya, jika penilaian CEO tersebut rendah terhadap eksistensi profesional dan fungsi departemen PR, maka konsekuensinya hanya diangap sebagai praktisi yang memiliki keahlian teknis belaka dan hanya tenaga pelaksana progra kerja yang bersifat jangka pendek.

PR SEBAGAI KOALISI DOMINAN


Koalisi dominan merupakan kelompok eksekutif yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam struktur organisasi untuk mengambil keputusan mengenai pencapaian tujuan, tugas, secara objective dan fungsi strategis. Keputusan koalisi dominan harus didukung dengan kaitannya masalah legalitas dokumen dan keabsahan kelembagaan yang diakui secara resmi. (Grunig : 2002)

Hasil kajian PRSA (Public Relations Society of America) pada tahun 1980 menjelaskan bahwa penjabaran PR dalam posisi koalisi dominan yaitu sebagai berikut :
  1. Pihak PR mampu menjembatani kepentingan antara organisasi dan khalayak publik untuk saling beradaptasi satu sama lainnya.
  2. PR berupaya agar organisasi dapat memenangkan kerja sama yang baik dengan pihak khalayak publiknya, baik internal maupun eksternal.

PR SEBAGAI BOUNDARY SPANNER


Menurut Seitel P. Fraser (2004) PR sebagai manajer penghubung (Boundary Spanner) adalah berfungsi sebagai manajer penghubung antara organisasi dan publiknya, baik eksternal maupun internal. Dengan kata lain, satu kakinya berada dalam di dalam dan kaki lain berada di luar organisasi.

Secara umum PR sebagai Boundary Spanning secara profesional memiliki 2 kemampuan, sebagai “manajerial skill & sebagai tekhnikal skill”.

Kemampuan Tekhnikal Skill

Melakukan kegiatan melalui menghimpun melalui kliping, menganalisis atau mengevaluasi berita dari berbagai sumber media massa, dan hingga menciptakan media publikasi atau komunikasi organisasi.

Kemampuan Manajerial Skill


Memiliki kemampuan manajerial dalam hal menyusun konsepsi, perencanaan strategis, mengelola, memimpin, termasuk mengevaluasi efektivitas hingga kegiatan audit komunikasi organisasi tersebut yang merupakan nilai kontribusi boundary spanner untuk memperbaiki dn meningkatkan proses pengambilan keputusan secara efektif demi mencapai kepentingan kedua belah pihak.

Menurut Aldrich & Herker 1977 yang dikutip oleh Grunig (2002), bahwa praktisi PR sebagai Boundary Spanner adalah merupakan pelaksanaan 2 fungsi sekaligus yaitu :
  1. Sebagai pengelola informasi
  2. Berfungsi sebagai mewakili representasi kepentingan publik eksternal, dengan cermat memperhatikan penerimaan atau penolakan dari kebijakan strategis organisasi yang telah dibuat.
Dengan demikian, keberadaan PR harus terlibat penuh dalam program kegiatan semua tingkatan struktur organisasi, sebagai upaya untuk mengetahui pelaksanaan, arah tujuan atau sasaran managemen strategic di berbagai level manajemen prusahaan.

Departemen PR yang memiliki tujuan tersendiri, memformulasi, mengelola dnakan program melaksanakan program strategisnya dengan departemen terkait agar terhindar kesalahan kesalahan koordinasi program kegiatan dari tujuan dan sasaran utama grand strategic manajen organisasi.

" Kedudukan Public Relations Dalam Perusahaan / Organisasi "

No comments:

Post a Comment