Makalh Etik Profesi Public Relations Tantangan Menjadi PR & Sosok PR Profesional - Dunia Public Relations

Terbaru

Monday, October 17, 2016

Makalh Etik Profesi Public Relations Tantangan Menjadi PR & Sosok PR Profesional

MKALAH ETIK PROFESI PUBLIC RELATIONS TANTANGAN MENJADI PR &
SOSOK PR PROFESIONAL


ETIK PROFESI

A.    Latar belakang

Dalam sebuah perusahaan, peran seorang Public Relations sangatlah penting terutama dalam membina hubungan baik dengan para stakeholder. Para staf PR dituntut untuk lebih mampu menjadikan orang lain memahami sesuatu pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga atau perusahaan yang diwakilinya. Maka dari itu, PR harus memiliki keahlian berkomunikasi dengan baik dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi. Seorang PR juga dituntut untuk memiliki standar kompetensi yang memadai. Selain itu seorang PR juga harus professional dalam menjalankan tugasnya.

Dengan keahlian yang dimilikinya maka public relations kini menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Seorang jurnalis, Ivy Ledbetter Lee, membentuk biro konsultasi Public Relations pertama di Amerika Serikat. Setelah kemunculan biro konsultasi yang dibentuk oleh Ivy tersebut, kebutuhan akan Public Relations semakin membesar pada dekade 1920-an dan 1930-an bahkan hingga saat ini.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dikaji mengenai profesi Public Relations. Untuk itu penyusun membuat paper ini untuk memberikan sedikit gambaran dan penjelasan mengenai profesi dan standar kompetensi Public Relations.

B.     Profesi seorang Pubic Relations

Profesi Public Relations merupakan posisi yang sangat sentral dalam sebuah organisasi maupun perusahaan. Public Relations memegang peran yang sangat penting dalam menumbuhkan ikatan emosional yang baik dalam hubungan internal perusahaan antara atasan dengan bawahan. Seorang Public Relations juga berperan dalam menanamkan rasa kepercayaan dan loyalitas antara perusahaan dengan publiknya, baik publik internal dan publik eksternal. tugas utama seorang Public Relations antara lain :
·         Menjadi Media Penyalur Informasi
seorang Public Relations harus aktif dalam memberikan informasi Perusahaan kepada seluruh publik maupun stakeholder yang ada. Tujuan Public Relations sebagai media penyalur informasi adalah untuk mensinergikan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan serta membangun rasa saling pengertian melalui komunikasi yang efektif dan terarah.


·         Mengelola Opini Publik yang baik.
Mengelola opini publik yang positif juga menjadi hal utama yang harus dikerjakan oleh Public Relations. Pengelolaan opini publik ini akan berpengaruh pada citra dan reputasi dari perusahaan. Proses pembentukan opini publik yang baik, berawal dari kepercayaan publik terhadap Perusahaan tersebut.
·         Menjadi Interpreter atau Penterjemah keinginan Publik.
seorang Public Relations harus dapat mendengar, melihat, dan merasakan apa yang terjadi dikalangan publik, setelah mereka menerima informasi tentang kebijakan-kebijakan perusahaan atau organisasi. Seorang Public Relations harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan publiknya.

C.    Tantangan seorang Public Relations

·         Pertumbuhan Teknologi Komunikasi
Tak bisa dipungkiri, pertumbuhan Teknologi Komunikasi yang semakin pesat, menjadi tantangan tersendiri bagi seorang Public Relations. Pertumbuhan Teknologi Komunikasi ini berdampak pada penyebaran informasi baru yang semakin cepat dan luas. Seorang Public Relations harus mampu beradaptasi sekaligus mengaplikasikan budaya baru berbasis digital dan virtual yang semakin lama semakin berkembang.
·         Pengaruh Media Massa
Media Massa memiliki kemampuan untuk membangun citra di benak publik serta mampu membentuk pendapat dan persepsi mereka. Media melalui isi pesan melaksanakan strategi pembingkaian, yang menyoroti aspek-aspek tertentu dan mengabaikan aspek-aspek lain dalam memandang kenyataan. Public Relations harus bisa mengimbangi berita-berita yang muncul ke permukaan publik dan memberikan edukasi tentang perusahaan, apabila berita yang diberitakan oleh media telah menyudutkan dan merugikan Perusahaan.
·         Tingkat pendidikan, kelas sosial, demografi dari khalayak yang berbeda.
Keinginan publik yang semakin beragam, serta banyaknya permintaan-permintaan publik yang belum bisa dipenuhi oleh perusahaan, juga menjadi tantangan bagi seorang Public Relations. Public Relations harus mampu menyeragamkan informasi untuk publiknya, dengan memberikan edukasi, program-program Public Relations, serta tanggung jawab sosial yang baik agar bisa mendapatkan kepercayaan dari public.

D.    Referensi Sosok Public relations Profesional


“Teddy Arifianto, Sosok PR di Balik Sukses Mini Drama AADC”

“Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta? Detik tidak pernah melangkah mundur. Tapi, kertas putih itu selalu ada. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Dan, hari tidak pernah terulang. Tetapi, panji selalu menawarkan cerita yang baru. Untuk pertanyaan yang belum sempat terjawab. Love, life, LINE.”

Sepenggal kalimat di atas kini tengah populer dan menjadi bagian dari mini film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang disebar oleh LINE Indonesia, dalam rangkaian edukasi  fitur terbaru Find Alumni. Berkat strategi Public Relations dan Build in Branding yang diterapkannya bersama dengan tim, viral AADC versi LINE mampu menjaring viewers di Youtube hingga lebih dari 1 juta viewers di hari peluncuran pada Jumat (7/11/2014). Bahkan angka tersebut terus meningkat hingga menembus angka lebih dari 3 juta viewers.

Salah satu sosok dalam keberhasilan kampanye tersebut adalah Teddy Arifianto, Team Leader Public Relations LINE Indonesia. Bagi Teddy, keberhasilan kampanye ini tidak sebatas kesuksesan pribadi tapi juga tim. “Selain mini film yang booming, pengguna fitur Find Alumni juga mengalami peningkatan hingga 700%.”

Teddy merupakan sosok professional Public Relations yang sangat passionate terhadap apa yang dikerjakannya. Memegang prinsip “if you are PR you have to be 24 hour PR”, Teddy menggangap pekerjaannya adalah bagian dari hidup yang ia nikmati. Bahkan, ia juga berteman dengan media serta lingkungannya. “Bonusnya adalah in term of media relation is networking, jadi kita punya banyak teman,” katanya.

Menurutnya, fungsi seorang PR itu adalah supporting team management secara keseluruhan. Oleh karena itu, sebagai PR, ia harus memahami seluruh kegiatan yang ada di perusahaan. “Jadi, saat ditanya oleh media atau pihak lain, tidak ada jawaban tidak tahu. Kita harus menguasai apapun tentang perusahaan dimana kita bekerja, karena itu adalah pondasinya,” papar Teddy.

Melirik rekam jejak karir profesional Teddy, pria kelahiran 1979 ini sejatinya memiliki passion kuat di bidang komunikasi. Pernah menjadi wartawan cetak dan televisi, Teddy sempat juga bekerja di JobsDB Indonesia.

Memiliki spesialisasi di media relation, strategic communication, public relation dan creative thinker, pria bergelar MM Komunikasi dari Universitas Trisakti tahun 2012 ini sebelumnya telah lama berkiprah di agensi komunikasi dengan bergabung bersama IPM Public Relation untuk pos Marcomm Senior Account Manager selama lebih dari tujuh tahun (2005 – 2012). Setelah itu, ia mencoba peruntungannya bersama dengan Fleishman Hillard sebagai Senior Account Manager (Mei 2012 – Februari 2014).

Namun, Teddy  rupanya tak kuasa membendung rasa penasaran untuk bergabung dengan salah satu perusahaan instan messanger besar asal Jepang, LINE, hingga akhirnya ia berlabuh ke LINE Indonesia per Mei 2014 sebagai Team Leader Public Relation LINE Indonesia.

E.     Standar profesi Public Relations

Tim inti Penyusunan Standar Kompetensi PR Indonesia (kerjasama PERHUMAS dan BAKOHUMAS) telah menyusun beberapa pokok pikiran tentang Standar Kompetensi PR Umum, Inti dan Khusus yang terdiri dari Pertama, keterampilan komunikasi ( communication skills) yang terdiri dari komunikasi lisan dan komunikasi tulisan. Kedua, keterampilan teknik kehumasan. Ketiga, kompetensi inti manajemen issue dan penelitian (research). Keempat, managerial, leadership dan ethic. Kelima, keterampilan khusus di bidang IT dan kemampuan berbahasa. Selain kelima standar kompetensi tersebut, adapun beberapa persyaratan mendasar bagi profesi public relations, antara lain :

Ø  Ability to communicate (kemampuan berkomunikasi)

Kemampuan berkomunikasi bagi seorang PR sangatlah penting. Komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam bentuk lisan, yakni ia harus mampu berbicara di depan umum, harus mampu melakukan presentasi, mampu mewawancarai dalam upaya mengumpulkan fakta dan data, dan diwawancarai pers atau wartawan sebagai sumber berita dan kemampuan berkomunikasi lisan lainnya.
Dalam komunikasi tulisan harus mampu membuat press release untuk dikirim ke media massa, membuat artikel dan feature untuk house jurnal yang akan diterbitkan perusahaan, menulis laporan, membuat naskah pidato untuk manajemen, menulis konsep iklan layanan masyarakat, menulis brosur dan selebaran dan bentuk komunikasi tulisan lainnnya.


Ø  Ability to organize (kemampuan manajerial atau kepemimpinan)

Kemampuan manajerial atau kepemimpinan seorang PR dapat diartikan sebagai kemampuan mengantisipasi masalah di dalam maupun luar organisasi, termasuk kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan dan melaksanakannya. Seorang PR diharapkan mampu mengorganisasikan kegiatan PR. Profesi PR harus mampu berpikir jernih dan obyektif.
Selain itu seorang PR harus mampu bergaul atau membina relasi artinya harus mampu berhubungan dan bekerjasama dengan berbagai macam orang dan mampu menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang yang berbeda, termasuk dengan orang –orang dari berbagai tingkatan.

Ø  Ability on get the with people (kemampuan bergaul atau membina relasi)

Setiap orang yang berprofesi PR harus selalu memperluas jaringan atau networking sehingga dapat memperlancar tugasnya sebagai pejabat PR. Personal Aproaching (pendekatan personal) harus dilakukan seorang profesi PR, kendati tetap dalam koridor mempertahankan integritas profesi masing-masing.
Seorang PR yang handal sangat luas pergaulannya, bahkan banyak dikenal orang, dan seringkali seorang PR menjadi newsmaker atau pembuat berita di surat kabar, majalah atau televisi. Kurang pergaulan bagi seorang PR menjadi kartu mati bagi berkembangnya karir dirinya.

Ø  Personality integrity (memiliki kepribadian yang utuh dan jujur)

Kepribadian yang utuh dan jujur artinya seorang PR harus memiliki kredibilitas yang tinggi, yakni dapat diandalkan dan dipercaya oleh orang lain, dan dapat diterima sebagai yang memiliki kepribadian utuh dan jujur. Sebagai seorang PR yang menjadi sumber berita bagi pers atau media massa, informasi yang disampaikan dapat dipercaya dan memiliki nilai berita tinggi. Dalam melakukan kegiatan PR selalu menerapkan etika profesi PR yang berlaku. Sehingga tidak menimbulkan misinformasi, miskomunikasi atau mispengertian. Hubungan yang terjadi pada publiknya tercapai mutual understanding ( saling pengertian).

Ø  Imagination (banyak ide dan kreatif)

Memiliki imajinasi (banyak ide dan kreatif) dalam pengertian seorang PR harus memiliki wawasan yang luas, permasalahan serumit apapun harus diketahui benang merah persoalannya.
Berpikir kreatif dituntut bagi seorang PR, artinya seringkali dalam mengambil tindakan cukup diplomatis dalam penyampaian. Seorang PR harus tetap mengasah kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan PR lainnya, karena tugas PR semakin hari semakin berat, ditengah masyarakat yang semakin kritis, perkembangan teknologi informasi semakin pesat, persaingan perusahaan semakin tajam dan perusahaan selalu bersentuhan dengan pers atau media massa sebagai pembentuk opini public.

 F.     Kesimpulan


Berdasarkan penjelasan diatas maka penyusun menarik kesimpulan bahwa profesi Public Relations merupakan posisi yang sangat sentral dalam sebuah organisasi maupun perusahaan. Public Relations memegang peran yang sangat penting dalam menumbuhkan ikatan emosional yang baik dalam hubungan internal perusahaan antara atasan dengan bawahan. 

Seorang Public Relations juga berperan dalam menanamkan rasa kepercayaan dan loyalitas antara perusahaan dengan publiknya, baik publik internal dan publik eksternal. Dan di setiap kegiatannya pula seorang PR memiliki banyak kendala maupun tantangan. Untuk itu seorang PR harus memiliki standar kompetensi yang memadai baik melalui pendidikan maupun dari dalam diri sendiri seperti yang telah ditentukan oleh Tim inti Penyusunan Standar Kompetensi PR Indonesia. ( Tegar Trisna Bimbiana | 2016 )

No comments:

Post a Comment