Analisis Perbedaan Komunikasi Budaya Aceh & Maluku - Komunikasi Antar Budaya - Dunia Public Relations

Terbaru

Tuesday, November 1, 2016

Analisis Perbedaan Komunikasi Budaya Aceh & Maluku - Komunikasi Antar Budaya

ANALISIS PERBEDAAN KOMUNIKASI BUDAYA ACEH & MALUKU
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA


BAB I
PENDAHULUAN



01.  Latar Belakang


Budaya merupakan sebuah aspek kompleks yang didalamnya mencakup berbagai tatanan kehidupan seperti hukum, tata cara, adat istiadat, kepercayaan dan juga seni. Budaya juga dipercaya sangat mempengaruhi aspek Kognitif bagi individu di masyarakat, budaya juga mempengaruhi sistem dan skema komunikasi antar individu.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, serta agama yang berbeda-beda. Keanekaragaman tersebut terdapat di berbagai wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan hidup yang berbeda-beda pula. Kebiasaan hidup itu menjadi budaya serta ciri khas suku bangsa tertentu. Demi persatuan dan kesatuan, seharusnya kita menyadari dan menghargai keanekaragaman tersebut sehingga dapat menjadi satu bangsa yang tangguh. Dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, kita jadikan keragaman suku bangsa dan budaya sebagai salah satu modal dasar dalam pembangunan.
                                                  
Keaneka ragaman Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau ini memang memiliki adat dan buaya yang sangat unik seperti 2 kebudayaan yang ingin kami analisis di bawah ini yaitu budaya Aceh dan Budaya Maluku. Kedua kebudayaan ini memiliki sistem tata komunikasi masing-masing dan juga adat atau budaya yang sudah ada dan dipertahankan sejak dahulu kala.

BAB II
PEMBAHASAN


01.  Karakteristik Kebudayaan


Karakterisitik kebudayaan adalah sebuah keistimewaan atau karakteristik dalam satu sistem kesatuan yang kompleks dalam sebuah budaya diamana biasanya berisi seluruh sistem gagasan, hasil karya, serta aktifitas – aktifitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupan.

1.1.Budaya Aceh


Aceh merupakan kota sekaligus kebudayaan yang sangat terpengaruh dengan kebudayaan melayu islam yang mengatur segala tingkah laku dan tata kehidupan mulai dari tatanan hukum dan juga adat istiadat. Jauh sebelum Indonesia berdiri, sejarah masyarakat aceh memang sudah menerapkan syariat islam tepatnya sejak zaman kesultanan islam sudah meresap kedalam diri masyarakat aceh.

Dalam sejarahnya masyarakatr aceh telah menunjukan bagaimana rakyat Aceh menjadikan islam sebagai pedoman dan ulama mendapat tempat yang terhormat. Karena keistimewaan Aceh dengan syariat islamnya menjadikan wilayah ini mendapat penghargaan yang diperjelas dengan adanya undang – undang No. 11 tahun 2006.


1.2.Budaya Maluku


Sementara itu berbeda dengan karakteristik kebudayaan Aceh yang bertumpu pada kebudayaan islam, kebudayaan Masyarakat Maluku ini mempunyai dasar budaya yaitu Kalwedo yang merupakan dasar dari nilai – nilai seosial keseharian dan juga nilai religius (sakral) yang menjamin keselamatan abadi, kedamaian, kebahagiaan hidup bersama sebagai keluarga.

Penerapan nilai – nilai Kalwedo ini oleh masyarakat Maluku dapat dilihat dari sapaan adat kekeluargaan lintas pulau dan negri seperti “Inanara ama yali”  yang berarti saudara perempuan dan laki – laki. Sapaan ini menggambarkan keutamaan hidup dan pusaka kemanusiaan masyarakat Maluku.

02.  Aturan – Aturan Yang Berlaku


2.1.Budaya Aceh


Aceh yang memiliki dasar kebudayaan islam ini memiliki aturan-aturan yang berlaku seperti :
1.      Bagi seorang muslim yang berkunjung ke Aceh diwajibkan memakai pakaian muslim, sopan dan tertutup
2.      Pantangan saat membuka lahan seperti : Peundog Jambo ( Pantangan Mendirikan Gubuk ) , mendirikan gubuk / Jambo di tempat yang biasa dilintasi binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini sebagai sarang mahluk halus dan kayu yang digunakan untuk mendidikan jambo dilarang menggunakan kayu bekas lilitan akar karena diyakini akan didatangi ular.
3.      Pantangan berteriak – teriak atau memangil – manggil orang saat berada di hutan / kebun
4.      Pantangan saat bercocok tanam dalam adat meublang seperti : Dilarang menggantung kain di atas pohon, mematok parang pada tanggul pohon.
5.      Memanjat pohon atau melempar Durian muda
6.      Ada juga larangan untuk petani saat bercocok tanam yaitu tidak boleh memotong kayu saat padi hendak di panen

2.2. Budaya Maluku


Maluku yang masih menganut sistem adat dan kepercayaan dalam sistem tata sosial ini memiliki larangan – larangan seperti :

1.      Tidak boleh berpindah – pindah saat makan
2.      Tidur menggunakan selimut tikar
3.      Berteriak – teriak di dalam hutan
4.      Melakukan foto bersama dalam jumlah yang ganjil
5.      Duduk di depan pintu
6.      Bangun tidur terlalu siang
7.      Mebuang nasi sisa makan
8.      Kebiasaan makan pakai mangkuk

03.  Karakteristik Komunikasi


3.1. Budaya Aceh


Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total penduduk provinsi NAD. Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami kabupaten Aceh Besar, kota Banda Aceh, kabupaten Pidie, kabupaten Aceh Jeumpa, kabupaten Aceh Utara, kabupaten Aceh Timur, kabupaten Aceh Barat dan kota Sabang.

Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di kabupaten Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka.


3.2. Budaya Maluku
Bahasa yang digunakan di Provinsi Maluku adalah Bahasa Ambon, yang merupakan salah satu dari rumpun bahasa Melayu timur yang dikenal sebagai bahasa dagang atau trade language. Bahasa yang dipakai di Maluku terkhusus di Ambon sedikit banyak telah dipengaruhi oleh bahasa-bahasa asing, bahasa-bahasa bangsa penjelajah yang pernah mendatangi, menyambangi, bahkan menduduki dan menjajah negeri/tanah Maluku pada masa lampau. Bangsa-bangsa itu ialah bangsa Spanyol, Portugis, Arab, dan Belanda.

Bahasa Ambon selaku lingua franca di Maluku telah dipahami oleh hampir semua penduduk di wilayah Provinsi Maluku dan umumnya, dipahami juga sedikit-sedikit oleh masyarakat Indonesia Timur lainnya seperti orang Ternate, Manado, Kupang, dll. karena Bahasa Ambon memiliki struktur bahasa yang sangat mirip dengan bahasa-bahasa trade language di wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, serta Nusa Tenggara Timur.

Bahasa Indonesia selaku bahasa resmi dan bahasa persatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi dan formal seperti di kantor-kantor pemerintah dan di sekolah-sekolah serta di tempat-tempat seperti museum, bandara, dan pelabuhan.

Maluku merupakan wilayah kepulauan terbesar di seluruh Indonesia, Provinsi Maluku dan Maluku Utara menyusun sebuah big islands yang dinamai Kepulauan Maluku. Banyaknya pulau yang saling terpisah satu dengan yang lainnya, juga mengakibatkan semakin beragamnya bahasa yang dipergunakan di provinsi ini. 
  

BAB III
PENUTUP

01.  Kesimpulan


Dari hasil analisis kedua kebudayaan ini dapat diambul kesimpulan – kesimpulan sebagai berikut :
       1.Masyarakat aceh adat dan budayanya sangat terpengaruh dengan kebudayaan islam ini dikarenakan zaman dahulu Aceh merupakan pusat perdagangan yang strategis di selat malakan dan kebanyakan para saudagar berasal dari Arab Saudi yang menyebarkan agama islam melalui dagang.
        2.Masyarakat maluku masih menganut adat Kalwedo yang masih dipertahanan sejak Zaman nenek moyang dan menjadi sumber tata kehidupan sehari – hari.
    3.Dari kedua kebudayaan memiliki persamaan “Pamali” atau pantangan untuk tidak berteriak-teriak di dalam hutan
    4.Aceh selain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, untuk berkomunikasi sehari – hari masyarakat Aceh juga masih menggunakan bahasa daerahnya yaitu “Bahasa Aceh’ yang masih aktif digunakan sekitar 70% masyarakat Aceh.
     5.Begitu pula dengan Masyarakat maluku yang menggunakan bahasa daerahnya sendiri yaitu Bahasa Ambon, yang merupakan salah satu dari rumpun bahasa Melayu timur yang dikenal sebagai bahasa dagang atau trade language.
    6.Bahasa yang digunakan Masyarakat ambon banyak terpengaruh oleh bahasa penjajah pada Zaman Kolonial.


" Analisis Perbedaan Komunikasi Budaya Aceh & Maluku "

No comments:

Post a Comment