Makalah Perspektif Teoritis Komunikasi Antar Budaya + Studi Kasus Kaum Rohingya

PERSPEKTIF TEORITIS KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA



A.    TEORI TEORI BERDASARKAN PERPEKTIF KOMUNIASI ANTAR BUDAYA
1. Teori Komunikasi Berdasarkan Analisis Kebudayaan Implisit          
Kebudayaan implisit dalam kebudayaan immaterial, kebudayaan yang bentuknya tidak nampak sebagai benda namun dia “tercantum” atau “tersirat” dalam nilai dan norma budaya suatu masyarakat, misalnya bahasa. Pendekatan kebudayaan implisit mengandung beberapa asumsi yaitu:
1.      Kebudayaan mempengaruhi Skema Kognitif
2.      Kebudayaan mempengaruhi Organisasi Tujuan dan Strategi Tindakan
3.      Kebudayaan mempengaruhi Pengorganisasian Skema Interaksi; dan
4.      Kebudayaan mempengaruhi Proses Komunikasi.

2. Teori Analisis Kaidah Peran      
Dari berbagai penelitian yang dilakukan maka diketahui bahwa telah terjadi beragam variasi penerapan prinsipprinsip teori “Kaidah Peran”. Beberapa isu yang menonjol misalnya:
1.      Apa saja Sifat Dasar yang dimiliki suatu masyarakat ?
2.      Apa yang dimaksudkan dengan Kaidah Peran ?
3.      Apa hubungan antara Aktor dan Kaidah Peran ?
4.      Apakah setiap Kaidah Peran mampu menerangkan atau mengakibatkan perilaku tertentu ?

3. Teori analisis Interaksi antar budaya
Ada beberapa pendektan ilmu komunikasi yang sering digunakan untuk menerangkan interaksi antar budaya, yakni:
1.      Pendekatan Jaringan Metateoritikal.
yaitu studi tentang bagaimana derajat hubungan antar pribadi
2.      Teori Pertukaran.
Inti teori ini mengatakan bahwa hubungan antarpribadi bisa diteruskan dan dihentikan. Makin besar keuntungan yang diperoleh dari hubungan antarpribadi maka makin besar peluang hubungan tersebut diteruskan. Sebaliknya makin kecil keuntungan yang diperoleh, maka makin kecil peluang hubungan tersebut diteruskan.
Teori pengurangan tingkat kepastian Berger (1982) menyatakan bahwa salah satu dari fungsi utama komunikasi adalah fungsi informasi yaitu untuk mengurangi tingkat ketidakpastian komunikator dan komunikan. Setiap individu memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh informasi tertentu tentang pihak lain. Berger merekomendasikan strategi pencarian informasi sebagai berikut :
1.      Mengamati pihak lain secara pasif
2.      Menyelidiki atau menelusuri pihak lain
3.      Menanyakan informasi melalui pihak ketiga
4.      penanganan lingkungan kehidupan pihak lain
5.      Interogasi       
6.      Membuka diri
Ada dua pendekatan dasar dalam studi mengenai budaya:
·         Emic(Emik)
Pendekatan Emic memfokuskan pada pengkajian budaya dari dalam, pada pemahaman budaya ketika anggota-anggota dari budaya memahami kebudyaan mereka.
·         Etic(Etik)
Sebaliknya, pendekatan Etic memfokuskan pada memahami budaya dari luar dengan membandingkan budaya-budaya yang menggunakan karakteristik yang telah ditetapkan sebelumnya.

B.     MAKNA PERSPEKTIF SUBJEKTIF/EMIK
Pada prinsipnya dalam penelitian yang menggunakan perspektif ini maka peneliti “menjadikan dirinya” sebagai bagian dari kebudayaan yang dia teliti atau dengan kata lain, peneliti bertindak sebagai partisipan penuh karena dia masuk dalam suatu struktur budaya tertentu.(Liliweri, 2001:34)
Dalam penelitian berperspektif subjektif ini biasanya peneliti akan menolak masukan variabel kebudayaan lain ke dalam Kebudayaan yang sedang diteliti. Oleh karena itu, para peneliti yang menggunakan perspektif ini kerap kali mendapat kritik karena gambaran yang diberikan tentang kebudayaan yang ditelitinya terlalu sedikit.
Pendekatan subjektif pun sering mengkritik peneliti yang menarik kesimpulan tentang suatu budaya tertentu berdasarkan ukuran-ukuran yang berlaku pada kebudayaan lain.

C.    MAKNA PERSPEKTIF OBJEKTIF/ETIK
Dalam penelitian yang menggunakan perspektif objektif ini seorang peneliti akan menggunakan dua pendekatan kebudayaan yang berbeda terhadap objek tertentu. Penggunaan perbedaan kebudayaan dilakukan untuk menunjukkan dimensi dan variabilitas kebudayaan dan untuk menunjukkan bahwa teori-teori komunikasi antaa budaya tidak dimaksudkan untuk meneliti perbedaan budaya.
Berikut adalah tabel yang dapat memudahkan kita untuk memahami perbedaan perspektif subjektif/emik dengan perspektif objektif/etik dalam komunikasi antar budaya.

D.    STUDI KASUS

KASUS ETNIK ROHINGYA MYANMAR
A.    Latar Belakang
Rohingya adalah etnik atau masyarakat muslim yang tinggal di Myanmar atau tepatnya di Rakhine, mereka bukanlah warga mayoritas dan jumlah mereka hanya sekitar satu juta. Tragedi ini terjadi pada tanhu 2012 tepatnya tanggal 04 juni dimana terjadi sebuah insiden pembuhan sekaligus pemerkosaan seorang gadis beragama Budha yang diketahui dilakukan oleh 3 orang.
Kasus ini semakin melebar dan melibatkan masalah etnik dikarenakan ke 3 pemuda tersebut merupakan warga yang beragama Islam. Kasus ini kemudian berbuntut dengan terbunuhnya 10 warga muslim di dalam bus yang kemudian membuat kasus ini semakin memanas hingga akhirnya kaum Rohingya yang menjadi sasaran dan hingga kini telah tercatat sebanyak 6.000 Rohingya Myanmar telah menjadi korban akibat konflik berkepanjangan ini.
B.     Analisis Kasus Berdasarkan Teori
B.1. Ksus Rohinya dikaji menggunakan Teori Analisis Innteraksi Antar Budaya
 a. Pendekatan Jaringan Metateorikal                  
Teori ini menekankan pada tema hubungan antar pribadi dengan tekanan utama pertentangan atau ketegangan mental akibat individu mempertahankan prinsip otonomi pribadi dengan ketergantungan antar pribadi.
Dari kasus diatas dapat disimpulkan dengan teori bahwa kaum budha myanmar mereka tidak ingin hak-hak otonomi mereka di myanmar terganggu atau bahkan tersingkirkan dan mereka khawatir myanmar nantinya akan menjadi negara berbasis islam karena meskipun mereka merupakan mayoritas di myanamar namun myanmar juga dikelilingi oleh negara-negara islam seperti malaysia, brunai darusalam dan Indonesia.
Sedangkan untuk kaum Rohingya mereka tetap bertahan karena prinsip ketergantungan antar pribadi di Myanmar yang menganggap bahwa myanmar merupakan tempat tinggal nenek moyang mereka yaitu bangsa Indo-Arya.
b. Pendekatan menggunakan Teori Perspektif pertukaran
Teori ini mengungkapkan bahwa suatu hubungan akan terus berlanjut apabila hubungan tersebut membawa benefit atau keuntungan bagi masing-masing pihak dan sebaliknya
Disini pada awalnya kaum Rohingya dan kaum Etnik budha myanmar dahulunya hidup rukun dan harmonis namun setelah terjadi insiden 04 Juni 2012 tersebut Kaum etnik Budha myanmar menganggap bahwa hubungan mereka dengan kaum Rohingya sudah tidak lagi menguntungkan ini dikarenakan kebanyakan kaum Rohingya mayoritasnya merupakan warga miskin yang memberatkan pemerintah sehingga mereka tidak lagi menganggap hubungan mereka sudah tidak lagi menguntungkan dan bahkan memberikan acaman
C.    Problem Solving
a. Menggunakan Pendekatan Etik
Disini kita dapat menggunakan pendekatan dasar tentang studi komunikasi antar budaya yaitu Teori Etik dengan cara mengamati dan membandingkan 2 kebudayaan dalam hal ini adalah Etnik Rohingya dan juga Etnik Budha Myanmar yang memiliki latar belakan kebudayaan berbeda.
Dari teori ini dapat kita teliti Dimensi & Variabilitas dari masing masing budaya seperti Variabilitas sifat dasar dari masing masing kebudayaan untuk kemudian di bandingkan dan dicarikan solusi.
b. Menggunakan Pendekatan Emik
Disini peneliti ataupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden bisa turun langsung dengan mengamati 2 kebudayaan tersebut dan kemudian dicarikan solusi.
c. Menggunakan teori Kaidah & Peran
Pencarian solusi yang ke 3 adalah dengan menggunakan menggunakan gabungan antara Teori Kaidah Peran dan juga Teori Pendekatan Budaya antara Tepori Emik dan Etik disini peneliti bisa memilih metode Emok ataupun Etik kemudian mencoba menjawab berbagai pertanyaan sesuai dengan teori kaidah dan peran yaitu
·         Apa sifat dasar masyarakat atau etnik tersebut? Dalam hal ini adalah Etnik Hindu Myanmar dan juga Kaum Rohingya
·         Apa yang dimaksudkan dengan kaidah peran? Dalam hal ini peneliti bisa mencari tau kaidah dan peran-peran yang selama ini berjalan di kedua kebudayaan tersebut, apakah kaidah dan peran dari kedua kebudayaan tersebut sudah berjalan sebagaimana mestinya?
·         Apakah setiap kaidah peran tersebut mampu mengakibatkan kebudayaan perliaku tertentu? Disini peneliti dapat mencari tahu kaidah peran dari kedua kebudayaan tersebut dan sejauh mana pengaruhnya.


D.    Kesimpulan
Dari tragedi Rohingya tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Persepektif individu dari masing-masing kebudayaan memiliki perbedaan pandangan yang dipengarunhi oleh berbagai variabilitas seperti sifat dasar dari kebudayaan dan juga persepsi masing-masing budaya yang menganggap budaya lainya tidak lagi sebagai teman melainkan sebagai musuh ataupun sesuatu yang justru mengancam keberadaan masing-masing pihak.

Hal ini tentunya dapat mengakibatkan sebuah Disintegrasi sebuah negara, organisasi maupun kesatuan. Jadi sebuah toleransi antar umat harusnya terus dipertebal sehinggaterciptalah sebuah kesatuan yang harmonis diatas perbedaan.