Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku - Psikologi Komunikasi - Dunia Public Relations

Terbaru

Friday, December 16, 2016

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku - Psikologi Komunikasi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Prilaku Individu - Setiap masing-masing induvidu ini memiliki prilaku tersendiri yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang akan Dunia Public Relations bahas dikesempatan kali ini. Untuk selengkapnya silahkan simak ulasan dibawah ini.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU

Ada 2 faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, yaitu :
  • Faktor Personal
  • Faktor Situasional


FAKTOR PERSONAL


McDougall menekankan pentingnya faktor personal yang menentukan interaksi social dalam membentuk perilaku individu. Menurut Edward E. Sampson faktor personal terdapat perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada faktor pada personal mempertanyakan faktor-faktor internal apakah baik berupa instink, motif, kepribadian sistem kognitif yang menjelaskan perilaku.

Secara garis besar terdapat 2 faktor personal yang datang dari dalam diri individu, meliputi :
  • Faktor Biologis
  • Faktor Sosiopsikologis

Faktor Biologis


Struktur biologis manusia genetika, sistem syaraf dan sistem hormonal sangat mempengaruhi perilaku manusia. Struktur genetis akan mempengaruhi kecerdasan dan emosi. Sistem syaraf mengatur kerja otak dan proses pengolahan informasi dalam jiwa manusia. Sistem hormonal bukan saja mempengaruhi mekanisme biologis tetapi juga psikologis (wanita lebih sensitif pada masa haid). Pengaruh biologis terhadap perilaku manusia ditandai 2 hal:
  • Instink (naluri)
  • Motif Biologis

Faktor Sosiopsikologis


Sebagai mahluk sosial, manusia mendapatkan beberapa karakter tertentu akibat proses sosialnya. Karakter itu dapat dikategorikan dalam 3 komponen :
  1. Komponen Afektif
  2. Komponen Kognitif 
  3. Komponen Konatif

Komponen Afektif


Merupakan aspek emosional, meliputi :
  1. Motif Sosiogenis (motif sekunder) ® motif biologis yang utama (primer).
  2. Sikap = Sikap bukan perilaku, tetapi kecenderungan untuk berperilaku dengan cara cara tertentu terhadap suatu objek.
Misal : kalau kita mengatakan bahwa sikap kita positif, maka harus dijelaskan positif terhadap apa / siapa

Sikap akan menentukan apa yang kita sukai, kita harapkan, kita inginkan, dan kita setujui. Jika kita bersikap positif terhadap kemajuan, maka kita akan suka dengan orang yang berpandangan maju, berharap orang berpikir maju.

Sikap kelompok akan cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan (bersifat menetap). Misalnya : Seberapapun hebatnya kampanye parpol, kader PDI-P tetap akan memilih Mega sebagai presiden.

Sikap juga mengandung aspek evaluatif, artinya sikap memiliki nilai menyenangkan dan tidak menyenangkan. Dalam sikap kita bisa memiliki rasa senang dan tidak senang terhadap sesuatu/seseorang. Sikap tidak kita bawa sejak lahir, melainkan tergantung pada proses belajar sosial (social learning process) yang dialami. Meski ada kecenderungan menetap, sikap bisa berubah maupun diperteguh terus-menerus.

Emosi

Yaitu keguncangan organisme yang disertai gejala-gejala kesadaran, keperilakuan proses fisiologis. Jika saat ini kita sedang emosional, kita sadar terhadap pesan yang kita terima (sehingga tergoncang), jantung berdetak lebih keras dan cepat (perubahan fisiologis), dan melakukan perilaku tertentu seperti memukul, mendorong, menendang, dll.

Emosi tidak harus dihilangkan, karena bisa jadi variabel penting yang mewarnai kehidupan.

Komponen Kognitif

Dengan adanya emosi, energi kita akan terbangkitkan, kita akan mendapatkan informasi (dari diri sendiri maupun orang lain), kita juga akan mendapat informasi tentang keberhasilan kita. Emosi bisa bermuatan ringan, berat dan disintegratif. Namun menurut jangka waktu berlangsungnya, ada emosi yang singkat dan ada yang berlangsung lama.

Berkaitan dengan apa yang diketahui manusia (aspek intelektual). Komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis adalah kepercayaan, yaitu keyakinan benar atau salah atas sesuatu berdasarkan bukti, sugesti otoritas, pengalaman atau intuisi.

Kepercayaan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan menentukan sikap. Misalnya: kita percaya bahwa orang miskin karena kesalahannya (malas, dsb). Maka, kita akan selalu curiga pada orang miskin (jangan-jangan dia ingin merampok kita). Kita juga tidak akan pernah mengasihinya ® sebab dia malas !!

Kepercayaan dapat dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan. Semakin banyak kita tahu sesuatu, kita akan semakin percaya. “Tak kenal maka tak sayang”. Kita bisa percaya omongan orang karena kita butuh pujian orang itu (bos kita).

Komponen konatif berhubungan dengan kebiasaan kemauan ber-tindak (aspek volisional). Komponen konatif dalam sosiopsikologis adalah kebiasaan dan kemauan Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, yang ber-langsung otomatis dan tidak direncanakan. Merupakan hasil dari proses pelaziman (conditioning) yang berlangsung lama dan di-ulang
berkali-kali. Dengan adanya kebiasaan dapat diramalkan pola perilaku seseorang.

Komponen Konatif


Kemauan berkaitan dengan tindakan, yaitu tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan. Seseorang bisa jadi ‘besar’ karena kemauannya. Kemauan yang keras didorong oleh keinginan yang keras untuk mencapai sesuatu, pengetahuan untuk mencapai tujuan tersebut, serta kecerdasan + energi yang dimilikinya.

FAKTOR SITUASIONAL


Kaum Behavioral percaya sekali lingkungan sangat berpengaruh terhadap bentuk perilaku seseorang. Faktor lingkungan (faktor situasional) dapat berupa :
  1. Faktor ekologis
  2. Faktor rancangan dan arsitektural
  3. Faktor temporal
  4. Suasana perilaku
  5. Teknologi
  6. Faktor-faktor social
  7. Lingkungan psikososial
  8. Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku.
" Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku - Psikologi Komunikasi "

No comments:

Post a Comment