Contoh Makalah Memahami Komunikasi Antar Budaya + Studi Kasus

CONTOH MAKALAH MEMAHAMI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
+ STUDI KASUS


Ada beberapa unsur budaya dalam berkomunikasi antarbudaya yaitu:

      A.    Persepsi


Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dalam dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Secara umum dipercaya bahwa orang berperilaku sedemikian rupa sebagai hasil dari cara mereka mempersepsikan dunia yang sedemikian rupa pula. Perilaku ini dipelajari sebagai bagian dari pengalaman budaya mereka pengertian meurut (porter dan samovar, dalam Mulyana dan Rakhmat, 1993:27)

     B.     Proses Verbal


Proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain, namun juga
Kegiatan – kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata – kata yang digunakan. Proses – proses ini secara vital berhubungan dengan proses pemberian makna saat melakukan komunikasi antarbudaya terbagi menjadi dua yaitu :

·         bahasa verbal
·         dan pola pikir.

a)      Bahasa Verbal

Bahasa merupakan alat untuk yang digunakan oleh budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang – orang untuk berinteraksi dengan orang lain dan juga sebagai untuk berpikir. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagi suatu lambang yang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman – pengalaman dalam suatu komunitas budaya.

b)      Pola Pikir

Pola pikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana individu – individu dalam budaya tersebut berkomunikasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu – individu dari budaya lain. Kebanyakan orang menganggap bahwa setiap orang untuk memiliki pola pikir yang sama. Namun, harus disadari bahwa terdapat perbedaan – perbedaan budaya dalam aspek berpikir. Kita tidak dapat mengharapkan namun memahami bahwa terdapat pola pikir yang sama, namun memahani bahwa terdapat pola pikir dan belajar menerima pola – pola tersebut akan memudahkan kita dalam berkomunikasi.

      C.     Proses Nonverbal

Proses – proses nonverbal merupakan alat utama untuk bertukar pikiran dan gagasan, namun proses ini sering digantikan dengan proses nonverbal, yang biasanya dilakukan melalui gerak isyarat, ekspresi wajah, pamdangan mata, dan lain – lain. Lambang – lambang tersebut dan respon – respon yang ditimbulkannya merupakan bagian dari pengalaman budaya. Budaya mempengaruhi kita dalam mengirim, menerima dan merespon lambang – lambang tersebut.
            Hammer (dalam Liliweri, 2003:13) mengatakan bahwa komunikasi antar budaya memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai salah satu kajian dalam ilmu komunikasi, karena:
      1.      Secara teoritis memindahkan fokus dari suatu kebudayaan kepada kebudayaan yang dibadingkan.
      2.      Membawa konsep aras makro kebudayaan ke aras mikro kebudayaan.
      3.      Menghubungkan kebudayaan dengan proses komunikasi.
      4.      Membawa perhatian kita kepada peranan kebudayaan yang mempengaruhi perilaku.



Bentuk – Bentuk Komunikasi Antarbudaya


            Menurut DeViti (1997:40), bentuk – bentuk komunikasi antar budaya meliputi bentuk – bentuk komunikasi lain, yaitu:
    1.      Komunikasi antara kelompok agama yang berbeda. Misalnya, antara orang Katolik Roma dengan Episkop, atau antara orang islam dan orang yahudi.
     2.      Komunikasi antara subkultur yang berbeda. Misalnya, antara dokter dan pengacara, atau antara tunanetra dan tunarugu.
      3.      Komunikasi antara suatu subkultur dan kultur yang dominan. Misalnya, antara kaum manula dan kaum muda.
       4.      Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda, yaitu antara pria dan wanita.

Beberapa komunikasi antara budaya didasarkan atas hal – hal berikut :

   1.      Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
      2.      Dalam komunikasi antara budaya terkandung isi dan relasi antara pribadi.
      3.      Gaya personal memperngaruhi komunikasi antarpribadi.
      4.      Komunikasi antar budaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
      5.      Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
      6.      Efektivitas antar budaya yang merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri,2003:15)

Dimensi yang perlu diperhatikan dalam konteks komunikasi antar budaya adalah :

     1.      Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi.
     2.      Kontek sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya.
    3.      Saluran komunikasu yang dilalui oleh pesan – pesan komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun nonverbal.

Studi Kasus Komunikasi Antar Budaya


Perbedaan Budaya dan Adaptasi Antarbudaya dalam Relasi Kemitraan Inti-Plasma



Studi Kasus Proyek PIR Lokal Teh Tapanuli Utara



Proses penyuluhan pembangunan, sering kali mengalami kekurang dan keberhasilan hanya disebabkan oleh adanya hambatan perbedaan budaya di antara kelompok sosiologis. Salah satu contoh ketidakberhasilan itu adalah yang terjadi di dalam hubungan kemitraan antara perkebunan besar dan petani kecil. Perkebunan besar dan petani kecil merupakan dua kelompok sosiologis yang memiliki karakterististik sangat berbeda. Perbedaan ini merupakan realitas dari kehidupan ekonomi dualistik dalam sistem perkebunan di Indonesia. Kelompok yang satu berorientasi pada kapitalisme modern, sementara kelompok lainnya berciri pra kapitalisme tradisional.
Munculnya sistem pembangunan perkebunan dengan pola Perkebunan Inti-Rakyat (PIR) pada tahun 1978/1979, merupakan upaya memadukan perkebunan besar dengan petani kecil dalam suatu proses produksi dengan analogi hubungan inti-plasma. Dalam perkembangannya, bentuk relasi kedua pihak tersebut adalah berupa relasi kemitraan antara perusahaan inti dan petani plasma. Kemitraan dirumuskan sebagai relasi kolaborasi antara dua pihak atau lebih yang dilakukan dalam sistem yang utuh untuk mencapai keuntungan bersama. Menurut Martodireso & Widodo (2002:11), relasi kemitraan dalam usaha pertanian harus didasari oleh sikap saling percaya, saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat. Dalam relasi kemitraan, harus ada proses pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan dari pengusaha besar terhadap mitranya yang tergolong pengusaha kecil (Sumardjo, 2004:16)

Martodireso & Widodo (2002:17), mengungkapkan perlunya para pelaku kemitraan membangun relasi sosial yang baik, seperti komunikasi interaktif, saling memberdayakan, dan tidak saling memaksa. Menurut Suroso (1994:14), dalam perkembangannya, ada masalah yang menghambat harmoni relasi tersebut. Relasi antara perusahaan inti dan petani plasma kurang harmonis karena perbedaan pola pikir, sikap, dan perilaku yang memunculkan masalah operasional. Ini menunjukkan bahwa komunikasi sebagai aktivitas simbolik tidak diikuti oleh keakuratan persepsi atas pesan kedua belah pihak. Ketidakakuratan persepsi ini disebabkan karena perusahaan inti dan petani plasma adalah dua komunitas yang memiliki perbedaan budaya.

Dalam pelaksanaan Proyek PIR Lokal Teh Tapanuli Utara terdapat masalah yang terkait dengan aspek pemeliharaan tanaman teh. Pemeliharaan tanaman teh tidak intensif karena kendala budaya penduduk setempat. Menurut Wibowo dan Dharmadi (1999:48), dalam memelihara tanaman teh secara intensif dibutuhkan tenaga kerja yang setiap hari dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi karena penduduk setempat terikat dengan tradisi berkumpul untuk menjalankan ritual-ritual adat. Demikian pula di Jawa Tengah, pelaksanaan Proyek PIR Lokal Teh menemui masalah yang terkait dengan tradisi penduduk setempat. Pada saat syawalan, pasokan pucuk the berkurang karena petani tidak memetik, namun setelah syawalan usai pasokan berlimpah. Akibatnya terjadi ketidaksesuaian antara kapasitas produksi pabrik dan pasokan. Keadaan ini menunjukkan bahwa aspek kegiatan industri tidak diperhatikan oleh petani.

Dalam pada itu, permasalahan yang ada pada pelaksanaan PIR Lokal Teh di Jawa Barat adalah masalah yang terkait dengan proses pembelian pucuk teh, yaitu masalah penimbangan dan pengukuran analisis pucuk teh, serta masalah penjualan pucuk teh oleh petani plasma ke luar perusahaan inti. Dalam masalah penimbangan, perusahaan sering meragukan bobot timbangan petani yang tidak akurat dalam menimbang pucuk teh. Sementara dalam pengukuran analisis pucuk teh banyak ditemukan pucuk-pucuk kasar yang dijual oleh petani, padahal perusahaan inti menghendaki pucuk teh yang halus untuk menghasilkan teh yang berkualitas bagus. Hal ini berbeda ketika petani menjual pucuk teh ke luar perusahaan inti, pihak luar tidak terlalu menekankan kualitas pucuk teh yang dijual kepadanya. Penjualan pucuk teh ke luar perusahaan dipandang tidak memenuhi kesepakatan penjualan produk yang mengharuskan petani hanya menjual produknya ke perusahaan inti (Bachriadi, 1995:137).

Perbedaan pola pikir, sikap, dan perilaku tersebut menjadi suatu pertanda bahwa sebagai aktivitas simbolik, komunikasi antara perusahaan inti dan petani ditandai oleh ketidakakuratan persepsi atas pesan-pesan yang disampaikan. Masing-masing pihak dalam perspektifnya. Hal ini karena mereka dikondisikan untuk berkomunikasi sesuai cara pandang kelompoknya. Selain itu perbedaan yang tajam dalam kerangka pengalaman dan bahasa dari masing-masing pihak menyebabkan komunikasi tidak efektif. Selain itu, komunikasi yang tidak efektif juga karena adanya perbedaan dalam gaya berkomunikasi.

Dengan menggunakan cara pandang moral ekonomi dari James C. Scott (1981), petani plasma berbudaya peasant, sedangkan perusahaan inti dapat digolongkan ke dalam budaya farmer. Budaya peasant ditunjukkan oleh pertama, perilaku petani menjual pucuk teh ke luar perusahaan inti. Kedua, perilaku petani tidak mengadopsi secara serta merta teknologi yang dialihkan dari pihak perusahaan inti, dan ketiga, sikap petani yang mendahulukan kegiatan tradisi sosial budaya komunitasnya. Perilaku tersebut merefleksikan budaya petani yang disebut safety first (dahulukan selamat) dan pola piker subsisten yang berlandas pada etika subsistensi. Untuk keselamatan diri dan keluarganya, petani menjual pucuk teh ke luar inti. Sementara itu dengan pola pikir subsisten, petani mengusahakan tanaman, seperti padi dan jagung yang hasilnya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Petani tidak memiliki orientasi pada surplus produksi untuk dijual secara komersial. Etika subsistensi juga membawa petani untuk mementingkan komunitasnya.

Hal ini dilandasi pemikiran bahwa komunitas adalah pihak awal yang akan menyelamatkan kehidupan petani dan keluarganya dari setiap risiko yang mengancam subsistensi mereka. Dengan orientasi safety first dan etika subsistensi, petani dapat mengabaikan komitmen kerjasama atau kemitraannya dengan perusahaan inti. Dalam pada itu farmer adalah petani komersial dengan budaya industri. Petani ini diperlukan dalam agroindustri atau agribisnis pada umumnya. 

Dengan mengambil ciri-ciri masyarakat berbudaya industrial, maka ciri-ciri farmer adalah pertama, rasional dan kreatif dalam memandang berbagai fenomena yang ada di alam sekitarnya. Kedua, memiliki komitmen yang tinggi dalam menyelesaikan masalah dengan tuntas. Ketiga, memiliki ketaatan yang tinggi pada hukum (Soetrisno, 1995:160). Peasant dapat digolongkan pula sebagai petani pra-industri. Dalam meningkatkan peran pertanian di Indonesia, petani pra-industri perlu ditransformasikan menjadi farmer. Petani farmer dalam kerangka ini memiliki peran penting dalam membawa petani praindustri menjadi petani yang berbudaya industri.

Perbedaan budaya antara perusahaan inti dan petani plasma menyebabkan studi atas jalinan komunikasi di antara dua pihak tersebut menarik dilakukan. Dalam konteks kemitraan inti-plasma, studi ini dapat memperkaya berbagai penelitian tentang relasi intiplasma.

Analisis Studi Kasus :


Berdasarkan pada kasus diatas terdapat relasi kemitraan antara perusahaan inti dan petani plasma.  Dalam kasus tersebut relasi antara perusahaan inti dan petani plasma kurang harmonis karena perbedaan pola pikir, sikap, dan perilaku yang memunculkan masalah operasional. Ini menunjukkan bahwa komunikasi sebagai aktivitas simbolik tidak diikuti oleh keakuratan persepsi atas pesan kedua belah pihak. Ketidakakuratan persepsi ini disebabkan karena perusahaan inti dan petani plasma adalah dua komunitas yang memiliki perbedaan budaya.

Perbedaan budaya di antara komunitas perusahaan inti dan komunitas petani plasma dijelaskan dengan bertolak dari adanya pergulatan di antara dua prinsip yang disebut sebagai perekonomian dualistik. Pergulatan ini berakar dari pertentangan antara kapitalisme barat yang modern dan tradisi pra-kapitalis. Kapitalisme barat yang modern, muda, dan agresif yang dibangun di kota besar berhadapan dengan tradisi pra-kapitalis yang tua yang berada di pedesaan (Boeke, 1983:11).


Menurut Boeke (1983:11), dalam situasi dualistik terdapat dua karakteristik yang berbeda dalam konteks sosial ekonomi. Satu sisi merupakan golongan masyarakat yang memiliki ikatan sosial asli dan organis, sistem kesukuan tradisional, kebutuhan yang sifatnya terbatas dan bersahaja, serta prinsip produksi pertanian yang sifatnya subsisten. Sisi lainnya adalah masyarakat yang berorientasi keuntungan, bersaing usaha yang terorganisasikan, profesional, bertumpu pada kapitalisasi dan industri mekanis, serta memandang rendah dorongan atau motif ekonomi yang dikaitkan dengan motif sosial, etika, adat, tradisi, suku, agama, dan sebagainya. Dalam kehidupan pertanian, kapitalisme diasosiasikan dengan farmer yang berciri kota, sementara prakapitalisme diasosiasikan dengan peasant yang berciri desa.


" Contoh Makalah Memahami Komunikasi Antar Budaya + Studi Kasus "